SOLO, SOLOBALAPAN.COM — Rencana penataan koridor Nonongan, Jalan Yos Sudarso, Kota Solo, rupanya tak disambut tepuk tangan para pelaku usaha.
Alih-alih dianggap solusi penataan kota, wacana tersebut justru memicu kegelisahan. Akses parkir, bongkar muat barang, hingga kelangsungan usaha grosir yang sudah bertahan puluhan tahun kini dipertaruhkan.
Para pengusaha di kawasan Nonongan pun bersiap angkat suara. Mereka berencana meminta audiensi langsung dengan Wali Kota Solo agar kebijakan tidak berhenti sebatas indah di atas kertas, tapi juga realistis di lapangan.
Ninik, salah satu pengusaha grosir alat tulis di Nonongan, menyebut mayoritas pelaku usaha menolak wacana jalan satu arah tersebut.
Menurutnya, Nonongan bukan sekadar koridor estetika kota, melainkan pusat perdagangan grosir yang hidup dari lalu lintas kendaraan besar.
“Nonongan itu pusat perdagangan grosir. Banyak yang perlu dikaji ulang kalau ini dijadikan satu arah. Kami khawatir nanti kejadiannya seperti di Ketandan atau Slamet Riyadi, ketika akses parkir dibatasi dan pembeli malas mutar. Ujung-ujungnya, usaha hampir gulung tikar sebelum akhirnya diselamatkan kopi shop,” ujar Ninik, Rabu (14/1).
Ia menegaskan, pengalaman pahit soal pengaturan parkir bukan cerita baru. Sistem parkir paralel sebelumnya dinilai sudah cukup menyulitkan, terutama bagi pembeli yang datang untuk mengambil barang dalam jumlah besar.
“Kami pernah mengalami masa sulit. Parkir paralel itu menyulitkan untuk drop barang. Ini grosiran, keluar-masuk mobil besar itu kebutuhan utama, bukan bonus,” imbuhnya.
Ninik berharap Pemkot Solo tidak sekadar menggulirkan wacana, tetapi benar-benar melibatkan pelaku usaha sejak awal. Baginya, dua hal krusial yang tak bisa ditawar adalah ketersediaan parkir dan kelancaran distribusi barang.
“Kalau bisa dikaji lagi. Kami ingin kebijakan Pemkot tetap jalan, tapi jangan sampai mematikan usaha grosir di sini. Kami ingin audiensi untuk cari solusi bersama,” katanya.
Ia juga menyayangkan minimnya komunikasi. Para pengusaha Nonongan, kata dia, justru mengetahui rencana tersebut dari media sosial—bukan dari forum resmi.
“Belum ada urun rembug dengan kami. Informasinya malah diskusi dilakukan dengan Kampung Batik, sementara Nonongan belum diajak bicara,” ujarnya.
Kekhawatiran serupa diungkapkan Andri Hakim, pemilik usaha Sista Fency. Ia menilai, jika konsep jalan satu arah ala Koridor Gatot Subroto diterapkan, aktivitas bongkar muat bakal makin ruwet.
“Kalau kiri motor, kanan mobil seperti di Gatsu, di Nonongan ini akan sangat sulit. Kami butuh ruang untuk loading barang, bukan sekadar lewat,” jelasnya.
Tak hanya soal lalu lintas, Andri juga menyoroti persoalan klasik yang belum beres: drainase. Menurutnya, sebelum bicara kanopi, lampu tematik, atau kabel tanam, persoalan banjir seharusnya lebih dulu dibereskan.
“Kalau hujan deras, di sini sering banjir sampai masuk toko. Kalau mau penataan, drainase juga harus dikaji serius,” tambahnya.
Sementara itu, Triana Agustina menegaskan Nonongan sejatinya adalah kawasan bisnis, bukan destinasi wisata. Menurutnya, Solo masih memiliki banyak kawasan lain yang lebih cocok dikembangkan sebagai ikon wisata.
“Orang ke Nonongan itu tujuannya bisnis. Kalau dijadikan objek wisata tapi malah mengganggu produktivitas, jujur kami keberatan,” katanya.
Nada serupa disampaikan Lilik, pengusaha grosir alat tulis. Ia menilai rencana pelebaran jalan hingga tiga meter justru berpotensi menggerus ruang usaha.
“Menurut saya, pengembangan yang lebih pas itu dari Gatsu ke Pasar Kembang dan Luwes. Bisa menghidupkan kawasan yang masih sepi wisatawan. Kalau Nonongan, ya dari dulu memang kawasan grosir,” pungkasnya.
Kini bola ada di tangan Pemkot Solo. Apakah penataan kota akan berjalan seiring dengan napas ekonomi warga, atau justru kembali mengulang cerita lama: kota cantik, tapi pelaku usaha tercekik. (alf/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto