WONOGIRI, RADAR SOLO — Kasus dugaan keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Slogohimo memunculkan efek psikologis bagi sejumlah santri Pondok Pesantren (Ponpes) Baitul Qur’an, Desa Made.
Para santri dikabarkan trauma usai mendengar peristiwa tersebut, hingga pihak ponpes meminta penghentian sementara pengiriman menu MBG ke lembaganya.
Hal itu diungkapkan salah satu sumber terpercaya kepada Radar Solo, Rabu (8/10/2025).
“Dari pihak ponpes sementara minta disetop setelah ada kejadian itu,” ujarnya.
Menurut informasi yang dihimpun, SPPG Waru Slogohimo berupaya meyakinkan pihak ponpes agar kembali menerima program MBG. Adapun jumlah sasaran penerima program di Ponpes Baitul Qur’an mencapai 110 orang, terdiri dari 65 santri putri dan 45 santri putra.
“Kalau untuk saat ini MBG di dapur itu masih jalan. Forkompimcam juga sudah memantau langsung dan hasilnya berjalan baik. Saya dengar yang stop mungkin hanya sementara, pekan depan bisa dibuka lagi,” imbuh sumber tersebut.
Pemkab Bentuk Satgas Percepatan MBG
Menanggapi insiden tersebut, Bupati Wonogiri Setyo Sukarno menyatakan pihaknya telah membentuk Satgas Percepatan MBG untuk menindaklanjuti kejadian di Slogohimo.
Baca Juga: 168 Siswa SPPG Popongan 2 Diduga Keracunan Usai Program Makan Bergizi Gratis di Karanganyar
“Dari kejadian ini akan kita tindaklanjuti, terutama terkait dampak yang muncul terhadap anak-anak,” kata Setyo.
Ia juga menegaskan akan berkoordinasi dengan Koordinator Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Wilayah Wonogiri untuk memperkuat pengawasan pelaksanaan MBG di lapangan.
“Kami baru mendapatkan informasi ini. Akan kami tindaklanjuti lebih lanjut,” ujarnya.
Setyo menambahkan, hingga Rabu siang (8/10), belum ada laporan resmi yang masuk langsung ke dirinya dari pihak sekolah atau dinas terkait.
“Sampai sekarang belum ada laporan langsung,” tegasnya.
Sebagai tindak lanjut, Pemkab Wonogiri berencana membuka layanan hotline pengaduan MBG agar masyarakat dapat melaporkan keluhan atau temuan terkait distribusi makanan.
“Nanti akan kita buka hotline seperti di wilayah lain. Prinsipnya, program MBG ini sangat membantu masyarakat, jadi harus kita kawal bersama,” jelas Setyo.
Temuan Bakteri di Sampel Makanan
Sementara itu, Wakil Bupati Wonogiri Imron Rizkyarno menyebut terdapat satu siswa yang sempat dirawat di rumah sakit. Namun, pihaknya belum memastikan apakah kasus tersebut berkaitan langsung dengan keracunan MBG.
“Makannya tanggal 30 September, sakit tanggal 1 Oktober, masuk rumah sakit tanggal 4 Oktober. Hari ini informasinya sudah mau pulang,” tutur Imron.
Baca Juga: Kasus Koperasi BLN Memanas, Korban Inventarisasi Aset hingga Bobol Gerbang Pabrik di Ampel
Hasil uji laboratorium yang dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Wonogiri menemukan adanya bakteri Escherichia coli dan Salmonella sp. pada sampel menu MBG yang dibagikan.
“Terkait ponpes yang minta pengiriman dihentikan, itu karena kekhawatiran akan terulangnya kejadian serupa,” imbuh Imron.
Pihaknya juga meminta Koordinator SPPI Wilayah Wonogiri lebih tegas mengawasi para pelaksana lapangan agar distribusi MBG sesuai standar kebersihan dan keamanan pangan.
“Kami minta SPPI independen, tidak terpengaruh pihak manapun. Supaya program ini berjalan baik dan kasus serupa tak terulang,” pungkasnya. (al/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto