Kejadian ini langsung memicu perhatian publik, karena program MBG selama ini menjadi penopang pemenuhan gizi harian anak sekolah di wilayah tersebut.
Total 2.292 penerima manfaat dari jenjang TK/KB, SD, SMP, hingga SMK terpaksa tidak mendapatkan layanan pada Senin dan Selasa (8–9/12).
Kondisi ini menjadi kali pertama dapur MBG Kroyo berhenti sejak mulai beroperasi 27 Oktober lalu.
Dana BGN Telat Turun, Operasional Terpaksa Berhenti
Kepala SPPG Dapur Kroyo, Hanang Kurniadi Sri Atmojo, membenarkan layanan sempat macet karena persoalan anggaran.
"Selama dua hari, Senin dan Selasa, kami tidak mengirim/melayani MBG ke sekolah-sekolah. Hari ini, Rabu, sudah ada pelayanan kembali seperti semula," ujarnya.
Hanang menjelaskan bahwa keterlambatan pendanaan dari pusat menjadi penyebab utama. Sisa dana yang tersedia sudah habis sehingga operasional tidak bisa dilanjutkan.
"Sisa uang sudah habis, jadi kita terpaksa menunggu. Kami sudah mengajukan proposal untuk diajukan 12 hari ke depan," katanya.
Ia menegaskan bahwa kondisi ini bukan kelalaian dapur, melainkan karena aturan teknis yang melarang SPPG menalangi dana lebih dulu.
Ketika anggaran habis, operasional harus dihentikan sementara.
"Soal petunjuk teknis, pihak dapur memang tidak diperbolehkan menalangi dahulu. Kalau anggaran habis, memang aturannya harus tutup dulu," tegasnya.
Bukan Hanya Kroyo yang Terimbas
Menurut Hanang, bukan hanya SPPG Kroyo yang berhenti melayani.
Ada dapur lain di wilayah Karangmalang yang bahkan sudah tidak beroperasi sejak Jumat pekan lalu.
Situasi ini mengindikasikan bahwa keterlambatan dana BGN diperkirakan berdampak lebih luas.
SPPG Kroyo telah mengirimkan pemberitahuan resmi kepada sekolah agar informasi bisa segera diteruskan kepada orang tua.
Hal ini penting agar siswa bisa menyiapkan bekal atau tambahan uang saku.
Sekolah Gerak Cepat Beri Informasi ke Orang Tua
Kepala SDN Kroyo, Didik Prihantoro, membenarkan adanya edaran penghentian sementara layanan MBG.
"Saat ada pemberitahuan tidak dikirim MBG, kita sampaikan ke orang tua. Tujuannya biar ada antisipasi, entah itu membawa bekal dari rumah atau menambah uang saku siswa," ujar Didik.
Respon cepat sekolah menjadi penting agar anak-anak tetap mendapatkan asupan makan selama layanan terhenti.
Penyesuaian Saat Libur Sekolah, Tapi Layanan Balita & Busui Wajib Jalan
Terkait libur semester, Hanang menyebutkan bahwa layanan MBG akan menyesuaikan kebijakan sekolah.
Jika sekolah meminta layanan tetap berjalan, dapur harus siap. Namun, jika sekolah libur, dapur ikut berhenti.
"Kita tergantung pada pihak sekolah. Kalau sekolah berkenan memberikan makanan pada liburan, pihak dapur ya harus siap. Kalau tidak, ya dapur libur juga," jelasnya.
Meski demikian, Hanang menegaskan bahwa layanan untuk kelompok rentan — terutama balita dan ibu menyusui — **tidak boleh berhenti**.
"Pelayanan tidak bisa berhenti ikut libur," pungkasnya. (din/lz)
Editor : Laila Zakiya