SOLO, SOLOBALAPAN.COM — Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memilih jalur kuliner untuk menyampaikan pesan serius.
Bukan lewat podium resmi atau forum kenegaraan, melainkan di meja makan beralas sate dan tongseng kambing. Di sanalah pesan “kondusivitas” dititipkan.
Jumat (16/1), Gibran makan siang bersama dua punggawa utama Keraton Surakarta Hadiningrat, KGPH Mangkubumi dan KGPH Purboyo, di kawasan Pasar Klewer.
Pertemuan itu berlangsung usai rombongan menunaikan Salat Jumat di Masjid Agung Surakarta—sebuah rangkaian yang komplet: ibadah, silaturahmi, lalu stabilitas.
Santap siang tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh, mulai dari Maha Menteri Tedjowulan hingga Wali Kota Surakarta Respati Ardi Achmad Ardianto. Obrolannya disebut santai, meski muatan pesannya jauh dari sekadar basa-basi.
Dalam suasana informal itu, Gibran secara khusus menitipkan pesan agar kondusivitas internal Keraton Solo dan Kota Surakarta tetap terjaga. Pesan yang terdengar sederhana, namun sarat makna, mengingat dinamika internal keraton kerap menjadi perhatian publik.
“Tadi kita Jumatan bersama Pak Wali Kota Solo, Gusti Hangabehi, Gusti Purboyo, Gusti Tedjowulan dan semua. Lalu kita makan sate dan tongseng sebentar,” ujar Gibran kepada wartawan usai kegiatan.
Makan siang yang berlangsung sekitar satu jam tersebut diakui Gibran dimanfaatkan untuk membahas berbagai hal, mulai dari kondisi keraton hingga perkembangan terkini Kota Solo.
Putra Presiden ke-7 RI itu pun secara terbuka menyampaikan harapannya agar stabilitas tetap menjadi menu utama—bukan hanya saat makan siang, tetapi juga dalam tata kelola kota.
“Ya kami titip ke Pak Wali Kota Solo, mohon selalu dijaga kondusivitasnya. Untuk keraton, aset-aset yang sudah terbangun mohon bisa dijaga dengan baik. Kota Solo yang kaya akan kebudayaan, tolong dijaga semua. Itu saja,” tegas Gibran.
Baca Juga: Live Sambil Menangis, Ratu Sofya Akhirnya Buka Suara soal Ibunda dan Masa Lalunya
Pesan singkat, lokasi santai, dan menu merakyat. Entah ini strategi komunikasi politik yang efektif atau sekadar simbol keakraban kekuasaan, yang jelas urusan stabilitas Solo hari itu dirundingkan di antara tusuk sate dan kuah tongseng—ringan di suasana, berat di makna. (ves/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto