Setelah sebelumnya menggeruduk rumah yang diduga milik bos BLN Nicholas Nyoto di Kecamatan Mojosongo, Boyolali, kali ini puluhan korban mendatangi salah satu usaha yang diklaim masih berkaitan dengan koperasi tersebut.
Pada Selasa (7/10) siang, puluhan nasabah BLN mendatangi pabrik penggilingan batu di Desa Tanduk, Kecamatan Ampel, yang disebut-sebut merupakan salah satu unit usaha Koperasi BLN.
Namun, saat tiba di lokasi, massa tidak mendapati aktivitas apa pun di area pabrik. Gerbang utama dikunci rapat menggunakan gembok, dan tak tampak seorang pun di dalam area.
Massa yang kesal kemudian membuka paksa gembok dengan palu, hingga akhirnya bisa masuk ke dalam. Di area pabrik hanya terlihat mesin pemecah batu yang ditinggalkan, tanpa alat berat maupun kendaraan operasional.
Korban Klaim Hanya Ingin Amankan Aset
Juru bicara korban, Aris Carmadi, menyebut kedatangan mereka bukan untuk merampas aset, melainkan untuk melakukan inventarisasi dan pengamanan sementara hingga proses hukum terhadap koperasi tersebut selesai.
“Kami tidak mau mengambil secara pribadi. Kami tidak ingin merampas, tapi mengamankan supaya tidak hilang. Barang bukti ini termasuk punya BLN,” tegas Aris, Selasa (7/10).
Aris menjelaskan, korban yang hadir berasal dari berbagai daerah seperti Rembang, Yogyakarta, Solo, Magelang, Wonosobo, Purwodadi, dan Boyolali.
Menurutnya, pabrik penggilingan batu di Ampel itu sudah beroperasi sejak akhir 2023 dan diduga merupakan salah satu dari tiga usaha yang berafiliasi dengan BLN, selain Nusantara Mobilindo dan biliar center.
Amarah dan Tangis Korban
Di tengah aksi itu, suasana sempat haru saat salah satu korban, Untit Krisnayogi, warga Purwodadi, meluapkan emosinya. Ia mengaku kecewa berat karena dana investasi yang disetorkan ke BLN tak kunjung dikembalikan.
“Saya pinjam uang di bank Rp250 juta untuk ikut program BLN. Tapi sejak akhir 2024 sampai sekarang, belum pernah dapat setoran. Saya cuma ingin uang saya kembali, biar bisa saya setor ke bank lagi, biar saya ora setres,” ujarnya sambil menangis.
Untit juga menceritakan bagaimana keluarganya harus berhemat, bahkan anaknya terpaksa mengurangi uang jajan karena menunggu “kluntingan” atau bagi hasil yang tak kunjung datang dari koperasi.
Polisi Lakukan Pengamanan
Sebelum massa tiba, sejumlah personel Polsek Ampel sudah berada di lokasi untuk mencegah tindakan anarkistis.
Kapolsek Ampel, AKP Sunarto, menegaskan bahwa polisi hadir untuk mengamankan situasi dan mencegah tindak pidana.
“Kami hanya melakukan pengamanan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti pengambilan paksa atau pemukulan kepada penjaga. Karena wilayah ini tanggung jawab kami,” jelas Sunarto.
Sedikitnya 15 personel Polsek Ampel diterjunkan selama aksi berlangsung. Situasi akhirnya berjalan kondusif tanpa kericuhan. (fid/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto