SRAGEN, SOLOBALAPAN.COM – Temuan benda purbakala kembali mengemuka di Kabupaten Sragen. Dua arca kuno yang diduga berasal dari periode Hindu-Buddha antara abad ke-10 hingga ke-13 M ditemukan di Kampung Teguhan, Kelurahan Sragen Wetan, Jumat (12/12). Temuan itu muncul saat warga membongkar rumah milik keluarganya.
Pantauan di lokasi menunjukkan sedikitnya tiga benda bersejarah berhasil diangkat. Dua di antaranya berupa arca, sementara satu lainnya diduga batu lumpang.
Selain itu ditemukan pula teko keramik putih bermotif bunga yang ditaksir berasal dari Jepang pada awal 1900-an.
Arca pertama terbuat dari batu hitam, memiliki tinggi 48 sentimeter dan lebar 26 sentimeter. Berdasarkan karakter visual, arca ini diidentifikasi sementara sebagai perwujudan Agastya.
Sementara arca kedua berbahan batu putih berukuran tinggi 43 sentimeter dan lebar 24,5 sentimeter, namun jenisnya belum dapat dipastikan.
Pamong Budaya Bidang Kebudayaan Disdikbud Sragen, Anjarwati Sri Sayekti, menjelaskan bahwa tingkat korosi tinggi pada kedua arca menyulitkan identifikasi awal. Namun, sejumlah ciri pada arca batu hitam memperkuat dugaan bahwa itu adalah Arca Agastya.
“Ada sandaran, bentuk bulan pada bagian kepala, serta perut yang buncit. Arca semacam ini biasanya diproduksi sejak masa Hindu-Buddha sekitar abad ke-10 hingga ke-13 M dan digunakan untuk peribadatan,” terang Anjarwati.
Ia menambahkan, jenis batuan dari kedua arca mengindikasikan asal lokal. Batu putih lazim digunakan untuk arca di wilayah utara Bengawan Solo, sedangkan batu hitam banyak ditemukan di wilayah selatan.
Tingginya tingkat korosi juga menunjukkan karakter batuan lokal, berbeda dengan batu dari kawasan Kota Praja masa lalu yang cenderung lebih berkualitas.
Penemuan dua arca di satu lokasi memunculkan dugaan bahwa keduanya mungkin merupakan bagian dari struktur candi. Dalam tradisi arca peribadatan, pasangan arca kerap ditempatkan pada empat arah mata angin.
“Bisa jadi arca ini dahulu berasal dari sebuah candi, kemudian dibawa pemiliknya ke rumah, dan hari ini ditemukan kembali,” ujarnya.
Lebih lanjut, Anjarwati menyebut diperlukan penelitian mendalam untuk menelusuri asal-usul dan fungsi kedua arca tersebut.
Sementara itu, pemilik rumah sekaligus penemu arca, Priyanto, membenarkan bahwa temuan tersebut muncul ketika rumah keluarganya hendak dibangun ulang.
Ia menduga benda-benda itu merupakan peninggalan leluhurnya yang beragama Buddha dan dulu dipakai untuk peribadatan pribadi.
“Setelah ini, harapannya bisa disimpan oleh keluarga saja,” ujarnya. (din/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto