Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Hajad Dalem Jumenengan PB XIV Tanpa Tari Sakral Bedhaya Ketawang! GKR Timoer Ungkap Alasannya

Silvester Kurniawan • Sabtu, 15 November 2025 | 01:16 WIB
Putri tertua PB XIII, GKR Timoer Rumbay didampingi saudaranya dan Gusti Dipokusumo dalam jumpa pers persiapan jumenengan PB XIV, Jumat (14/11/2025).
Putri tertua PB XIII, GKR Timoer Rumbay didampingi saudaranya dan Gusti Dipokusumo dalam jumpa pers persiapan jumenengan PB XIV, Jumat (14/11/2025).

SOLOBALAPAN.COM – Mengingat pengukuhan KGPH Purboyo sebagai penerus tahta masih dalam suasana duka sepeninggalnya SISKS Pakoe Boewono (PB) XIII Hangabehi, prosesi Hajad Dalem Jumenengan Dalem Nata Binayangkare SISKS PB XIV pada Sabtu (15/11/2025) besok, dipastikan akan dihelat tanpa pementasan tarian sakral Bedhaya Ketawang.

GKR Timoer Rumbay Dewayani, Ketua Pelaksana upacara penobatan raja baru Kasunanan, menegaskan bahwa peniadaan tarian sakral tersebut telah dipikirkan matang-matang dan tidak menyalahi aturan adat di lingkungan Keraton Surakarta Hadiningrat.

“Ini masih dalam situasi berkabung, jadi tidak harus dibawakan. Selain itu Bedhaya Ketawang biasanya dibawakan di Tingalan Dalem Jumenengan, yang bisa kita artikan sebagai peringatan kenaikan tahta atau ulang tahun kenaikan tahta. Jadi tidak harus saat penobatan,” kata Gusti Timoer, anak tertua PB XIII Hangabehi.

Fakta Sejarah: Hanya Sekali Dibawakan Saat Pelantikan

Baca Juga: Hajad Dalem Jumenengan PB XIV Digelar Sabtu Pagi: Dimulai Prosesi Pengukuhan Raja Baru di Dalem Ageng Dilanjutkan Deklarasi Publik di Siti Inggil

Gusti Devi, putri PB XIII lainnya, menambahkan bahwa pementasan Tarian Sakral Bedhaya Ketawang saat pelantikan, penobatan, atau pengukuhan raja hanya pernah terjadi satu kali, yaitu pada masa ayahnya (PB XIII) menggelar jumenengan untuk kali pertama.

Hal itu terjadi karena penobatan sang ayah sudah lewat lebih dari 100 hari sejak PB XII (raja sebelumnya) meninggal dunia.

“Itu hanya terjadi satu kali saat PB XIII, jadi yang lainnya pada saat jumeneng tidak diikuti dengan Bedhaya Ketawang. Saat PB XIII dihelat dengan Bedhaya Ketawang itu sudah lewat masa berkabung,” imbuh Devi, memperkuat bahwa keputusan ini murni sesuai paugeran adat.

Prosesi pengukuhan PB XIV akan berlangsung tertutup di Dalem Ageng, Keraton Kasunanan Surakarta, dan dilanjutkan dengan deklarasi publik di Siti Inggil, yang menjadi penanda bersejarah di tengah masa berkabung keluarga. (ves/dam)

 

Editor : Damianus Bram
#Jumenengan #Gusti Purboyo #keraton solo #keraton kasunanan surakarta #pb xiv #Bedhaya Ketawang #KGPH Purboyo