SOLOBALAPAN.COM – Dalam momentum Milad ke-67 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), kampus ini tidak hanya menggelar acara seremonial, tetapi juga meresmikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Dapur Makan Bergizi Muhammadiyah.
Peresmian dilakukan pada Jumat (24/10/2025) di bawah koordinasi Koordinator Nasional (Kornas) yang bertugas menyusun strategi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) milik pemerintah.
Program ini merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yang mengamanahkan UMS sebagai salah satu pengelola utama pelaksanaannya.
Baca Juga: Misteri John Titor dan Hilangnya Flight 19: Menguak 3 Teori Konspirasi Fenomena Time Traveler
Melalui inisiatif Makan Bergizi Muhammadiyah (MBM), organisasi Islam terbesar di Indonesia ini berupaya berkontribusi dalam mendukung pembangunan nasional berkelanjutan.
Dakwah Sosial Melalui Ketahanan Gizi
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, menegaskan bahwa program MBM adalah bentuk nyata dakwah amar ma’ruf nahi munkar sebagaimana tertulis dalam Surah Al-Ma’un.
“Al-Ma’un terus kita praktikkan. Bangsa ini memerlukan tangan-tangan berbagi, dan Muhammadiyah menjadi yang terdepan,” ujar Haedar.
Baca Juga: Misteri Abadi! Ini 3 Ramalan Historis yang Dipercaya Terbukti Kebenarannya di Masa Kini
Menurutnya, MBM bukan hanya pemenuhan gizi, tetapi juga wujud kepedulian sosial Muhammadiyah untuk membangun kemandirian masyarakat dan bangsa.
Model Pengembangan SPPG Muhammadiyah
Dalam sambutan Milad ke-67 UMS, Prof. Hilman Latief selaku Penanggung Jawab Kornas MBM PP Muhammadiyah, memaparkan arah pengembangan program ke depan.
Muhammadiyah akan menerapkan lima model SPPG:
-
SPPG model sekolah
-
SPPG model pesantren
-
SPPG model panti asuhan
-
SPPG model kampus
-
SPPG model umum
Baca Juga: Fenomena Absurd! Lagu ‘Yee Tu Hantu’ Kembali Viral di Medsos, Jadi Bahan Candaan Netizen
Hingga tahun 2025, tercatat 125 SPPG telah beroperasi dan 150 lainnya dalam proses pembangunan, tersebar di 17 provinsi dan 97 kabupaten/kota di Indonesia.
“MBM tidak hanya memenuhi nutrisi siswa, santri, dan ibu hamil, tetapi juga memberdayakan masyarakat sekitar,” jelas Hilman.
Fokus pada Ekosistem dan Sinergi
Mulai November 2025, Kornas MBM akan berfokus pada pembangunan ekosistem pelayanan gizi yang terstruktur dan sistematis.
Hilman berharap, sinergi antara perguruan tinggi, majelis, dan lembaga Muhammadiyah semakin diperkuat.
“Kita perlu menyiapkan layanan dan komoditas agar pelayanan MBM lancar dan berdampak ekonomi bagi masyarakat,” tambahnya.
Hingga kini, MBM telah melayani lebih dari 100 ribu penerima manfaat setiap hari tanpa kendala berarti dalam pengelolaan.
Keterlibatan Akademisi dan Masyarakat
Penanggung jawab MBM UMS, Prof. Bambang Sumardjoko menegaskan bahwa program ini melibatkan masyarakat lokal secara langsung dalam operasional dapur.
“Relawan dan tenaga kerja diambil dari warga sekitar. Ini menyerap tenaga kerja dan meningkatkan gizi anak-anak,” tuturnya.
Keunggulan lain SPPG UMS adalah pengawasan ketat oleh akademisi lintas bidang. Dosen dan mahasiswa dari berbagai fakultas seperti Ilmu Gizi, Akuntansi, dan Teknik Kimia turut melakukan penelitian serta memastikan keamanan pangan.
“Kami memastikan semua bahan pangan aman, higienis, dan sesuai standar,” jelas Bambang.
Dari sisi sanitasi dan infrastruktur, dapur UMS telah lulus verifikasi standar Badan Gizi Nasional (BGN) dan dinyatakan layak operasi. (an)
Editor : Andi Aris Widiyanto