Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Menelusuri Jejak Sejarah dan Akulturasi Islam-Jawa di Masjid Laweyan, Warisan Abadi Kota Solo

Damianus Bram • Selasa, 7 Oktober 2025 | 00:53 WIB
Kolase foto Masjid Laweya Solo.  Masjid tertua Kota Solo.
Kolase foto Masjid Laweya Solo. Masjid tertua Kota Solo.

SOLOBALAPAN.COM – Jauh sebelum dikenal sebagai pusat produksi, Kampung Batik Laweyan adalah jantung ekonomi yang terhubung dengan jalur sungai.

Di tengah megahnya tembok perkampungan ini, berdiri sebuah bangunan tua yang menjadi saksi bisu lahirnya Kota Surakarta.

Itulah Masjid Laweyan, masjid tertua di Kota Solo yang masih berdiri kokoh kurang lebih selama 500 tahun lamanya.

Bukan hanya tempat ibadah, masjid ini juga menjadi cikal bakal penyebaran agama Islam, perdagangan batik, dan simbol akulturasi budaya Jawa.

Masjid Laweyan berlokasi di Jl. Liris No.1, Belukan, Pajang, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, tak jauh dari nDalem Djimatan.

Sejarah Masjid Laweyan

Menurut catatan sejarah, Masjid Laweyan didirikan oleh seorang ulama bernama Kyai Ageng Henis sekitar tahun 1546 M.

Tempat berdirinya masjid ini dulunya merupakan sebuah pura milik tokoh masyarakat bernama Ki Ageng Beluk.

Pada saat itu, Kyai Ageng Henis diutus oleh Kerajaan Demak untuk menyiarkan agama Islam di wilayah tersebut.

“Karena dakwahnya Kyai Ageng Henis tadi, sehingga berhasil lurah Ki Ageng Beluk masuk Islam. Kemudian tempat sanggarnya di sini menjadi masjid,” ujar Rofik, Takmir Masjid Laweyan saat ditemui oleh SoloBalapan.com, Rabu (01/09/2025).

Ki Ageng Beluk kemudian mewakafkan pura tadi untuk diubah fungsi menjadi sebuah masjid.

Selain menjadi tempat ibadah, kata Rofik, masjid ini juga berperan sebagai pusat dakwah, pendidikan, serta perdagangan pada masa itu.

Di belakang masjid, dulu pernah ada aktivitas pendidikan agama, sementara di depan masjid mengalir Sungai Jenes yang menjadi jalur penting perdagangan batik Laweyan, terhubung dengan Sungai Bengawan Solo.

“Dulu Laweyan itu pusat perdagangan batik, Kyai Ageng Henis dulu tinggalnya di daerah jembatan itu lurus, ada satu rumah kuno gitu, tempatnya tinggal Kyai Ageng Henis dulu. Tempat itu pada zaman Belanda dilelang VOC, yang membeli lurah Badongan daerah Sukoharjo,” tutur Rofik.

Kesederhanaan Arsitektur Masjid Laweyan

Berdiri di tengah perkampungan padat penduduk, bangunan Masjid Laweyan bisa dibilang sederhana.

Berbeda dari masjid modern yang identik dengan atap kubah, ciri khas arsitektur Masjid Laweyan terletak pada atapnya yang berbentuk tajug tumpang dua.

Atap ini terdiri dari dua lapisan bertingkat menyerupai piramida yang disangga oleh empat pilar utama. Selain itu, di bagian serambi juga terdapat 8 tiang yang terbuat dari kayu jati.

“Kalau cagak-cagaknya udah ratusan tahun dari kayu jati, dominan dari Alas Donoloyo, daerah Slogohimo. Dulu jatinya besar besar, untuk mengangkut ke sini pakai jalur sungai, biasanya untuk membangun gedung keraton gitu,” terang Rofik.

Di bagian atap masjid, terdapat ukiran motif batik kawung yang merupakan ciri khas Keraton Surakarta Hadiningrat, melambangkan kesempurnaan, kemurnian, dan kesucian.

Mengutip dari laman resmi Kampung Batik Laweyan, Masjid Laweyan memiliki tiga lorong pintu masuk, jumlah dan susunannya memiliki makna yang mendalam, yaitu tiga tahapan keimanan seseorang berupa Iman, Islam, dan Ihsan.

Menuju ke ruang utama, terdapat lima pintu yang mencerminkan rukun Islam.

Gaya arsitektural masjid sarat akan makna yang menunjukkan simbol-simbol akulturasi budaya Jawa, Hindu, dan prinsip-prinsip Islam.

Menurut Rofik, masjid belum pernah mengalami renovasi yang besar, hanya sekadar tambal sulam dibagian yang ada kerusakan.

