SOLOBALAPAN.COM, SOLO – Masalah anak susah makan atau Gerakan Tutup Mulut (GTM) masih menjadi momok menakutkan bagi banyak orang tua di Indonesia.
Menjawab keresahan tersebut, dokter anak sekaligus edukator kesehatan nasional, dr. M.N. Ardi Santoso, Sp.A, M.Kes, menekankan pentingnya pendekatan ilmiah dan berbasis data, termasuk menyoroti aspek genetik.
Hal tersebut disampaikan dr. Ardi dalam acara Parenting Class nasional bertajuk "Dari ASI hingga Genetik: Cara Baru Memahami dan Mengatasi Anak Susah Makan" yang digelar di Alila Hotel Solo, Minggu (1/2/2026).
Bukan Sekadar Masalah Kemauan Anak
Dalam sesi utama yang berjudul "Harapan di Ujung Sendok: Pendekatan Genetik pada Anak Susah Makan", dr. Ardi membuka wawasan para orang tua bahwa penolakan makan pada anak adalah masalah kompleks.
Baca Juga: UMS Berangkatkan Relawan Psikososial Dampingi Korban Banjir Aceh Tamiang
Ia mengulas integrasi antara ASI, nutrisi, perilaku makan, dan faktor genetik sebagai kunci memahami variasi respons anak terhadap makanan.
Menurut dokter yang berpraktik di Klinik Utama Kasih Ibu Sehati (KUKIS) Solo ini, orang tua sering kali terjebak pada anggapan bahwa anak susah makan hanya karena mereka "nakal" atau "pemilih".
"Anak susah makan bukan semata soal ‘mau atau tidak mau’. Ada faktor biologis, genetik, dan lingkungan yang harus dipahami bersama," tegas dr. Ardi.
Pentingnya pemahaman ini ditekankan dr. Ardi melalui beberapa poin kunci:
-
Faktor Biologis & Genetik: Memengaruhi selera dan respons tubuh anak terhadap tekstur atau rasa tertentu.
-
Bahaya Jalan Pintas: Edukasi yang salah bisa membuat orang tua melakukan pemaksaan (coercive feeding) yang justru memicu trauma dan gangguan tumbuh kembang jangka panjang.
-
Pendekatan Sains: Mengajak orang tua untuk lebih rasional dan kritis, tidak sekadar mengikuti mitos turun-temurun.
Sosok Dokter Influencer dan Pegiat Kemanusiaan
Selain dikenal sebagai dokter anak dengan jutaan pengikut di media sosial, dr. Ardi juga merupakan sosok yang aktif dalam kegiatan kemanusiaan.
Konsistensinya dalam menggabungkan praktik klinis, edukasi publik, dan aksi sosial menjadikannya figur berpengaruh dalam isu kesehatan anak.
Rekam jejak kemanusiaan dr. Ardi antara lain:
-
Terlibat aktif dalam misi bantuan bencana di Sumatera.
-
Melakukan advokasi kemanusiaan untuk konflik di Palestina.
-
Turut serta dalam misi kemanusiaan untuk Sudan.
Membangun Literasi Kesehatan Keluarga
Acara Parenting Class yang diselenggarakan secara offline dan online ini terbuka untuk masyarakat luas.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dr. Ardi untuk membangun literasi kesehatan keluarga Indonesia agar lebih berorientasi pada kepentingan terbaik anak.
"Edukasi yang tepat akan mencegah orang tua mengambil jalan pintas yang justru merugikan anak," pungkasnya, mengingatkan pentingnya kesabaran dan ilmu dalam mendampingi tumbuh kembang si kecil. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo