SOLOBALAPAN.COM - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang menjadi solusi peningkatan gizi nasional justru memicu konflik sosial di tingkat desa.
Pembangunan dapur MBG atau Satuan Program Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Banaran, Kecamatan Sambungmacan, Kabupaten Sragen, menuai sorotan tajam warga.
Alih-alih membawa dampak positif, proyek yang disebut sebagai percontohan nasional itu dituding berdiri tanpa etika karena dibangun tepat di samping kandang babi milik warga yang telah beroperasi puluhan tahun dan mengantongi izin resmi.
Kandang Babi Lebih Dulu Ada, Kini Justru Terancam Ditutup
Pemilik kandang babi, Angga Wiyana Mahardika (44), mengaku terkejut ketika mendengar adanya rencana penutupan usahanya.
Padahal, peternakan tersebut telah berdiri selama sekitar 50 tahun dan merupakan warisan keluarga.
"Usaha ini sudah ada sebelum saya lahir. Ini warisan bapak saya, usianya sudah 50 tahunan. Warga selama ini tidak masalah," ungkap Angga dengan nada kecewa.
Menurut Angga, sejak awal pembangunan dapur MBG, tidak pernah ada komunikasi langsung atau permisi kepada dirinya sebagai tetangga terdekat.
Bahkan, warga RT setempat pun mengaku tidak pernah diajak bicara.
Niat Penutupan Disampaikan Lewat Pihak Ketiga
Angga menyayangkan sikap pengelola SPPG yang dinilainya tertutup dan tidak terbuka untuk dialog.
Informasi mengenai rencana penutupan kandang babi justru ia terima secara tidak langsung.
"Tiba-tiba ada niat menutup usaha saya. Saya tahu itu dari Pak RT. Padahal kami sangat terbuka untuk komunikasi. Kalau mau apa-apa bicaralah, jangan tiba-tiba menjatuhkan usaha orang," tegasnya.
Ia menilai, persoalan ini seharusnya bisa dibicarakan secara musyawarah sejak awal, bukan muncul setelah bangunan dapur MBG selesai berdiri.
Limbah Dapur MBG Justru Mengalir ke Lahan Warga
Ironi lain yang disoroti Angga adalah persoalan limbah.
Meski keberadaan kandang babinya dipermasalahkan, limbah pembuangan dari dapur MBG justru disebut mengalir ke lahan miliknya di bagian belakang.
Fakta tersebut semakin memperkeruh polemik dan memicu pertanyaan warga soal standar pengelolaan lingkungan proyek yang membawa nama program nasional tersebut.
Warga Sekitar Tidak Keberatan Kandang Babi Beroperasi
Dukungan terhadap Angga datang dari warga sekitar. Berdasarkan hasil pertemuan warga, mayoritas menyatakan tidak keberatan dengan aktivitas kandang babi yang berisi kurang dari 100 ekor tersebut. Selama ini, kebersihan kandang dinilai terjaga dan tidak menimbulkan gangguan berarti.
Sikap warga ini memperkuat posisi pemilik kandang yang menolak pindah tanpa adanya solusi yang adil.
Kepala Desa Akui Ada Ketegangan Sosial
Kepala Desa Banaran, Susilo, membenarkan adanya ketegangan di tengah masyarakat akibat polemik tersebut.
Ia menyebut pemilik kandang bersikeras tidak akan pindah tanpa pembicaraan soal ganti rugi.
"Sampai sekarang bangunan dapur MBG sudah berdiri dan jadi. Tapi warga, terutama RT sekitar, tetap tidak keberatan kandang itu terus berlangsung," ujarnya.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa penolakan tidak datang dari masyarakat sekitar, melainkan muncul setelah proyek dapur MBG berdiri.
Penanggung Jawab Dapur MBG Belum Beri Klarifikasi
Hingga berita ini ditulis, pihak penanggung jawab dapur MBG atau SPPG Banaran belum memberikan keterangan resmi.
Saat didatangi ke lokasi, pintu bangunan dapur dalam kondisi terkunci dan tidak ada satu pun pihak yang dapat dikonfirmasi terkait konflik sosial yang mencuat di tengah masyarakat.
Minimnya klarifikasi ini semakin memperbesar tanda tanya publik terkait transparansi dan etika pelaksanaan proyek MBG di tingkat desa. (din/lz)
Editor : Laila Zakiya