SRAGEN, SOLOBALAPAN.COM — Kerusakan infrastruktur kembali menjadi cerita lama yang tak pernah benar-benar usai di Kabupaten Sragen.
Kali ini, giliran warga Desa Gading, Kecamatan Tanon, yang harus menelan pil pahit. Akses jalan utama desa mereka kini hancur lebur, bukan karena bencana alam, melainkan “bencana rutin” bernama truk Galian C.
Jalan sepanjang kurang lebih satu kilometer yang menghubungkan ruas Tanon–Gading saat ini lebih pantas disebut lintasan off-road ketimbang jalan kabupaten.
Aspal menghilang, beton terkelupas, dan lumpur menguasai badan jalan. Setiap pengendara yang melintas tak lagi butuh SIM, cukup modal doa dan keseimbangan.
Kerusakan ini bukan misteri. Warga dengan kompak menunjuk aktivitas tambang Galian C sebagai biang keladi. Truk-truk bertonase berat pengangkut pasir dan batu saban hari melintas tanpa kompromi.
Beban muatan yang jelas melampaui kelas jalan membuat struktur yang dulu kokoh kini ambruk tak bersisa.
“Ini akses vital desa kami. Tapi tiap hari dihajar truk tambang. Sudah banyak warga jatuh dan celaka,” keluh seorang warga dalam unggahan media sosial yang belakangan viral.
Tekanan publik sempat memaksa adanya “perbaikan darurat”. Lubang-lubang jalan ditimbun material sirtu—yang konon berasal dari pihak pengelola tambang. Namun solusi instan itu justru berubah menjadi bumerang.
Begitu hujan turun, sirtu berubah wujud menjadi lumpur pekat. Jalan yang sebelumnya rusak kini naik level menjadi kubangan licin.
Motor warga kerap terjebak, tergelincir, bahkan harus dituntun. Pemandangannya lebih menyerupai sawah usai dibajak ketimbang akses publik.
Alih-alih mendapat empati, respons dari pemerintah desa justru terdengar dingin. Kepala Desa Gading, Puryanto, mengakui kondisi jalan memang memprihatinkan, namun berdalih pondasi bawah masih beton dan jalan tetap bisa dilalui—entah dengan cara bagaimana.
“Yawes ben (biarlah) diviralkan setiap hari, tidak apa-apa. Tapi ini sudah masuk usulan perbaikan lewat Inpres pembangunan jalan tahun 2026 ini,” ujarnya enteng.
Pernyataan itu tentu menenangkan… setidaknya bagi mereka yang tidak harus melewati jalan berlumpur setiap hari. Sementara warga diminta bersabar, risiko kecelakaan tetap ditanggung sendiri.
Di sisi lain, Kepala Bina Marga DPU Sragen, Aribowo Sulistyo, menyampaikan penjelasan lebih normatif. Ia membenarkan ruas Tanon–Gading memang terdampak aktivitas Galian C dan belum tersentuh rehabilitasi total sejak lama.
“Kami sudah mengusulkan lewat IJD (Inpres Jalan Daerah) tahun 2025. Kalau tidak cair, akan diupayakan lewat APBD Perubahan 2026 atau penetapan 2027,” jelasnya.
Dengan kata lain, warga masih diminta menunggu. Entah sampai kapan. Sementara truk Galian C terus melintas, jalan terus hancur, dan keselamatan warga tetap jadi taruhan harian. (din/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto