SOLOBALAPAN.COM – Tragedi kuliner di Solo. Warung bakso yang berlokasi di Kelurahan Joyosuran, Pasar Kliwon, kini ditutup sementara.
Keadaan memanas setelah terjadi kontradiksi pernyataan antara pemilik usaha dan putrinya mengenai dugaan penggunaan bahan non-halal.
Didik Anggono, Kepala Satpol PP Kota Solo, mengonfirmasi penutupan sementara tersebut.
“Pemiliknya, Pak Sugino, waktu ditanya dua kali menyatakan bahwa produk baksonya non halal. Karena pengakuan itu disampaikan langsung di hadapan tim, maka kami tindaklanjuti dengan penutupan sementara,” terang Didik.
Namun, anak dari Pak Sugino, Thirthania Laura Damayanthie, dengan tegas membantah tuduhan itu.
Ia menyebut peristiwa itu hanyalah kesalahpahaman yang terjadi saat ayahnya diwawancarai petugas.
“Sebenarnya bakso kita itu halal. Tapi karena bapak saya waktu diwawancarai petugas bingung antara halal dan non halal, beliau menjawabnya salah,” terang Laura, yang menjelaskan ayahnya masih dalam kondisi "linglung" karena baru pulang dari rumah sakit.
Kejanggalan Sampel dan Janji Klarifikasi Publik
Laura menegaskan keluarganya adalah muslim dan seluruh bahan baku dibeli dari pemasok sapi lokal dengan surat jalan yang lengkap.
Sementara bahan pelengkap seperti bumbu dan saus juga dibeli dari toko yang sudah bersertifikasi halal. Ia membantah keras penggunaan babi atau sejenisnya.
Namun, di tengah bantahan ini, Laura mengungkap adanya kejanggalan dalam proses pengujian.
“Kami heran juga, katanya sampelnya sudah ada di lab. Tapi setahu kami belum ada yang datang ambil dari sini. Jadi kami tidak tahu sampel itu dari mana,” ujarnya dengan nada bingung.
Sementara itu, sejumlah warga dan pelanggan datang silih berganti, sebagian ingin memastikan kebenaran kabar, sebagian lain mempertanyakan kejelasan status kehalalan produk.
Kondisi itu membuat Laura dan para pegawainya merasa tidak nyaman.
“Sebenarnya tadi pagi petugas Satpol PP datang dan menyarankan agar warung tutup sementara mulai malam hari, setelah stok habis. Tapi karena siang suasananya sudah ramai dan agak panas, kami memutuskan untuk tutup lebih awal demi keamanan,” ujar Laura.
Dia menegaskan, penutupan itu bukan bentuk pengakuan bersalah, melainkan langkah sementara untuk menenangkan situasi dan menghindari kesalahpahaman lebih lanjut.
“Kami tutup bukan karena bersalah, tapi karena situasi sudah tidak kondusif. Takut ada hal yang tidak diinginkan,” tegasnya.
Selama hampir tiga dekade, warung tersebut menjadi salah satu tujuan warga sekitar dan pelanggan lama dari berbagai daerah.
“Berdirinya sejak sekitar 1997-an. Jadi memang sudah lama banget, bapak saya yang buka sendiri,” tutur Laura.
Menariknya, sang ayah dari Laura ternyata masih memiliki hubungan keluarga dengan pemilik warung legendaris bakso dengan nama yang sama di Kartopuran, yang dikenal luas masyarakat Solo.
“Bapak itu adik dari pemilik bakso di Kartopuran. Jadi bisa dibilang, dulu beliau buka cabang sendiri di Gading,” ungkapnya.
Kini, warung yang dikelola Laura mempekerjakan sembilan pegawai dan melayani ratusan pelanggan setiap harinya.
Laura berencana segera melakukan klarifikasi publik melalui akun resmi media sosial warungnya setelah hasil lab diterima.
“Kita tunggu hasil lab saja. Harapan kami masyarakat tetap tenang dan tidak langsung percaya pada kabar yang belum tentu benar. Kami ingin menjaga kepercayaan pelanggan yang sudah puluhan tahun mendukung kami,” pungkasnya. (atn/dam)
Editor : Damianus Bram