SOLOBALAPAN.COM - Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) di Kota Surakarta menuai sorotan tajam dari para siswa SMA dan SMK.
Alih-alih menjadi alat ukur kemampuan akademik yang adil, TKA justru dinilai terlalu sulit, tidak selaras dengan materi pembelajaran di sekolah, serta memiliki alokasi waktu yang dinilai tidak proporsional.
Sejumlah siswa mengungkapkan bahwa tingkat kesulitan soal jauh melampaui simulasi maupun kisi-kisi resmi yang sebelumnya disosialisasikan.
Kondisi ini membuat banyak peserta merasa tidak siap dan harus mengandalkan intuisi saat ujian berlangsung.
Soal Paragraf Panjang dan Jawaban Nyaris Serupa
Keluhan datang dari Alika Umi Fadilah, siswi kelas XII Akuntansi SMKN 3 Surakarta.
Ia menyebut sebagian besar soal TKA menuntut analisis tingkat tinggi dengan bacaan panjang serta opsi jawaban yang hampir mirip satu sama lain.
“Menurut saya, soal-soalnya cenderung berpikir kritis dengan paragraf yang panjang. Kita harus benar-benar teliti dan fokus menganalisis karena jawabannya hampir sama semua, jadi harus detail,” ujar Alika, Kamis (1/1).
Menurutnya, karakter soal seperti ini membuat peserta ujian cepat kelelahan secara mental, terlebih ketika waktu terus berjalan.
Matematika Dinilai Paling Menyulitkan
Dari seluruh mata pelajaran yang diujikan, Matematika disebut sebagai yang paling menyulitkan.
Alika menilai materi yang keluar sama sekali tidak pernah dipelajari di kelas dan tingkat kesulitannya menyerupai soal UTBK.
“Kalau Matematika, soal yang diujikan beda banget dengan yang di sekolah. Materinya mirip soal UTBK, bahkan menurut saya bisa lebih sulit, sementara waktunya terbatas. Kami juga tidak pernah belajar materi itu di kelas, persiapannya juga kurang,” jelasnya.
Ia bahkan menilai ketidaksesuaian antara kisi-kisi dan soal yang keluar hampir total.
“Hampir 99 persen tingkat kesulitannya. Saat ujian benar-benar main feeling. Simulasi yang pernah kami kerjakan jauh lebih mudah dibanding soal di hari H,” ungkapnya.
Satu Bacaan untuk Banyak Soal, Konsentrasi Terkuras
Keluhan serupa disampaikan Shafiya Eberlin Ardia, siswi kelas XII SMAN 1 Surakarta.
Ia menyoroti pola soal Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang menggunakan satu bacaan panjang untuk beberapa soal sekaligus.
“Kalau di sekolah Bahasa Indonesia biasanya satu bacaan untuk satu soal. Tapi di TKA satu bacaan bisa sampai lima soal, dengan naskah yang panjang, jadi butuh konsentrasi ekstra,” katanya.
Menurut Shafiya, pola ini sangat menguras fokus, apalagi ketika dikombinasikan dengan tekanan waktu.
Waktu Ujian Dinilai Tak Ideal
Shafiya juga menyoroti keterbatasan waktu, khususnya pada mata pelajaran Matematika.
Ia menyebut alokasi waktu tidak sebanding dengan kompleksitas soal.
“Untuk Matematika, kita diberi waktu 50 menit mengerjakan 25 soal, padahal banyak soal yang butuh perhitungan dan ada pilihan ganda kompleks. Itu sangat menyulitkan,” ujarnya.
Kondisi ini, menurutnya, semakin tidak adil bagi siswa yang tidak memiliki akses tambahan seperti bimbingan belajar.
“Aku aja yang ikut dua bimbingan belajar masih merasa kesulita. Padahal tidak semua siswa punya kesempatan ikut les,” tambahnya.
Simulasi Dinilai Tak Mencerminkan Ujian Sebenarnya
Baik Alika maupun Shafiya sepakat bahwa soal simulasi resmi tidak menggambarkan tingkat kesulitan TKA yang sesungguhnya.
Shafiya menilai perbedaan antara latihan dan ujian nyata terlalu jauh.
“Kalau dibandingkan dengan soal simulasi dari Kemendikbud, soalnya jauh berbeda. Di sekolah kami biasa mengerjakan 30 sampai 35 soal dalam waktu dua jam, sedangkan di TKA waktunya sangat terbatas. Dengan kondisi seperti itu, bagi saya sangat sulit,” pungkasnya.
Harapan Evaluasi TKA ke Depan
Para siswa berharap ke depan penyusunan soal TKA lebih realistis dan selaras dengan materi pembelajaran di sekolah.
Penyesuaian kisi-kisi, tingkat kesulitan, serta alokasi waktu dinilai penting agar TKA benar-benar menjadi alat ukur kemampuan akademik yang adil dan inklusif bagi seluruh siswa. (alf/lz)
Editor : Laila Zakiya