SOLOBALAPAN.COM - Pergantian tahun di Kota Solo tahun ini berlangsung dengan nuansa yang berbeda.
Alih-alih pesta kembang api dan gegap gempita, ribuan warga memilih mengawali tahun baru dengan doa bersama, penyalaan seribu lilin, serta aksi solidaritas untuk korban bencana di Sumatera.
Kegiatan tersebut terpusat di Koridor Gatot Subroto (Gatsu), Rabu (31/12) malam, dan menjadi magnet warga yang ingin merayakan tahun baru dengan cara lebih bermakna.
Refleksi Akhir Tahun Gantikan Pesta Kembang Api
Meski dipadati ribuan pengunjung dan dilengkapi panggung hiburan, suasana malam pergantian tahun terasa lebih khidmat.
Detik-detik pergantian tahun yang biasanya dirayakan dengan kembang api, kali ini diganti dengan penyalaan lilin dan doa bersama.
Sebanyak 1.000 lilin dinyalakan secara serentak sebagai simbol kepedulian terhadap sesama sekaligus refleksi atas perjalanan sepanjang tahun yang telah berlalu.
"Perayaan tahun baru kali ini memang sengaja dikemas sebagai ajang refleksi bersama. Kami mengajak warga Solo untuk menoleh sejenak pada peristiwa-peristiwa sepanjang tahun lalu guna perbaikan di masa mendatang," kata Wali Kota Surakarta, Respati Ardi yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Aksi Donasi untuk Korban Bencana Sumatera dan Kalimantan
Tak hanya doa, kepedulian juga diwujudkan melalui aksi galang dana.
Kotak donasi disebar di berbagai titik keramaian untuk membantu korban bencana di Sumatera.
Pemerintah Kota Surakarta menggandeng PMI Kota Surakarta serta sejumlah lembaga kemanusiaan lainnya untuk menyalurkan hasil donasi tersebut.
"Tak lupa kita perlu mendoakan saudara-saudara kita di Sumatera dan Kalimantan yang tengah menghadapi bencana. Kita sampaikan empati dan doa semoga mereka lekas pulih. Untuk donasinya, nanti akan diakumulasi dari pengunjung yang menyumbang di setiap titik," ucap Respati.
Aksi solidaritas ini menjadi pengingat bahwa momen pergantian tahun tidak hanya soal perayaan, tetapi juga tentang empati dan kebersamaan.
Tetap Meriah Meski Tanpa Kembang Api
Meski tanpa kembang api, malam tahun baru di Solo tetap semarak. Pemerintah kota menyuguhkan beragam hiburan yang tersebar di sejumlah titik strategis.
Beberapa lokasi yang menjadi pusat kegiatan antara lain sepanjang Jalan Slamet Riyadi, kawasan Gatsu–Ngarsopuro, Balai Kota–Pasar Gede, Taman Balekambang, hingga Patung Obor Manahan.
Warga menilai konsep perayaan seperti ini lebih relevan dengan kondisi saat banyak daerah tengah dilanda bencana.
"Walau tampa kembang api malam pergantian tahun di Solo tetap menarik. Masih banyak hiburan yang bisa dinikmati. Tetapi yang paling penting kita diajak untuk lebih peduli sesama lewat doa bersama dan galang dana untuk bencana Sumatera ini," hemat Fransiska Anna, salah seorang warga Solo yang melewati malam pergantian tahun di Koridor Gatsu.
Malam pergantian tahun di Solo kali ini menjadi simbol perubahan cara memaknai perayaan. Dari sekadar hiburan, bergeser menjadi ruang refleksi, kepedulian, dan solidaritas sosial.
Di tengah duka yang dialami saudara-saudara di daerah bencana, Solo menunjukkan bahwa menyambut tahun baru juga bisa dilakukan dengan empati dan doa—sebuah pesan kuat tentang kemanusiaan di awal tahun. (ves/lz)
Editor : Laila Zakiya