SURAKARTA, SOLOBALAPAN.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung mahasiswa berprestasi dari berbagai jalur pendidikan.
Apresiasi itu menguat setelah mahasiswa semester satu Program Studi Pendidikan Jasmani (Penjas) FKIP UMS, Tito Hendra Septa Kurnia Wijaya, berhasil meraih medali emas cabang pencak silat putra kelas E (65–70 kg) pada ajang SEA Games 2025 di Thailand.
Tito merupakan mahasiswa jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), skema yang memungkinkan atlet atau praktisi dengan pengalaman profesional memperoleh pengakuan akademik.
Atas capaian internasional tersebut, ia juga menerima bonus prestasi Rp1 miliar dari Kementerian Pemuda dan Olahraga atas arahan Presiden RI. Bonus diberikan penuh karena diraih pada nomor perorangan.
Wakil Rektor I UMS, Prof. Ihwan Susila, menyebut prestasi Tito sebagai kejutan membanggakan bagi kampus.
“Kami cukup surprise karena mahasiswa baru kami ternyata memiliki talenta luar biasa hingga mampu meraih medali emas di ajang internasional. Capaian ini kami harapkan dapat menginspirasi calon mahasiswa berprestasi untuk bergabung dengan UMS,” ujarnya, Kamis (5/2).
Menurut Ihwan, kebijakan RPL menjadi pintu strategis bagi atlet yang sulit menempuh jalur kuliah reguler karena aktivitas pelatihan nasional.
“Talenta hebat yang lebih banyak berkiprah di luar kampus tetap bisa melanjutkan studi melalui RPL. Prestasi mereka selama di Pelatnas dapat direkognisi menjadi bagian dari capaian akademik,” jelasnya.
Momentum Kebijakan Afirmatif
Apresiasi serupa disampaikan Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan FKIP UMS, Nur Subekti, Ia menilai prestasi Tito menjadi momentum penting untuk merumuskan kebijakan afirmatif, khususnya bagi mahasiswa jalur RPL.
“UMS tidak membedakan asal jalur masuk, tetapi fokus pada prestasi dan potensi mahasiswa. Insyaallah ke depan mahasiswa RPL juga bisa mendapatkan beasiswa penuh,” tegasnya.
Selama ini, skema beasiswa prestasi reguler di UMS memberikan potongan biaya hingga 50 persen. Namun, capaian tingkat internasional seperti yang diraih Tito membuka peluang peningkatan dukungan hingga pembebasan biaya studi secara penuh.
Bekti menambahkan bahwa keberhasilan tersebut menjadi bukti ekosistem pembinaan olahraga di UMS berjalan baik.
“Ini bukan hanya kebanggaan bagi satu mahasiswa, tetapi motivasi bagi yang lain. Kami ingin UMS dikenal sebagai kampus yang memfasilitasi prestasi, baik dari jalur reguler, prestasi, maupun RPL,” pungkasnya.
Prestasi Tito diharapkan mendorong semakin banyak atlet dan talenta unggul untuk melanjutkan pendidikan tinggi tanpa harus meninggalkan karier olahraga.
UMS pun menegaskan posisinya sebagai kampus yang menyeimbangkan pengembangan akademik dan non-akademik secara berkelanjutan. (an)
Editor : Andi Aris Widiyanto