SRAGEN, SOLOBALAPAN.COM – Kabupaten Sragen kembali dihantam bencana hidrometeorologi setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut pada Kamis (4/12) sore.
Curah hujan tinggi sejak pukul 13.00 WIB memicu dua bencana sekaligus, yakni tanah longsor dan banjir, yang mengganggu aktivitas warga di sejumlah kecamatan.
Insiden ini menambah daftar panjang bencana hidrometeorologi yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia menjelang puncak musim hujan, seperti banjir bandang maupun longsor.
Longsor di Ngrampal
Dampak paling signifikan terjadi di Dukuh Wareg, Desa Ngarum, Kecamatan Ngrampal. Sebuah tebing tanah longsor dengan ukuran cukup besar.
Camat Ngrampal, Sudarsini, menyebut longsoran memiliki kedalaman sekitar 6 meter dan panjang material kurang lebih 11 meter.
“Kami bersama BPBD sudah memantau lokasi dan memasang tanda peringatan agar tidak membahayakan warga,” jelasnya.
Banjir Genangi Empat Titik
Selain longsor, banjir turut merendam pemukiman di beberapa wilayah, di antaranya:
-
Desa Kebonromo, Kecamatan Ngrampal
-
Kelurahan Plumbungan, Kecamatan Karangmalang
-
Kawasan dekat Makam Haji, Kelurahan Sragen Kulon, Kecamatan Sragen
-
Desa Pengkok, Kecamatan Kedawung
Camat Karangmalang, Dani Wahyu Setiawan, mengatakan pihaknya masih memonitor kondisi di wilayah rawan banjir tersebut. Sementara itu, Lurah Sragen Kulon, Prima Adi Surya, memastikan genangan air di wilayahnya sudah mulai surut.
BPBD Lakukan Asesmen
Kepala Pelaksana Harian BPBD Sragen, R. Triyono Putro, menyampaikan bahwa timnya masih melakukan asesmen komprehensif di seluruh titik terdampak.
“Setelah data lengkap, akan segera kami sampaikan kepada masyarakat,” tegasnya.
Peringatan Kesiapsiagaan
Bencana yang terjadi di Sragen menjadi pengingat penting bagi pemerintah daerah dan masyarakat terkait tingginya risiko hidrometeorologi di musim penghujan. BNPB mencatat, sepanjang tahun ini banjir dan longsor mendominasi kejadian bencana di Indonesia, dipicu intensitas hujan ekstrem serta kondisi lingkungan yang rentan.
Penguatan sistem drainase, penataan ruang wilayah, serta edukasi mitigasi longsor menjadi langkah prioritas yang perlu diperkuat mengingat ancaman diperkirakan meningkat seiring perubahan iklim. (din/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto