SOLOBALAPAN.COM - Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025 menjadi momentum emas bagi Pasar Gede Solo.
Pasar legendaris ini mengalami lonjakan kunjungan wisatawan hingga dua kali lipat, dengan jumlah pengunjung yang mencapai 6.000 orang per hari, terutama saat akhir pekan.
Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Gede, Jumadi, mengungkapkan bahwa tren peningkatan pengunjung sudah terasa sejak kehadiran sentra kuliner di lantai dua.
Namun, lonjakan paling signifikan terjadi saat libur panjang Nataru.
“Di Pasar Gede ini memang terjadi lonjakan pengunjung dan saya prediksi sampai pekan depan. Sejak ada kuliner di lantai dua memang sudah mulai padat didatangi wisatawan,” kata Jumadi, Sabtu (27/12).
Tak hanya wisatawan lokal, pengunjung Pasar Gede juga datang dari berbagai daerah di Indonesia.
Jumadi menyebut, keberagaman asal wisatawan terlihat dari kendaraan yang terparkir di sekitar area pasar.
“Kalau saya lihat dari plat mobil hampir seluruh Pulau Jawa datang ke sini, bahkan dari luar pulau juga banyak seperti Lampung dan Sulawesi,” ujarnya.
Akhir Pekan Jadi Puncak Keramaian
Selama hari kerja, jumlah pengunjung Pasar Gede berkisar antara 2.500 hingga 3.000 orang per hari. Namun, angka tersebut melonjak tajam saat akhir pekan dan libur panjang.
“Sejak pukul 07.00 pagi pasar sudah full. Apalagi yang di lantai dua, antreannya bisa panjang sekali, naik tangga saja sampai mengantre keluar. Waiting list-nya bisa sampai ratusan,” ungkapnya.
Fenomena ini tak lepas dari daya tarik wisata kuliner Pasar Gede yang kian tertata.
Sebanyak 112 pedagang telah bekerja sama dengan Dinas Perdagangan sejak 2023 untuk memastikan pemerataan pembeli melalui penataan ulang lokasi, layout, hingga peningkatan pelayanan.
“Kalau masih ada yang sepi, kami usahakan dikenalkan lagi. Pelayanannya ditingkatkan, lokasinya diperbaiki. Jadi lonjakan pengunjung ini tetap bisa masuk meski harus menunggu tempat,” jelas Jumadi.
Pengamanan dan Kebersihan Jadi Fokus
Menghadapi lonjakan aktivitas selama libur Nataru, paguyuban pedagang bersama Dinas Pasar dan Kantor Pasar juga memperkuat koordinasi terkait ketertiban dan keamanan.
"Selama libur Nataru ini memang banyak pengamen dan pengemis yang masuk. Meski sudah kami kondisikan, masih ada yang kucing-kucingan dengan petugas. Kami juga mengimbau kepada pengunjung untuk selalu menjaga barang bawaannya, mengantisipasi adanya copet,” katanya.
Dari sisi penjualan, hampir seluruh komoditas mengalami peningkatan signifikan, mulai dari kuliner khas Solo, oleh-oleh, hingga buah-buahan.
“Kalau ada 100 orang masuk, minimal 30 orang itu pasti beli. Yang penting ada tempat duduknya,” imbuhnya.
Wisatawan Rela Habiskan Seharian di Solo
Salah satu wisatawan asal Jakarta, Yeti Masrah, mengaku sengaja singgah ke Solo untuk berburu kuliner dan batik setelah dari Yogyakarta.
“Kita ke Solo memang mau cari kuliner dan batik. Tadi beli batik di Kauman, kalau kuliner cobain es dawet Bu Wiji dan selat Vien’s yang lagi viral. Saya baru pertama kali ke Solo, tapi anak saya sudah sering, jadi dia yang nunjukin harus ke mana,” tuturnya.
Hal serupa disampaikan Paula Mukti Lestari yang datang bersama rombongan keluarga dari berbagai daerah.
“Kami pilih Solo karena Jogja sudah terlalu ramai dan macet, meskipun ternyata Solo juga macet. Tapi di sini makanannya banyak, kami beli oleh-oleh buat keluarga di rumah,” katanya.
Dengan waktu libur yang terbatas, rombongan Paula memilih memaksimalkan satu hari penuh di Solo.
“Hari ini memang kita puas-puasin jalan-jalan, karena besok sudah harus balik. Senin sudah mulai kerja lagi,” pungkasnya.
Lonjakan wisatawan selama libur Nataru 2025 ini menegaskan posisi Pasar Gede Solo sebagai destinasi wisata kuliner dan belanja yang semakin diperhitungkan, sekaligus menjadi penggerak ekonomi lokal yang nyata. (alf/lz)
Editor : Laila Zakiya