Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Heboh Isu Salah Alamat! Ini Penjelasan Lengkap soal Posisi Putri Maha Menteri Tedjowulan di Kementerian Kebudayaan

Silvester Kurniawan • Minggu, 14 Desember 2025 | 23:42 WIB

 

Menteri Kebudayaan ke Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada 23 Januari 2025 disambut Maha Menteri KGPA Tedjowulan.
Menteri Kebudayaan ke Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada 23 Januari 2025 disambut Maha Menteri KGPA Tedjowulan.

SOLOBALAPAN.COM - Isu keterlibatan keluarga Keraton Surakarta dalam struktur Kementerian Kebudayaan kembali memantik perbincangan publik.

Kali ini, sorotan tertuju pada posisi BRAy Putri Woelan Sari, putri dari KGPH Panembahan Agung (Maha Menteri) Tedjowulan, yang diketahui menjabat sebagai staf khusus menteri.

Keresahan datang dari pihak KPGH Purboyo yang menilai keberadaan Putri Tedjowulan di kementerian tersebut dinilai “salah alamat”.

Namun tudingan itu langsung mendapat respons tegas dari juru bicara Maha Menteri Tedjowulan, KP Pakoenagoro.

Staf Khusus Sudah Dilantik Jauh Sebelum PB XIII Wafat

KP Pakoenagoro menegaskan bahwa pengangkatan BRAy Putri Woelan Sari sebagai Staf Khusus Menteri Bidang Hukum dan Kekayaan Intelektual di Kementerian Kebudayaan tidak berkaitan sama sekali dengan dinamika suksesi Keraton Surakarta Hadiningrat.

“Dilantik sebagai stafsus sudah lama, sebelum PB XIII meninggal jadi tidak ada kaitannya dengan suksesi Keraton Surakarta Hadiningrat,” kata dia.

Penjelasan ini sekaligus membantah anggapan bahwa posisi tersebut digunakan untuk kepentingan politik internal keraton pascawafatnya SISKS Pakoe Boewono XIII.

Peran Kunci sebagai Penghubung Tim Lima dan Kementerian

Lebih lanjut, KP Pakoenagoro menjelaskan bahwa tugas utama Putri Tedjowulan justru berada pada fungsi komunikasi strategis.

Ia menjadi penghubung antara Kementerian Kebudayaan dengan Tim Lima, sebuah kelompok kerja yang dibentuk bersama PB XIII sekitar satu tahun lalu.

“Stafsus menjadi penghubung antara kementerian dengan Tim Lima yang dipimpin Maha Menteri Panembangan Agung Tedjowulan. Jadi sepeninggalnya SISKS PB XIII, belum ada penggantinya. Anggota nomor 2 (PB XIII) belum ada arahan digantikan oleh siapa,” kata dia.

Tim Lima sendiri terdiri dari tokoh-tokoh utama keraton, yakni KGPH Panembahan Agung Tedjowulan, SISKS Pakoe Boewono XIII, GKR Wandansari (Gusti Moeng), BKRAy Haantowiyah, dan KRAy Krisnina Maharani.

Undangan Pertemuan Dinilai Wajar dan Kontekstual

Pasca wafatnya PB XIII, Kementerian Kebudayaan mengundang sejumlah tokoh keraton, termasuk istri PB XIII serta dua putra laki-lakinya, KGPH Mangkubumi dan KGPH Purboyo.

Langkah ini disebut wajar karena posisi PB XIII dalam Tim Lima belum memiliki pengganti resmi.

KP Pakoenagoro menilai, undangan tersebut murni berkaitan dengan agenda pelestarian budaya, bukan konflik internal.

“Revitalisasi dan Konservasi tentu berhubungan erat dengan tata kelola karena fokus besar Tim Lima di Pengelolaan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Pertemuan sebelumnya (saat PB XIII masih hidup, Red) Januari 2025, jauh sebelum surut dalem. Jadi aneh saja kalau dihubungkan dengan suksesi dan kubu-kubuan. Kita fokus pada penyelamatan dan pemajuan keraton,” ucap Jubir Maha Menteri Tedjowulan itu.

Fokus Utama: Penyelamatan dan Pemajuan Keraton

Adapun agenda utama Tim Lima mencakup revitalisasi Panggung Sanggabuana, konservasi tata pamer museum, serta pengembangan area dan bangunan keraton lainnya sebagai cagar budaya nasional.

Dengan penjelasan ini, pihak Maha Menteri menilai keresahan yang berkembang telah keluar dari konteks dan berpotensi menyesatkan opini publik.

Posisi Putri Tedjowulan ditegaskan sebagai bagian dari upaya komunikasi dan pelestarian budaya, bukan instrumen konflik internal Keraton Surakarta Hadiningrat. (ves/lz)

Editor : Laila Zakiya
#keraton solo #Kementerian Kebudayaan #Tedjowulan