Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Apa Itu Kori Kamandungan Kidul? Dilewati Raja Solo Sinuhun Pakubuwono XIII Hanya Ketika Sudah Mangkat, Ternyata Punya Larangan Ini

Laila Zakiya • Rabu, 5 November 2025 | 18:45 WIB

 

Kori Kamandungan Kidul yang dilarang dilewati Raja Solo semasa hidup.
Kori Kamandungan Kidul yang dilarang dilewati Raja Solo semasa hidup.

SOLOBALAPAN.COM — Di balik megahnya tembok biru Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, terdapat satu gerbang yang menyimpan misteri dan sakralitas mendalam: Kori Kamandungan Kidul.

Bagi masyarakat keraton, gerbang ini bukan sekadar pintu masuk, melainkan batas antara kehidupan dan keabadian — karena seorang raja hanya melewatinya sekali dalam seumur hidup, yakni saat beliau telah wafat.

Gerbang yang dijuluki “gerbang terlarang” ini hanya akan terbuka ketika prosesi Tindak Dalem**, atau pengantaran jenazah raja menuju tempat peristirahatan terakhir di Astana Imogiri, dilaksanakan.

Itulah yang kembali terjadi pada Rabu, 5 November 2025, ketika jenazah Sri Susuhunan Pakubuwono XIII diberangkatkan dari Bangsal Magangan melalui Kori Kamandungan Kidul, menuju perjalanan terakhirnya ke Yogyakarta.

Gerbang yang Tak Boleh Dilalui Raja Saat Hidup

Menurut tradisi turun-temurun, selama masih berkuasa, seorang Sinuhun tidak diperkenankan melangkah melewati Kori Kamandungan Kidul.

Gerbang ini dianggap sebagai simbol peralihan dari dunia fana menuju swarga, alam abadi para leluhur Mataram.

Karena itu, setiap prosesi kematian raja selalu dimulai dari Bangsal Magangan, tempat persemayaman jenazah, lalu menuju Kori Kamandungan Kidul — menandai perpisahan sang penguasa dari dunia.

Begitu pintu megah itu dibuka, suasana keraton berubah hening.

Hanya suara gamelan sitinggil selatan yang mengiringi langkah-langkah prajurit mengusung peti jenazah menuju Alun-Alun Kidul, melewati Gapura Gading, sebelum akhirnya menuju Astana Raja-Raja Imogiri di Bantul.

Setiap langkahnya disertai doa dan penghormatan terakhir: “Sugeng tindak, Sinuhun. Swargi langgeng.”

Makna Filosofis: Dari Duniawi Menuju Abadi

Kerabat Keraton, KPH Eddy Wirabhumi, menjelaskan bahwa seluruh tata ruang Keraton Kasunanan Surakarta dirancang berdasarkan filosofi hidup manusia — dari kelahiran hingga kematian.

“Bagian depan keraton melambangkan kehidupan, sementara Alun-Alun Selatan menggambarkan alam setelah kematian,” ujarnya.

Dalam konteks ini, Kori Kamandungan Kidul menjadi gerbang simbolis menuju “awang-uwung”, atau ruang kosong spiritual tempat jiwa menuju Sang Pencipta.

Itulah sebabnya, raja yang telah berpulang selalu diberangkatkan ke arah selatan — meninggalkan sisi duniawi menuju dimensi spiritual.

Bagi warga keraton, ritual ini bukan sekadar adat, melainkan wujud penghormatan tertinggi terhadap raja dan alam semesta yang menaungi manusia.

Prosesi Sakral Pengantaran Pakubuwono XIII

Rabu pagi (5/11), prosesi diawali dengan brobosan — tradisi penghormatan keluarga yang berjalan di bawah usungan jenazah.

Peti kemudian diusung menuju Bangsal Magangan, untuk dipindahkan ke kereta kencana yang ditarik delapan ekor kuda, diikuti tiga kereta tambahan berisi perlengkapan upacara dan prajurit.

Dari situ, iring-iringan bergerak perlahan ke selatan melewati Alun-Alun Kidul, lalu ke Perempatan Gading, dan berlanjut menuju Loji Gandrung.

Di titik itu, jenazah dipindahkan ke mobil ambulans untuk perjalanan darat ke Astana Imogiri, Bantul, tempat raja-raja Mataram Islam dimakamkan.

Sementara di Yogyakarta, Polda DIY menyiapkan rekayasa lalu lintas di sepanjang jalur Prambanan – Janti – Imogiri Timur, guna memastikan perjalanan jenazah berjalan tertib dan khidmat.

Kori Kamandungan Kidul: Simbol Keabadian Raja

Bagi masyarakat Surakarta, Kori Kamandungan Kidul bukan sekadar pintu fisik, tetapi lambang perjalanan spiritual seorang raja — meninggalkan dunia fana menuju alam baka.

Gerbang itu menjadi pengingat bahwa kekuasaan hanyalah sementara, sementara kebajikan dan warisan budaya akan hidup abadi dalam ingatan rakyatnya. (lz)

Mikel Arteta pelatih Arsenal
Mikel Arteta pelatih Arsenal
Editor : Laila Zakiya
#Kori Kamandungan Kidul #keraton solo #Pakubuwono XIII