KARANGANYAR, SOLOBALAPAN.COM – Baru juga seumur jagung, Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karanganyar Jaten yang digadang-gadang menjadi tulang punggung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah angkat tangan.
Mulai 2 Februari 2026, operasional dapur dihentikan sementara—bukan karena menu kehabisan ide, melainkan karena dana dari pusat belum juga mendarat.
Kabar “libur memasak” ini disampaikan resmi melalui surat kepada TPK dan kader posyandu. Padahal, SPPG di bawah Badan Gizi Nasional (BGN) tersebut belum lama berdiri. Alih-alih menjadi solusi gizi, dapur ini justru lebih cepat menghasilkan drama administrasi.
Dalam surat bernomor 04.002/SPPG.JTN/II/2026 yang ditandatangani Kepala SPPG Karanganyar Jaten, Fabian Handy Saputra, dijelaskan bahwa keran operasional terpaksa ditutup karena pencairan dana bantuan pemerintah belum turun. Tanpa duit, tentu tak ada nasi, lauk, apalagi susu.
Bahasa suratnya halus: kegiatan produksi dan distribusi “belum dapat dilaksanakan secara optimal.” Terjemahan bebasnya: dapur kehabisan bensin sebelum kompor sempat panas.
Baru Jalan, Sudah Rem Darurat
PJ Kepala Desa Jaten, Andy Almaududi, membenarkan kabar tersebut. Menurutnya, sejak awal SPPG memang baru fokus melayani peserta didik, sementara layanan untuk ibu hamil dan menyusui masih sekelas tester.
“Untuk ibu hamil dan menyusui itu baru berjalan dua kali, kemudian ada pemberhentian sementara,” ujarnya.
Andy tak menutup-nutupi sumber masalah. Penyakitnya klasik, kambuh lagi: transfer pusat yang tak kunjung datang.
“Info yang kami terima karena belum ada dana transfer dari pemerintah pusat,” imbuhnya.
Jadi begini wajah program strategis: semangatnya nasional, pelaksanaannya lokal, tapi napasnya menunggu sinyal dari pusat. Begitu sinyal hilang, sendok pun ikut tergeletak.
Sementara yang Entah Sampai Kapan
Pihak SPPG menegaskan penghentian ini hanya sementara. Operasional akan kembali normal setelah dana cair dan kondisi memungkinkan.
Kalimat yang terdengar optimistis, meski pengalaman sering mengajarkan bahwa kata “sementara” di negeri ini bisa elastis sepanjang karet kolor.
Program MBG sejatinya dirancang mulia: memenuhi gizi peserta didik, balita, ibu hamil, dan menyusui. Namun realitas di Jaten menunjukkan bahwa urusan gizi bukan cuma soal lauk empat sehat lima sempurna, tapi juga soal administrasi yang—lagi-lagi—belum matang.
Alhasil, anak-anak dan ibu hamil harus menunda mimpi makan bergizi gratis. Sementara dapur yang baru dibanggakan itu mendadak lebih mirip monumen janji: megah di spanduk, sepi di panci. (rud/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto