Berita Utama Ekonomi Entertainment Kesehatan Lifestyle Ngabuburit Otomotif Persis Solo Sepak Bola Solo Raya Sport Sriwedaren Teknologi Tempoe Doeloe Wisata & Kuliner Wisata dan Kuliner

Hadapi Kemarau 2026, Sukoharjo Revitalisasi Dam Cendono dan Siapkan Mitigasi Air

Iwan Kawul • 2026-03-27 12:51:15
Sukoharjo mulai mitigasi kemarau 2026 dengan revitalisasi Dam Cendono, pengecekan pompa air, dan antisipasi kekeringan sesuai prediksi BMKG. (ILUSTRASI)
Sukoharjo mulai mitigasi kemarau 2026 dengan revitalisasi Dam Cendono, pengecekan pompa air, dan antisipasi kekeringan sesuai prediksi BMKG. (ILUSTRASI)

 SUKOHARJO, SOLOBALAPAN.COM – Mengantisipasi potensi musim kemarau panjang pada 2026, Pemerintah Kabupaten Sukoharjo melalui Dinas Pertanian dan Perikanan (Distankan) mulai melakukan langkah mitigasi sejak dini.

Salah satu upaya utama yang dilakukan adalah rencana revitalisasi Dam Cendono di Desa Gentan, Kecamatan Bendosari.

Kepala Distankan Sukoharjo, Bagas Windaryatno, mengatakan langkah tersebut difokuskan untuk menjaga kelancaran distribusi air irigasi, terutama saat debit air mulai menurun pada musim kemarau.

Baca Juga: Mengenal Saint Kitts and Nevis: Calon Lawan Timnas Indonesia yang Ingin 'Rusak Pesta' di GBK!

“Dam Cendono yang berada di Desa Gentan akan kita revitalisasi dengan pengerukan. Mulai dari bagian hulu hingga jaringan irigasi ke hilir akan kita benahi agar distribusi air tetap lancar,” ujarnya, Jumat (27/3).

Menurutnya, aliran irigasi dari Dam Cendono mengairi tiga desa, yakni Desa Gentan dan Sidorejo di Kecamatan Bendosari serta Desa Pandean di Kecamatan Grogol.

Tanpa perbaikan, sedimentasi di saluran irigasi berpotensi menghambat aliran air saat musim kemarau.

Revitalisasi ini telah disepakati bersama dan akan mendapat dukungan dari Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo berupa bantuan alat berat untuk mempercepat pengerjaan.

Baca Juga: Cetak Sejarah di Brasil! Ayah Veda Ega Pratama Bongkar Rahasia Sang Anak Tembus Podium Moto3: Bukan Sekadar Bakat!

“Dalam waktu dekat akan dilakukan survei, kemudian segera dieksekusi. Harapannya, titik-titik rawan bisa kita antisipasi sejak awal secara bertahap dan konsisten,” jelasnya.

Selain pembenahan infrastruktur irigasi, Distankan juga melakukan mitigasi di wilayah sumber air, khususnya di Kecamatan Bendosari dan Grogol. Para koordinator penyuluh pertanian diminta melakukan pengecekan menyeluruh terhadap sarana pendukung distribusi air.

“Kami minta dilakukan pengecekan pompa air, baik dari sumber air permukaan seperti sungai dan embung, maupun sumur dalam. Jangan sampai saat dibutuhkan justru mengalami kendala,” tegas Bagas.

Pengecekan tersebut juga mencakup jaringan irigasi perpipaan serta koordinasi dengan kelompok tani (poktan) dan gabungan kelompok tani (gapoktan) untuk memastikan seluruh sarana siap digunakan.

Di sisi lain, Distankan turut mendorong petani untuk mulai merencanakan musim tanam berikutnya dengan mempertimbangkan penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan.

“Kami arahkan agar petani memilih varietas yang lebih tahan kering. Ini penting untuk menjaga produktivitas pertanian di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu,” imbuhnya.

Bagas menegaskan, pihaknya akan terus melakukan identifikasi dan mitigasi harian terhadap berbagai potensi gangguan produksi pertanian.

Baca Juga: Sukoharjo Jadi Jalur Favorit Mudik, 300 Ribu Kendaraan Melintas Selama Lebaran 2026

Langkah ini sejalan dengan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika yang menyebutkan musim kemarau 2026 akan datang lebih awal dan cenderung lebih kering. Kondisi tersebut diperkirakan mulai terjadi sejak April dan mencapai puncaknya pada Agustus 2026.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sukoharjo, Ariyanto Mulyatmojo, menyampaikan bahwa wilayah Sukoharjo diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada dasarian kedua April.

“Untuk Sukoharjo, kemarau diperkirakan mulai masuk pada April dasarian kedua. Kami sudah mulai melakukan langkah antisipasi,” ujarnya.

Melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sukoharjo, pemerintah juga menyiapkan sejumlah langkah mitigasi tambahan, seperti distribusi bantuan air bersih serta pembangunan sumur dalam di wilayah rawan kekeringan, antara lain Kecamatan Bulu, Tawangsari, dan Weru.

Masyarakat pun diimbau untuk mulai menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan yang diperkirakan berlangsung lebih panjang tahun ini.

“Dengan kondisi kemarau yang lebih kering, kami minta masyarakat lebih bijak dalam penggunaan air dan segera melapor jika mengalami kesulitan air bersih,” tandasnya.

(kwl/an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#mitigasi #dam cendono #Kepala Distankan Sukoharjo #kemarau panjang #Irigasi Colo Timur #irigasi #sukoharjo #dam colo #revitalisasi