Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Isu BBM Naik, SPBU Langsung Diserbu: Belum Resmi, Tapi Tangki Sudah Penuh Duluan

Hernindya Jalu Aditya Mahardika • Selasa, 31 Maret 2026 | 17:47 WIB
Isu kenaikan harga BBM per 1 April 2026 memicu lonjakan pembelian di SPBU Kartasura hingga dua kali lipat, meski belum ada pengumuman resmi. (HERNINDYA JALU ADITYA MAHARDIKA/SOLOBALAPAN.COM)
Isu kenaikan harga BBM per 1 April 2026 memicu lonjakan pembelian di SPBU Kartasura hingga dua kali lipat, meski belum ada pengumuman resmi. (HERNINDYA JALU ADITYA MAHARDIKA/SOLOBALAPAN.COM)

 

SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Belum ada pengumuman resmi, tapi antrean sudah seperti hari terakhir diskon besar-besaran.

Isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang disebut-sebut mulai berlaku 1 April 2026 sukses membuat sebagian masyarakat “gercep” mengamankan isi tangki lebih dulu.

Kabar yang beredar luas di media sosial itu langsung berdampak di lapangan. Sejumlah SPBU, termasuk di wilayah Kartasura, mendadak lebih ramai dari biasanya. Bukan karena promo, tapi karena rasa khawatir yang datang lebih cepat dari kepastian.

Baca Juga: Hasil SNBP 2026 Diumumkan Hari Ini, Cek Link Resmi dan 42 Link Mirror PTN untuk Lihat Status Kelulusanmu!

Supervisor SPBU Pertamina 44.575.11 di Jalan Slamet Riyadi Kartasura, Tutur, mengakui memang ada peningkatan konsumsi BBM dalam sepekan terakhir. 

Meski begitu, ia menilai lonjakan tersebut masih dalam batas wajar—setidaknya jika dibandingkan dengan momen mudik dan arus balik Lebaran yang memang selalu jadi “langganan ramai”.

“Kita di hari biasa dan kebetulan dalam satu minggu terakhir ada arus mudik dan arus balik. Memang ada lonjakan, tapi tidak banyak dan masih sedikit berbeda dengan hari biasa,” ujarnya, Selasa (31/3).

Namun, kalau bicara momen tertentu, ceritanya sedikit berbeda. Saat isu kenaikan BBM makin kencang beredar, reaksi masyarakat pun ikut “naik level”.

“Kalau untuk hari ini, lonjakannya tadi pagi sampai siang hampir 100 persen,” tambahnya.

Baca Juga: Kevin Diks Jadi Sasaran Amarah Netizen Usai Blunder Penalti di Final FIFA Series 2026 Lawan Bulgaria, Ternyata Ini Statistik Bek Bundesliga

Ya, hampir dua kali lipat. Cukup untuk membuktikan bahwa kabar yang belum tentu benar pun bisa lebih cepat dipercaya daripada pengumuman resmi.

Padahal, menurut Tutur, hingga saat ini belum ada informasi resmi dari pihak Pertamina terkait kenaikan harga BBM. Biasanya, pengumuman baru dirilis sekitar pukul 22.00, lalu berlaku pada pukul 00.00 di pergantian hari. Tapi tampaknya, sebagian masyarakat memilih tidak menunggu—siapa cepat, dia dapat harga lama.

Fenomena ini menunjukkan satu hal: kekuatan “katanya” memang tidak bisa diremehkan.

Meski begitu, pihak SPBU tetap melayani konsumen seperti biasa tanpa kebijakan khusus. Tidak ada pembatasan tambahan atau perlakuan berbeda, meski volume kendaraan meningkat dalam waktu singkat.

Untungnya, sistem barcode untuk pembelian BBM bersubsidi masih jadi “penjaga gawang” distribusi. Dengan sistem ini, setidaknya potensi penumpukan berlebihan bisa ditekan, sehingga tidak semua orang bisa seenaknya “borong sebelum terlambat”.

Di sisi lain, isu kenaikan BBM ini bukan sekadar soal antrean panjang. Bagi sebagian orang, terutama pekerja sektor informal, dampaknya jauh lebih terasa.

Muhammad Irvan, seorang kurir berbasis aplikasi, mengaku cukup waswas dengan kemungkinan kenaikan harga BBM. Baginya, bahan bakar bukan sekadar kebutuhan, tapi penentu utama apakah hari itu masih bisa untung atau justru nombok.

Baca Juga: April Mencekam! Persis Solo Berada di Bibir Jurang Degradasi, Milomir Seslija: Pemain Harus Beri 110 Persen!

“Sangat menyusahkan bagi kami para pejuang aplikasi, terutama driver kurir,” ujarnya.

Dalam sehari, Irvan bisa menghabiskan minimal 3 liter BBM, bahkan lebih saat order sedang ramai. Dengan penggunaan BBM nonsubsidi seperti Pertamax, kenaikan harga jelas akan langsung memangkas pendapatan bersih.

“Kalau lagi ramai order, kebutuhan bensin bisa lebih banyak. Tapi minimal itu sekitar 3 liter per hari,” jelasnya.

Masalahnya, kenaikan biaya operasional ini tidak selalu diikuti dengan kenaikan tarif jasa. Akibatnya, para kurir harus putar otak—memilih order yang lebih menguntungkan atau menerima risiko pendapatan yang makin menipis.

“Pengaruhnya jelas besar. Pengeluaran naik, tapi pendapatan belum tentu ikut naik. Akhirnya yang terasa, pendapatan bersih jadi berkurang,” tandasnya.

Jadi, di tengah antrean panjang dan tangki yang buru-buru diisi penuh, ada satu hal yang patut dicatat: kadang yang bikin panik bukan keputusan resmi, tapi kabar yang belum tentu pasti. (hj/an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#pengumuman resmi #spbu pertamina #kenaikan harga bbm #kenaikan harga #BBM Nasional