SOLOBALAPAN.COM - Di sebuah sudut tenang Desa Jungkare, Kecamatan Karanganom, Klaten, berdiri sebuah rumah sederhana yang tak pernah sepi dari langkah orang mencari harapan.
Dari rumah itulah Titik Budi Rahayu (48)—akrab disapa Titik Tiwuk—menaburkan kasih bagi mereka yang tak lagi memiliki sandaran hidup.
Bagi banyak orang, rumah itu mungkin tampak biasa. Namun bagi para pasien ODGJ, penyintas stroke, hingga penderita kanker stadium berat, tempat tersebut adalah pelabuhan terakhir.
Di sanalah mereka dimandikan, disuapi, dibersihkan lukanya, dan diperlakukan sebagai manusia seutuhnya—sesuatu yang kerap tak lagi mereka dapatkan di luar sana.
Semua dilakukan Titik tanpa imbalan sepeser pun.
Baca Juga: Pemain Lokal Kena Sentil, Milomir Seslija Ungkap Penyebab Utama Kekalahan Persis Solo di Manahan
Rindu yang Menjelma Jalan Hidup
Perjalanan pengabdian Titik bukan hadir tiba-tiba. Selama sepuluh tahun ia merawat kedua orang tuanya yang sakit-sakitan.
Belum selesai duka itu, sang kakak harus berjuang melawan kanker payudara. Dari pengalaman panjang itulah hatinya ditempa.
“Setelah mereka tiada, saya justru merasa kehilangan. Saya merindukan merawat orang sakit dengan penuh kasih sayang. Ternyata kenikmatan itu tidak selalu datang dari hal yang menyenangkan,” tutur Titik saat ditemui di kediamannya.
Rindu memandikan, menyuapi, dan mendorong kursi roda itulah yang membuatnya membuka pintu rumah lebar-lebar. Bahkan ia pernah mengumumkan melalui media sosial: siapa pun yang memiliki keluarga telantar, boleh dititipkan kepadanya—gratis.
Menjadi Jembatan bagi yang Tak Terlihat
Sejak 2019, langkahnya kian luas setelah bergabung sebagai relawan mandiri di salah satu rumah sakit di Klaten. Ia tak sekadar merawat, tetapi juga menjadi penghubung bagi pasien miskin agar memperoleh bantuan.
“Saya hanya jembatan. Saya ajukan proposal dengan data akurat supaya lembaga mendapat penerima manfaat yang tepat, terutama mereka yang sering tidak tersentuh pemerintah atau tetangganya,” jelasnya.
Hidupnya nyaris tanpa jeda. Telepon tengah malam sering membangunkannya untuk menjemput pasien. Dengan sepeda motor, kadang ambulans, ia mengantar mereka ke Solo atau Jogja. Tak jarang ia ikut menunggui berhari-hari saat pasien harus opname.
Merawat yang Telah Dibuang
Sejak 2020, rumah Titik resmi menjadi tempat perawatan. Kini ada empat pasien dengan kondisi sangat berat tinggal bersamanya. Salah satunya penderita kanker serviks yang sempat ditolak banyak pihak karena bau luka yang menyengat.
“Pasien yang dibawa ke tempat saya itu pasien terbuang, yang kondisinya sudah sangat berat. Pasien yang orang lain sudah tidak sanggup,” ucapnya lirih.
Ia pernah menghadapi luka penuh belatung, tangis kesakitan, hingga penolakan dari lingkungan sekitar. Namun hatinya tak goyah.
“Kalau kita semua menolak, siapa yang bertanggung jawab pada mereka? Mereka tetap punya hak hidup,” tegasnya.
Kekuatan dari Rumah Sederhana
Suami Titik hanyalah buruh kandang ayam. Namun justru dari keluarga kecil itulah ia mendapat kekuatan terbesar. Ia selalu mengingat kalimat suaminya yang menjadi pegangan hidup:
Baca Juga: RELA TINGGALKAN EROPA! Ini Alasan Dion Markx Pilih Persib Bandung, Ada Peran Bojan Hodak Didalamnya
“Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Siapa pun yang datang kepada kita adalah PR dari Allah yang harus kita selesaikan.”
Soal biaya pampers, susu, dan obat-obatan yang tak sedikit, Titik tak pernah menghitung. Ia percaya rezeki selalu menemukan jalannya—dari donatur tidak tetap hingga dokter-dokter yang bersimpati.
Mimpi Sebuah Rumah Singgah
Di tengah segala keterbatasan, Titik menyimpan mimpi besar: mendirikan rumah singgah dan panti mandiri di Klaten. Menurutnya, Kota Bersinar masih minim fasilitas bagi pasien terlantar yang butuh istirahat total.
“Saya ingin sekali punya panti sendiri di luar pemerintah, juga rumah singgah. Mimpi ini sudah saya simpan lima tahun,” pungkasnya dengan mata berbinar.
Di rumah kecil itu, kasih menemukan bentuknya yang paling sederhana: tangan yang sabar menyuapi, air yang mengalir membasuh luka, dan hati yang menolak menyerah pada kemanusiaan.
Titik Tiwuk membuktikan bahwa menjadi pelabuhan terakhir tak memerlukan kemewahan—cukup keberanian untuk mencintai tanpa syarat. (ren/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto