Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Sisa-Sisa Kejayaan Sentra Babi: Saat Kandang Lama Disalahkan, Dapur Baru Pura-Pura Kaget

Ahmad Khairudin • Kamis, 8 Januari 2026 | 17:36 WIB

Dapur MBG di Sragen bersebelahan dengan kandang babi yang sudah puluhan tahun berdiri.
Dapur MBG di Sragen bersebelahan dengan kandang babi yang sudah puluhan tahun berdiri.

SRAGEN, SOLOBALAPAN.COM – Di tengah riuh rendah tarik-ulur kompensasi miliaran rupiah dan agenda mediasi ala kelas nasional oleh Badan Gizi Nasional (BGN), sebuah fakta lama akhirnya menyeruak ke permukaan.

Lokasi berdirinya dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Banaran ternyata bukan tanah steril tanpa sejarah.

Wilayah itu, sejak puluhan tahun silam, adalah sentra peternakan babi—atau yang oleh warga setempat dikenal dengan sebutan legendaris: “Baben”. Sebuah fakta yang tampaknya luput dari peta perencanaan, namun melekat kuat di ingatan warga.

Ketua RT 41 Desa Banaran, Sutarno (48), menyebut kawasan tersebut sejak dulu memang identik dengan kandang babi. Bahkan, sebagian besar lahan di lingkungan itu—termasuk yang kini berdiri dapur MBG—adalah bekas kandang babi generasi terdahulu.

Baca Juga: Kenapa Aura Kasih Ubah Nama Instagram Jadi 'Febria' Usai Dikaitkan dengan Ridwan Kamil? Netizen Cium Gelagat Ini

“Sebelum saya lahir, peternakan babi itu sudah ada. Dulu ini sentra babi atau Baben. Bekas-bekasnya masih bisa dilihat sampai sekarang. Warga sini sangat paham,” ujar Sutarno, seolah mengingatkan bahwa sejarah tak bisa dihapus hanya dengan papan proyek.

Seiring waktu, sebagian warga memang beralih profesi. Namun bagi Angga Wiyana Mahardika, pemilik kandang babi yang kini terseret pusaran konflik, usaha itu adalah satu-satunya penopang hidup. Bengkel yang dulu menjadi andalan kini sepi, dan kandang dengan sekitar 30 ekor babi itulah yang tersisa sebagai penyambung napas keluarga.

“Mau kerja apa lagi? Itu usaha turun-temurun. Warga sendiri sebenarnya tidak ada yang komplain. Kami prinsipnya sing ngatur rezeki Gusti Allah,” tambah Sutarno.

Soal tudingan pencemaran lingkungan yang belakangan dialamatkan ke kandang babi, Sutarno mencoba menarik rem emosi. Ia mengakui sempat ada persoalan teknis, terutama saat saluran irigasi tidak mengalir dan air meluber ke sawah.

Namun, masalah itu disebutnya situasional, bukan kriminal lingkungan.

“Sekarang sawahnya sudah aman. Memang kalau kena air seni babi, tanamannya tidak bisa subur. Tapi petani di sini tidak ada yang ribut, karena sama-sama paham, sama-sama cari makan,” jelasnya.

Baca Juga: Sikap Tegas Kafi FC dan PSSI DIY Soal 'Tendangan Kungfu' Dwi Pilihanto: Dipecat Klub, Denda Jutaan, dan Sanksi Seumur Hidup

Faktanya, selama puluhan tahun, keberadaan kandang babi tak pernah memicu konflik sosial di Banaran. Harmoni warga berjalan apa adanya, tanpa mediasi, tanpa tuntutan, apalagi kompensasi miliaran.

Ironisnya, justru setelah dapur MBG berdiri—program nasional dengan niat mulia—polemik mendadak muncul.

Di media sosial, suara akar rumput pun bermunculan. Banyak yang membela eksistensi kandang babi karena telah lebih dulu ada, sementara dapur MBG dinilai kurang cermat membaca ruang dan sejarah.

Singkatnya, kandang babi yang puluhan tahun “diam di tempat” kini diposisikan sebagai biang masalah. Sementara bangunan baru datang belakangan, lalu tampak terkejut menemukan kenyataan bahwa ia tidak sendirian di sana.

Sejarah rupanya belum benar-benar selesai—dan Banaran kini menjadi saksi, bagaimana proyek masa kini berhadapan dengan jejak masa lalu yang tak bisa begitu saja disingkirkan. (din/an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#peternakan babi #banaran #sragen #BGN #kandang babi #Makan Bergizi Gratis (MBG)