SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Di tengah pro dan kontra kehadirannya di Kota Solo, Manajemen Bajaj Maxride menegaskan tidak akan angkat kaki.
Justru sebaliknya, Maxride memastikan tetap beroperasi setelah menerima gelombang respons positif dari masyarakat.
Manajemen Maxride juga meluruskan isu yang berkembang di lapangan. Mereka menegaskan bahwa Bajaj Maxride bukan kompetitor langsung ojek online (ojol) karena memiliki segmentasi pasar yang berbeda, sehingga keduanya dinilai bisa berjalan berdampingan tanpa saling mematikan.
General Manager Bajaj Maxride, Antonio Gratiano, menegaskan komitmen perusahaannya untuk terus melayani masyarakat Solo.
Menurutnya, Maxride hadir mengisi ceruk layanan yang belum sepenuhnya digarap oleh moda transportasi lain.
“Kami akan tetap memberikan layanan operasional untuk masyarakat Kota Solo. Dari pemantauan kami, dukungan masyarakat Solo sangat besar agar Maxride tetap melayani di kota ini,” ujar Antonio melalui keterangan tertulis, belum lama ini.
Ia menjelaskan, armada bajaj Maxride dirancang untuk kebutuhan khusus, mulai dari shuttle kawasan wisata, layanan industri perhotelan, hingga angkutan barang dalam kota—segmen yang tidak sepenuhnya menjadi fokus layanan ojol.
“Segmentasi pasar kami berbeda. Karena itu kami yakin bisa berjalan beriringan dengan ojol, bukan saling bersaing secara langsung,” tegasnya.
Tak berhenti di situ, Maxride juga membuka pintu kolaborasi. Pihak manajemen menyatakan siap bermitra dengan pengemudi ojek online yang tertarik bergabung, alih-alih terjebak dalam konflik horizontal antarpekerja transportasi.
Langkah ini dinilai sebagai upaya Maxride untuk meredam gesekan sekaligus menegaskan posisinya sebagai pelengkap ekosistem transportasi perkotaan, bukan sebagai ancaman. (ves/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto