Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Ratusan Pengemudi Becak Solo Tolak Kehadiran Bajaj Maxride, Minta Pemkot Bertindak

Silvester Kurniawan • Jumat, 10 Oktober 2025 | 00:40 WIB

KOMPAK : Pengemudi Becak Solo Gelar Rapat Darurat di Depan MPP
KOMPAK : Pengemudi Becak Solo Gelar Rapat Darurat di Depan MPP

SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Ratusan pengemudi becak di Kota Solo merapatkan barisan dan menggelar rapat darurat di depan Mall Pelayanan Publik (MPP), Kamis (9/10).

Aksi ini dipicu oleh keresahan mereka atas munculnya bajaj Maxride, kendaraan roda tiga beraplikasi online yang mulai beroperasi di Solo dalam sepekan terakhir.

Puluhan pengemudi becak tampak berkerumun sejak siang hari. Mereka menyampaikan aspirasi secara bergantian, menuntut agar Pemerintah Kota Surakarta segera mengambil sikap terkait keberadaan armada bajaj tersebut.

Baca Juga: 2 Gelandang Andalan Persis Solo Pulih dari Cedera, Bagaimana Nasib Adriano Castanheira? Ini Update Kondisinya

“Wah ya terganggu sekali. Ini baru ada sedikit (armada bajaj), kalau dibiarkan lama-lama pasti tambah banyak. Becak pasti kalah saing,” ujar Sigit Raharjo (48), salah satu pengemudi becak yang hadir dalam rapat tersebut.

Menurut para pengemudi, dari berbagai sisi, becak tradisional sulit bersaing dengan bajaj yang menggunakan mesin dan sistem aplikasi online. Selain lebih cepat dan berkapasitas lebih besar, tarif bajaj dinilai jauh lebih murah dibandingkan becak manual.

“Kalau bersaing ya jelas kalah becaknya, Mas. Nanti lama-lama bisa tenggelam becaknya. Kalau belum ada izin ya sebaiknya dihapus saja. Yang penting bajaj jangan boleh beroperasi di Solo,” tegas Hermawan Susanto (58), pengemudi becak lainnya.

Baca Juga: Astaga! 5 Siswa Korban Keracunan Nasi Goreng MBG Tawangmangu Dirujuk ke RSUD, Diduga Ada Bakteri dari Makanan

Seluruh usulan dan keluhan dari para pengemudi dicatat oleh pengurus Forum Komunikasi Keluarga Becak (FKKB) untuk disampaikan secara resmi kepada Wali Kota Surakarta, Kapolres, dan Dinas Perhubungan (Dishub).

Koordinator FKKB Kota Surakarta, Sari Ahmad, menyatakan bahwa keberadaan bajaj online sangat meresahkan karena dapat mematikan mata pencaharian pengemudi becak. Apalagi, becak di Solo saat ini tengah digencarkan sebagai transportasi wisata bersejarah, bahkan telah ditetapkan tarif resminya oleh pemerintah kota.

“Kami sangat menolak kehadiran bajaj di Solo. Permasalahan bentor saja belum selesai, sekarang muncul lagi bajaj. Kami akan audiensi ke mas Wali, Kapolres, dan Dishub. Dari seluruh pangkalan, sekitar 500-an pengemudi becak menolak. Becak perlu dipertahankan karena itu bagian dari sejarah Solo,” tegasnya.

Baca Juga: Izin Operasional Belum Jelas, Bajaj Maxride Jadi Ladang Penghasilan Baru Mitra di Solo

Di tengah pertemuan itu, perwakilan Dinas Perhubungan Kota Surakarta, Ari Wibowo, datang menemui para pengemudi becak. Ari menyampaikan bahwa pihaknya sudah memanggil perwakilan Maxride, namun yang datang justru dari Maxauto, pihak dealer penjual armada bajaj, bukan operator aplikasinya.

“Yang hadir bukan Maxride, tetapi Maxauto, dealer yang menjual armadanya. Jadi kami belum bertemu langsung dengan pihak Maxride. Kami akan melaporkan fenomena ini ke kementerian untuk mendapatkan instruksi lebih lanjut,” jelas Ari Wibowo.

Ari juga menambahkan, Dishub masih kesulitan mengambil langkah tegas lantaran belum ada payung hukum yang jelas terkait pengoperasian bajaj berbasis aplikasi di tingkat nasional.

“Langkah penindakan kami juga terbatas karena cantolan hukum di atasnya belum kuat. Kami menunggu arahan dari pusat terkait regulasi angkutan umum roda tiga seperti ini,” pungkasnya. (ves/an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#Bajaj Maxride #pemerintah kota surakarta #mall pelayanan publik #aplikasi #Dinas Perhubungan Kota Surakarta #becak #bajaj #maxride