Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

MBG Diduga Picu Gejala Keracunan Massal di Wonogiri, SPPG Jatisari Hentikan Distribusi Sementara

Iwan Adi Luhung • Kamis, 15 Januari 2026 | 09:05 WIB

 

Foto: Pengecekan yang dilakukan Dinkes ke dapur SPPG Jatisari Kecamatan Jatisrono Rabu (14/1/2026). (Dok. Mitra SPPG Jatisari Kecamatan Jatisrono)
Foto: Pengecekan yang dilakukan Dinkes ke dapur SPPG Jatisari Kecamatan Jatisrono Rabu (14/1/2026). (Dok. Mitra SPPG Jatisari Kecamatan Jatisrono)

SOLOBALAPAN.COM - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Wonogiri menjadi sorotan setelah ratusan siswa dilaporkan mengalami gejala yang mengarah pada dugaan keracunan.

Menyusul laporan tersebut, SPPG Jatisari Kecamatan Jatisrono akhirnya menghentikan distribusi MBG untuk sementara sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

Langkah ini diambil setelah muncul laporan siswa mengalami mual, muntah, hingga diare usai menyantap menu MBG pada Jumat (9/1/2026).

Menu MBG Hari Jumat Jadi Sorotan

Pemilik SPPG Jatisari, Arianto, menjelaskan bahwa menu MBG yang dibagikan saat kejadian terdiri dari menu basah dan kering.

"Menu basah di hari Jumat itu ada mi ayam, bakso, pangsit, sayurnya sawi dan ada saus kemasan. Lalu menu keringnya ada roti, susu dan buah," kata dia.

Menurutnya, proses distribusi pada hari tersebut berjalan normal tanpa kendala. Bahkan, pada Sabtu (10/1/2026), tidak ada laporan keluhan dari sekolah penerima MBG.

Sampel Makanan Disimpan Sesuai Prosedur

Arianto menegaskan bahwa pihak dapur telah menyimpan sampel makanan sesuai standar.

"Sampel Jumat, Minggu (11/1/2026) pagi dibersihkan cleaning service karena Minggu siang sudah harus klir dan sorenya sudah ada aktivitas," beber dia.

Sampel disimpan di showcase selama 2x24 jam, sementara sampel lain di suhu ruang disimpan selama 1x24 jam.

Laporan Susu Kedaluwarsa Picu Kepanikan

Kasus ini mulai ramai setelah pada Minggu siang pihak SPPG menerima aduan dari sekolah terkait dugaan keracunan, disertai foto susu yang disebut telah kedaluwarsa sejak Juli 2025.

"Itu sedikit jadi ramai, Senin (12/1/2026) puskesmas ke dapur kroscek susu. Termasuk di kardus bekasnya. Ternyata tidak ada yang (kadaluarsa) 2025," kata Arianto.

Ia menjelaskan bahwa dugaan tersebut muncul akibat cetakan tanggal kedaluwarsa yang kurang jelas.

"Cetakannya kurang sempurna, jadi (angka 6) kelihatan seperti 5. Sudah terbantahkan. Sudah diminum juga ya tidak ada masalah," beber dia.

94 Siswa Alami Diare, Tak Ada yang Dirawat

SPPG Jatisari kemudian melakukan penelusuran langsung ke lima sekolah yang melaporkan kasus tersebut.

"Siswa yang diduga diare totalnya ada 94. Diskring juga apakah ada yang opname, sampai sekarang tidak ada," beber Arianto.

Sekolah yang dikroscek antara lain SDN 2 Pandeyan, SDN 3 Pandeyan, SDN 2 Tasikhargo, SDN 2 Kutolawas, dan MTs Al-Amanah.

Data Dinkes Wonogiri Lebih Besar

Sementara itu, Dinas Kesehatan Wonogiri melaporkan data berbeda.

Dari total 1.158 siswa yang diperiksa, sebanyak 206 siswa mengalami gejala mengarah keracunan.

Perbedaan data tersebut diakui Arianto masih dalam proses pendataan.

"Skrining sementara itu. Sampai muncul namanya (siapa saja yang mengalami gejala mengarah keracunan). Kita pantau juga ternyata ada sekolah yang piknik di hari Minggu. Tapi di hari Senin yang nggak masuk banyak. Dari pihak dapur juga bingung masalahnya darimana karena ada keterlambatan pelaporan," papar Arianto.

Distribusi MBG Resmi Dihentikan Sementara

Meski sempat tetap mendistribusikan MBG pada Senin hingga Rabu, pihak SPPG akhirnya menghentikan layanan mulai Kamis (15/1/2026) setelah menerima arahan dari Badan Gizi Nasional (BGN).

"Disetop mulai Kamis sampai hasil laboratorium keluar," kata dia.

Dinkes dan kepolisian juga telah mengambil sejumlah sampel untuk diuji.

SPPG Siap Bertanggung Jawab dan Evaluasi SOP

Arianto menegaskan pihaknya siap bertanggung jawab atas kejadian tersebut dan menjadikannya bahan evaluasi serius.

"Tadi (Rabu) siang kita dapat surat pemberhentian sementara sampai hasil laboratorium Dinkes keluar. Ini jadi pembelajaran bagi SPPG. Ke depan, kita akan lebih hati-hati. Apalagi terhadap menu-menu dan cuaca. Kebetulan rumah dekat rumah sakit dan banyak yang sakit," papar dia.

"Tapi tidak memungkiri, kami dari pihak dapur juga berusaha bertanggung jawab atas kejadian ini. Semisal ada yang periksa kita siap mengganti. Kita berusaha bertanggungjawab," imbuh dia.

Ia juga mengakui bahwa penyempurnaan SOP dapur masih dilakukan seiring berjalannya operasional.

"Kita mungkin belum sempurna smbil jalan. Saat libur sekolah kemarin kita penyempurnaan di dapur," kata dia.

Sementara itu, Dinkes Wonogiri memastikan proses pemeriksaan laboratorium masih berlangsung.

"Pemeriksaan sampel makanan. Masih proses," kata dia. (al/aw/lz)

Editor : Laila Zakiya
#keracunan massal #wonogiri #Mbg #SPPG Jatisari #dinas kesehatan #diare