SRAGEN, SOLOBALAPAN.COM – Di sebuah sudut Dukuh Sidomulyo, Desa Ngandul, Kecamatan Sumberlawang, deru angin tak lagi sekadar membawa debu kering, melainkan juga harapan.
Di atas lahan kritis seluas 6.000 meter persegi, seorang pensiunan aparatur sipil negara (ASN) berupaya mengubah tanah gersang menjadi lahan produktif.
Di saat isu deforestasi dan kerusakan lingkungan kian mencuat di berbagai daerah, langkah nyata pemulihan alam justru lahir dari inisiatif personal di Bumi Sukowati.
Dengan sisa dana pensiunnya, seorang pria sepuh memilih menanam harapan di atas lahan yang lama ditinggalkan.
Dialah Tatag Prabawanto. Mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Sragen itu kini menulis babak baru kehidupannya bukan lagi dengan stempel dan berkas, melainkan dengan cangkul dan bibit pohon.
Sejak April 2025, Tatag memutuskan “menyelamatkan” sebidang lahan yang nyaris kehilangan nyawa akibat aktivitas galian C di kawasan Sumberlawang.
Tanah yang sebelumnya gersang dan terluka perlahan ia sulap menjadi hutan buah. Beragam tanaman ia tanam, mulai alpukat, kelengkeng, hingga pohon zaitun yang dikenal tangguh di lahan marginal.
“Tanah ini sudah cukup menderita karena terus dikupas dan diambil isinya. Kalau kita hanya mengambil tanpa pernah memberi kembali, apa yang tersisa untuk anak cucu nanti?” ujar Tatag sambil menatap barisan bibit yang baru ia tanam.
Rutinitasnya selepas pensiun nyaris tak berubah. Setiap pagi sebelum matahari sepenuhnya terbit, ia sudah berada di kebun. Senja menjadi penanda waktu pulang.
Jika dulu pengabdiannya dilakukan melalui kebijakan di balik meja, kini ia memilih melayani bumi secara langsung.
“Saya ingin membuktikan, tanah yang dianggap rusak sekalipun, jika disentuh dengan kesabaran dan ketelatenan, akan memberi kehidupan kembali,” tuturnya.
Apa yang dilakukan Tatag menjadi pengingat bahwa pelestarian alam tidak selalu harus dimulai dari proyek besar pemerintah atau lembaga internasional.
Justru perubahan nyata sering lahir dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Bagi Tatag, menanam pohon bukan sekadar menancapkan bibit ke tanah. Itu adalah upaya memperbaiki hubungan manusia dengan sumber kehidupannya.
“Saat kita menanam satu bibit, kita sedang membangun benteng melawan bencana, menyediakan oksigen, dan memulihkan ekosistem,” katanya.
Perlahan, hasilnya mulai terasa. Burung-burung kembali singgah. Kadal dan ular liar muncul di sekitar kebun. “Dibiarkan saja, biar datang secara alami. Itu tanda ekosistem mulai hidup lagi,” ujarnya.
Tatag menegaskan, kepedulian terhadap lingkungan tak perlu menunggu lahan berubah menjadi gurun. Setiap orang tak harus menjadi pejabat untuk mulai memperbaiki alam. Cukup menjadi manusia yang tahu berterima kasih kepada bumi. (din/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto