Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Sunyi tapi Penuh Aura: Sendang Sono Kedawung, Tempat Tirakat Pangeran Sambernyawa yang Masih Disakralkan

Rudi Hartono RS • Jumat, 9 Januari 2026 | 13:23 WIB

 

Sendang Sono Kedawung
Sendang Sono Kedawung
SOLOBALAPAN.COM - Di tengah lebatnya hutan Desa Kedawung, Kecamatan Jumapolo, Karanganyar, terdapat sebuah sendang yang hingga kini menyimpan kisah mistis sekaligus sejarah perjuangan.

Sendang Sono, demikian warga menamainya, diyakini sebagai salah satu tempat penting dalam perjalanan spiritual Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa saat bergerilya melawan penjajah Belanda.

Sendang yang berada tak jauh dari jalur napak tilas Kirab Tongkat Nusantara Tiji Tibeh ini dikenal memiliki air yang jernih dan tidak pernah surut, bahkan ketika kemarau panjang melanda.

Kondisi tersebut semakin menguatkan keyakinan warga akan keistimewaan Sendang Sono.

Tempat Bersuci dan Menguatkan Tekad Perjuangan

Berdasarkan cerita turun-temurun, Sendang Sono bukan sekadar sumber air biasa.

Di lokasi inilah Raden Mas Said dipercaya membersihkan diri dan melakukan laku spiritual sebelum melanjutkan perjalanan berat menyusuri hutan dan lereng Lawu.

Para sesepuh desa meyakini sendang ini berfungsi sebagai tempat “ngasah batin”, di mana sang pangeran melakukan puasa, doa, dan tirakat demi memperkuat tekad serta memohon perlindungan leluhur.

“Air Sendang Sono dipercaya memiliki daya spiritual. Banyak orang tua dulu mengatakan, Pangeran Sambernyawa mandi dan bersemedi di sini agar diberi keselamatan dan kecerdikan dalam perang,” terang tokoh sesepuh warga Kedawung, Suwarni.

Keyakinan tersebut menjadikan Sendang Sono bukan hanya bagian dari sejarah perjuangan, tetapi juga ruang spiritual yang dihormati hingga kini.

Aura Mistis yang Masih Dirasakan Warga

Nuansa mistis Sendang Sono semakin terasa berkat suasananya yang sunyi dan alami.

Pada waktu-waktu tertentu, terutama malam Jumat Kliwon, sebagian warga mengaku mencium aroma bunga atau mendengar suara gemericik air yang terdengar lebih nyaring dari biasanya.

Karena itu, masyarakat setempat menjunjung tinggi unggah-ungguh saat berada di kawasan sendang.

Berkata sembarangan atau bersikap tidak sopan dianggap tabu sebagai bentuk penghormatan terhadap tempat yang diyakini keramat.

Tongkat Sambernyawa dan Pohon Sono yang Disakralkan

Keberadaan Sendang Sono juga erat kaitannya dengan kisah Tongkat Sambernyawa.

Konon, tongkat milik Raden Mas Said pernah ditancapkan tidak jauh dari sendang.

Dari titik itulah kemudian tumbuh pohon sono yang kini menjadi punden petilasan dan dijaga dengan penuh penghormatan oleh warga Desa Kedawung.

Dalam setiap kegiatan napak tilas perjuangan Raden Mas Said, Sendang Sono selalu menjadi titik persinggahan penting.

Para peserta biasanya berhenti sejenak, menundukkan kepala, dan memanjatkan doa sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan dan laku spiritual sang pangeran.

Makna Sejarah di Balik Kisah Mistis

Suwarni yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Kedawung menegaskan bahwa kisah mistis Sendang Sono tidak untuk ditakuti, melainkan dipahami sebagai warisan nilai luhur.

“Perlawanan Pangeran Sambernyawa bukan hanya soal senjata, tapi juga kekuatan doa dan keteguhan jiwa,” ujarnya.

Hingga kini, Sendang Sono terus dirawat sebagai situs sejarah dan spiritual.

Bagi masyarakat Kedawung, sendang tersebut adalah saksi bisu perjuangan seorang pangeran yang memadukan strategi perang dengan kekuatan batin yang menyatu bersama alam. (rud/lz)

Editor : Laila Zakiya
#Kedawung #sejarah #Pangeran Sambernyawa #sendang sono #mistis