BOYOLALI, SOLOBALAPAN.COM — Jalan Metuk–Mudal kembali membuktikan satu hal klasik: lubang jalan boleh menganga berbulan-bulan, asal belum viral, urusan bisa menunggu.
Sebuah lubang besar muncul tepat di tengah badan jalan di Dukuh Sapiyan, RT 02 RW 03, Desa Metuk, Kecamatan Mojosongo, dan ironisnya sudah “resmi” memakan korban.
Menurut pengakuan warga, lubang tersebut sudah ada sejak akhir Desember 2025. Lokasinya strategis—atau tepatnya fatal—karena berada di atas saluran pembuangan air dan persis di tengah jalur lalu lintas.
Hingga kini, solusi sementara yang tersedia baru sebatas kerucut pembatas ala kadarnya, dipasang bukan oleh pemerintah, melainkan oleh warga yang rumahnya berdekatan dengan lokasi.
Pantauan di lapangan menunjukkan lubang itu nyaris tak terlihat saat malam hari. Pencahayaan minim, sementara pembatas seadanya justru menjadi jebakan baru. Seorang pengendara motor dilaporkan terjatuh setelah menyerempet kerucut pembatas lantaran tak menyadari adanya lubang di tengah jalan.
“Nyerempet pembatasnya, Mas. Soalnya gelap pas malam. Untung cuma luka sedikit. Ini saya yang pasang pembatas sama segitiga reflektor, biar pengendara tahu,” ujar seorang warga, Jumat (16/1) siang.
Dengan kata lain, inisiatif keselamatan kini berada di tangan warga, bukan di instansi yang seharusnya bertanggung jawab atas jalan umum.
Warga berharap lubang tersebut segera diperbaiki, bukan sekadar ditandai. Jalan Metuk–Mudal merupakan jalur utama yang dilalui kendaraan berukuran sedang hingga besar, termasuk akses pekerja pabrik dan kendaraan dari arah tol menuju Kota Boyolali.
Jika dibiarkan, lubang diyakini akan semakin melebar—sebuah ramalan yang tak butuh keahlian teknik sipil untuk membenarkannya.
Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Di sisi timur jalan, pembatas jalan sudah mulai retak dan miring ke arah sawah. Jika lalu lintas berat terus melintas, ambruk tinggal menunggu waktu.
“Jalannya rame. Pegawai pabrik lewat, kendaraan dari tol juga. Kalau dibiarkan ya bisa putus total,” kata warga lainnya.
Risiko terburuknya, akses menuju Kota Boyolali bisa terganggu. Kendaraan terpaksa memutar lebih jauh, sementara lubang yang sama terus mengintai korban berikutnya.
Warga menyebutkan bahwa kondisi ini sudah dilaporkan ke Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR). Tim survei memang sudah turun ke lokasi, namun hingga kini hasil nyata belum terlihat di aspal.
Untuk sementara, Dinas Perhubungan Boyolali memasang water barrier, yang sekali lagi menegaskan bahwa pengamanan sementara lebih cepat datang dibanding perbaikan permanen.
Pantauan terakhir menunjukkan tanah di bawah lapisan aspal sudah terkikis, menjadikan jalan tersebut seperti bom waktu yang menunggu giliran amblas.
Pertanyaannya kini sederhana: harus berapa korban lagi sebelum lubang ini benar-benar ditutup—bukan dengan kerucut, tapi dengan perbaikan? (fid/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto