SOLOBALAPAN.COM - Kabupaten Klaten mencatat lonjakan signifikan di sektor pariwisata sepanjang 2025.
Dengan total kunjungan mencapai 7,5 juta wisatawan, Klaten resmi masuk jajaran kabupaten dengan jumlah wisatawan terbanyak di Jawa Tengah.
Namun di balik capaian tersebut, muncul tantangan besar yang masih membayangi: minimnya hotel berbintang.
Salah satu destinasi yang menyumbang tingginya angka kunjungan wisatawan adalah Umbul Pelem di Desa Wunut, Kecamatan Tulung, yang menjadi magnet wisata favorit saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Wisata Ramai, Dampak Ekonomi Belum Maksimal
Tingginya arus wisatawan ternyata belum sepenuhnya berdampak optimal terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), khususnya dari pajak hotel dan restoran.
Hal ini diakui langsung oleh Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo.
"Potensi pajak hotel dan restoran di kota-kota besar itu tinggi, sementara kita di Klaten belum maksimal. Padahal beberapa tahun terakhir, kita menjadi kabupaten dengan jumlah wisatawan terbanyak di Jawa Tengah," ujar Hamenang saat ditemui di Pendapa Pemkab Klaten, Senin (5/1/2026).
Menurutnya, kendala utama terletak pada terbatasnya fasilitas akomodasi.
Saat ini, Klaten baru memiliki satu hotel berbintang, yang berdampak pada rendahnya lama tinggal wisatawan.
Bupati Klaten Bidik Investor Hotel Bintang Tiga
Melihat besarnya potensi yang belum tergarap, Pemkab Klaten kini mulai agresif membidik investor hotel berbintang, khususnya hotel bintang tiga.
Langkah ini dinilai krusial untuk meningkatkan length of stay wisatawan sekaligus mendongkrak PAD.
"Harapannya nanti beberapa hotel bisa masuk. Informasinya akan segera ada di Klaten tetapi sebagai investasi swasta murni. Namun, kami juga membuka pintu lebar-lebar bagi investor yang ingin bekerja sama dengan Pemkab Klaten. Kami siap menyiapkan lahan milik Pemda untuk dikerjasamakan," ujarnya.
Masuknya jaringan hotel nasional ke Klaten diharapkan menjadi game changer bagi ekosistem pariwisata daerah.
Pajak Hotel dan Restoran Masih Jadi PR Besar
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disbudporapar Klaten, Purwanto, menilai bahwa selama ini kontribusi ekonomi wisata masih bertumpu pada retribusi tiket masuk destinasi.
"Potensi pajak restoran dan hotel sebenarnya sangat tinggi. Namun saat ini kontribusinya belum maksimal karena PHRI sendiri masih vakum. Jika ini digerakkan kembali dan jumlah hotel bertambah, Pendapatan Asli Daerah (PAD) kita pasti akan melonjak signifikan," jelas Purwanto.
Vakumnya kepengurusan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Klaten juga menjadi salah satu faktor lambatnya optimalisasi sektor tersebut.
Tahun 2026 Jadi Momentum Emas Pariwisata Klaten
Pariwisata Klaten diprediksi semakin sibuk pada 2026.
Bertepatan dengan hari jadi Klaten ke-222, sejumlah event berskala nasional hingga internasional telah disiapkan.
Salah satunya International Cycling Festival yang dijadwalkan berlangsung pada Mei 2026, dengan peserta dari 40 negara Eropa yang akan menggunakan sepeda antik.
Selain itu, Klaten juga dipercaya menjadi tuan rumah ajang bergengsi Anugerah Pariwisata Indonesia (API).
Dengan kombinasi kunjungan wisata yang tinggi, event internasional, serta peluang investasi hotel berbintang, Klaten kini berada di persimpangan penting: apakah hanya menjadi daerah transit wisata, atau naik kelas sebagai destinasi dengan dampak ekonomi besar. (ren/lz)
Editor : Laila Zakiya