WONOGIRI, SOLOBALAPAN.COM — Bangunan tua yang dibiarkan menua akhirnya angkat tangan. Atap ruang kelas I di SD Negeri 3 Tempursari, Kecamatan Sidoharjo, Wonogiri, dilaporkan ambruk pada Kamis (8/1/2026) sore, usai diguyur hujan deras.
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 16.00 WIB. Beruntung, kejadian berlangsung setelah jam pelajaran usai sehingga tidak ada siswa maupun guru yang menjadi korban. Jika saja hujan datang sedikit lebih awal, ceritanya bisa berbeda.
Camat Sidoharjo, Tri Wiyatmoko, membenarkan peristiwa tersebut. Ia mengaku menerima laporan langsung dari Kepala Desa Tempursari.
“Iya mas, tadi sudah diberi informasi dari Bu Kades Tempursari,” katanya.
Tri menyebut, faktor utama ambruknya atap tak jauh dari kondisi bangunan yang sudah uzur. Hujan deras hanya menjadi pemicu terakhir dari struktur yang sejak lama rapuh.
“Bangunannya memang sudah lama. Kondisinya rapuh. Tadi hujannya juga cukup deras,” ungkapnya.
Meski tidak menelan korban jiwa, kejadian ini kembali membuka potret klasik dunia pendidikan: ruang kelas tua yang bertahan seadanya sambil menunggu giliran roboh. Hingga kini, besaran kerugian material masih dalam pendataan.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Wonogiri, Sriyanto, memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan. Untuk sementara, siswa kelas I diminta berpindah ruang.
“Pembelajaran darurat bisa dilakukan di perpustakaan,” ujarnya singkat.
Baca Juga: Menolak Degradasi! PSIS Semarang Rekrut 14 Pemain Sekaligus di Paruh Musim, Siapa Saja Daftarnya?
Ia menambahkan, ambruknya atap ruang kelas diduga kuat akibat kombinasi hujan deras, angin kencang, dan kondisi bangunan yang telah melewati usia layak pakai.
Insiden ini menjadi pengingat, hujan dan angin kerap dijadikan kambing hitam, sementara soal perawatan bangunan sekolah sering tertinggal di belakang meja perencanaan. (al/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto