Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Dua Firasat Jelang Wafatnya Raja Keraton Solo PB XIII, Diungkap oleh Gusti Neno dan Gusti Moeng

Didi Agung Eko Purnomo • Selasa, 4 November 2025 | 03:18 WIB
Paku Buwono XIII duduk di singgasana raja saat acara Tingalan Dalem Jumenengan Paku Buwono (PB) XIII ke-21 Keraton Kasunanan Surakarta, Sabtu (26/1/2025).
Paku Buwono XIII duduk di singgasana raja saat acara Tingalan Dalem Jumenengan Paku Buwono (PB) XIII ke-21 Keraton Kasunanan Surakarta, Sabtu (26/1/2025).

SOLOBALAPAN.COM - Wafatnya Raja Keraton Kasunanan Surakarta, Sinuhun Pakubuwono (PB) XIII, pada Minggu (2/11/2025) pagi, menyisakan duka mendalam.

Namun, di balik kabar duka tersebut, tersimpan kisah-kisah sasmita atau firasat (pertanda) yang sempat dirasakan oleh para adik almarhum sebelum sang raja berpulang.

Dua adik PB XIII, Gusti Neno (KGPH Surya Wicaksana) dan Gusti Moeng (GKR Wandansari), mengaku merasakan pertanda yang berbeda, mulai dari peristiwa alam yang tak biasa hingga bayangan aneh yang muncul.

Pertanda Alam: Pohon Jambu Mete Tumbang di Langenharjo

Pertanda pertama datang dari peristiwa alam.

Gusti Neno menceritakan bahwa beberapa hari sebelum PB XIII wafat, sebuah pohon tua berukuran besar tumbang di Pesanggrahan Langenharjo.

Sebagai informasi, Pesanggrahan Langenharjo (Grogol, Sukoharjo) adalah tempat peristirahatan spiritual yang dibangun oleh Pakubuwono IX pada tahun 1870.

Lokasi ini dikenal kental nuansa mistis dan sering diyakini sebagai tempat munculnya perlambang atau sinyal alam.

"Jadi pada 31 Oktober 2025 beberapa hari lalu, pohon itu (pohon jambu mete) tumbang saat hujan deras dan angin kencang," ujar Gusti Neno, Minggu (2/11/2025).

Saat itu, tumbangnya pohon tersebut hanya dianggap sebagai musibah biasa.

Namun, begitu kabar wafatnya Sinuhun PB XIII tersiar, tak sedikit masyarakat yang langsung mengaitkan peristiwa itu sebagai sasmita atau sinyal duka dari alam.

"Dan memang biasanya di Pesanggrahan Langenharjo segala hal terkait alam itu memberikan semacam perlambang atau sinyal atau sasmita," jelas Gusti Neno.

Firasat Gusti Moeng: 'Mempersiapkan Pesta'

Firasat yang lebih personal dirasakan oleh adik kandung Sinuhun, Gusti Moeng.

Ia mengaku sempat resah oleh cuaca buruk dalam beberapa hari terakhir.

Namun, puncak firasatnya adalah munculnya bayangan sang kakak yang tak biasa.

Gusti Moeng mengaku "melihat" sang kakak, PB XIII, berada di rumah dengan mengenakan baju koko berwarna putih bersih, seolah sedang bersiap untuk menghadiri sebuah perhelatan besar.

"Boleh percaya atau tidak, saya sudah diberi pralampita (firasat)...

saya merasa (melihat) lagi di rumahnya Sinuhun pakai baju koko putih, terus lagi mempersiapkan mau ada pesta," ungkap Gusti Moeng.

Bayangan "pesta" dan baju koko putih bersih itu kini ditafsirkannya sebagai pertanda bahwa sang kakak sedang "bersiap" untuk perjalanan terakhirnya menghadap Sang Pencipta.

Wafat di Tengah Kondisi yang Terus Menurun

Firasat-firasat tersebut menjadi kenyataan pada Minggu pagi pukul 07.30 WIB.

Sinuhun PB XIII wafat di RS Indriati Solo Baru pada usia 77 tahun akibat komplikasi penyakit.

Gusti Moeng mengungkap bahwa kondisi kesehatan sang kakak memang sudah sangat menurun sejak dipaksa menghadiri prosesi adat Adang Tahun Dal pada September lalu.

"Sinuhun sebetulnya sakit banget tapi dipaksa harus tindak (datang) ke pawon... Terlalu diforsir," tuturnya.

Setelah acara itu, kondisi PB XIII terus memburuk akibat gula darah tinggi yang merusak ginjal, hingga akhirnya berpulang ke Rahmatullah. (did)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#gusti moeng #Raja Keraton #firasat #Pakubuwono XIII