SOLOBALAPAN.COM - Perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) di Kabupaten Boyolali diperkirakan membawa konsekuensi serius terhadap persoalan lingkungan.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Boyolali memperkirakan kenaikan timbulan sampah rata-rata mencapai 20 persen, bahkan di sejumlah lokasi tertentu lonjakannya bisa menembus angka 100 persen.
Kepala DLH Boyolali, Suraji, menyebutkan bahwa prediksi tersebut merujuk pada pola peningkatan aktivitas masyarakat di titik-titik keramaian setiap akhir tahun.
Sejumlah kawasan yang diperkirakan mengalami lonjakan ekstrem antara lain kompleks perkantoran terpadu dan Alun-Alun Kidul Boyolali.
Selain itu, peningkatan volume sampah juga diprediksi terjadi di sepanjang Jalan Merdeka Timur, meliputi Boulevard Soekarno, Taman Hutan Kota Soekarno, Perempatan Tugu Jagung, Monumen Susu Tumpah, Simpang Siaga, hingga Taman Kota Sono Kridanggo.
“Timbulan sampah secara umum berdasarkan pengalaman tahun lalu, diperkirakan 20 persen. Tahun ini ada kemungkinan naik, bisa jadi karena long week end, dan tren masyarakat untuk merayakan tahun baru di luar rumah,” jelas Suraji kepada Jawa Pos Radar Solo, Minggu (28/12).
Mengantisipasi lonjakan tersebut, DLH Boyolali tidak bergerak sendiri.
Koordinasi lintas dinas dilakukan untuk memastikan pengelolaan sampah di lokasi keramaian berjalan optimal.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah mengimbau pedagang kaki lima (PKL) agar menyediakan kantong sampah di area berdagang.
Pedagang juga diminta aktif mengumpulkan sampah di tempat yang telah disediakan DLH maupun Tempat Penampungan Sementara (TPS) terdekat.
“Atau dikelola sendiri baru sisanya dikirim ke TPS terdekat. Kita juga mengajak para pedagang untuk lebih peduli kebersihan dengan ikut bersih-bersih lokasi berdagang bersama DLH,” ujarnya.
Tak hanya itu, selama momentum Nataru DLH Boyolali juga menambah jumlah tempat sampah dan menyiagakan lebih banyak petugas kebersihan di titik-titik rawan penumpukan sampah.
Suraji menambahkan, pihaknya turut menggandeng paguyuban pemulung untuk ikut berperan aktif dalam menjaga kebersihan kawasan publik selama perayaan akhir tahun.
“Kami menghimbau masyarakat untuk menempatkan sampah pada tempatnya dan berusaha mengurangi penggunaan bahan sekali pakai berpotensi menjadi sampah, terutama plastik,” tambahnya.
Menurut DLH Boyolali, jenis sampah yang paling mendominasi selama Nataru masih berkutat pada bungkus makanan dan minuman, seperti kantong plastik, gelas plastik, styroform, serta sisa makanan.
Lonjakan ini menjadi tantangan sekaligus pengingat pentingnya kesadaran bersama menjaga kebersihan ruang publik di tengah euforia perayaan akhir tahun. (fid/lz)
Editor : Laila Zakiya