“Cuma ada penggantian lantai, ada penambahan bangunan yang sebelah selatan itu. Dulu selatan itu bukan bangunan, tapi seperti halaman. Terus karena ada bangunan itu, jadi keputrian pindah sana, bangunan utama laki laki semua. Tapi kalau harian, ini keputrian disekat di situ,” jelas Rofik.

Di dalam masjid juga terdapat mimbar kayu peninggalan Pakubuwono X, meski sudah tua dan pernah diperbaiki mimbar ini masih bisa digunakan dan kondisinya masih bagus.

“Pada masa itu kan PB X itu dipepet sama Belanda terus. Tapi beliau rajin tirakat ke masjid-masjid, rajin silaturahmi ke mana-mana. Walau dipepet Belanda beliau pengaruhnya ke rakyatnya lebih banyak. Mimbarnya masih dipakai, walau dipegang agak goyang goyang dikit tapi nggak kena rayap, nggak rapuh. Dulu pernah diperbaiki,” tandas Rofik.   

Untuk di area masjid sendiri terdapat kompleks pemakaman keluarga keraton, di mana Kyai Ageng Henis dikebumikan.

Pendiri Masjid Laweyan, Kyai Ageng Henis

Keberadaan Masjid Laweyan tidak terlepas dari peran Kyai Ageng Henis, seorang ulama sekaligus guru spiritual Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir).

Kyai Ageng Henis merupakan anak bungsu dari Ki Ageng Sela dan Nyai Bicak, putri Sunan Ngerang. Ia juga dikenal sebagai Ki Ageng Laweyan.

“Kyai Ageng Henis itu seorang ulama, dikatakan Ki Ageng Lawe, lawe saking benang, ngajar ten batik Laweyan,” ujar Sri Hartini (67), juru kunci makam, Selasa (30/9/2025).

Kyai Ageng Henis menikah dengan seorang wanita yang kemudian bergelar Nyi Ageng Henis, dari pernikahan tersebut lahirlah Ki Ageng Pamanahan.

Ki Ageng Pamanahan mengabdikan diri kepada Sultan Hadiwijaya, pendiri Kesultanan Pajang.

Perjalanan hidup Ki Ageng Pamanahan kemudian berlanjut ke putranya yang bernama Danang Sutawijaya (Panembahan Senopati), ia menjadi pendiri Kesultanan Mataram.

Selain memiliki keturunan yang menjadi tokoh penting dalam sejarah perkembangan Islam di Jawa, Kyai Ageng Henis juga berperan penting di wilayah Laweyan.

Mengutip dari laman Portal Informasi Indonesia, Kyai Ageng Henis merupakan sosok yang menghidupkan keberadaan Kampung Batik Laweyan.

Ia juga memanfaatkan keahliannya dalam batik sebagai sarana berdakwah.

Wisata Religi, Makam Kyai Ageng Henis

Di belakang masjid berdiri kompleks pemakaman keluarga keraton, termasuk makam Kyai Ageng Henis.

Banyak masyarakat dari berbagai daerah datang untuk berdoa dan melakukan wisata religi.

Menurut Hartini, ziarah ke makam Kyai Ageng Henis sudah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu.

Tak hanya itu, setiap tahun menjelang hari jadi Kota Solo pada 17 Februari, wali kota dan jajarannya rutin berziarah ke makam Kyai Ageng Henis sebagai bentuk penghormatan atas jasanya dalam membangun peradaban di Laweyan.

“Tiap tahun pasti, kalau hari jadi 17 Februari, tapi sini ziarahnya sebelum tanggal 17. Jadi tanggal 14 atau 15 gitu. Tanggal 17 nya upacara, Pak Wali tentu ke sini sama staff-staff nya,” jelas Hartini.

Sebagai tempat wisata religi makam ini tak lepas dari peran juru kunci yang merupakan Abdi Dalem Keraton Surakarta Hadiningrat.

“Ini turun temurun, dari nenek moyang saya. Itu kan sebenarnya tugas saya, tapi anak saya masih kecil-kecil, ya saya limpahkan ke suami. Keraton boleh, keraton sama suami saya sudah kenal. Sebelum suami saya, ibu saya dulu, mbah buyut,” kenang juru kunci.

Hartini menegaskan bahwa selama mengemban tugas sebagai juru kunci, ia tidak pernah mendapatkan gangguan yang bersifat mistis.

“Sok-sok kulo ditakoni, pernah diweruhi opo, nek meruhi aku mengko malah wedi wegah nyapu, mboten pernah diweruhi nopo-nopo, wes dikenal dadi rasah diwedeni,” canda Hartini.

[kadang-kadang saya ditanyai, pernah diganggu apa, kalau ganggu saya nanti malah takut enggak mau nyapu, tidak pernah diganggu apa-apa, sudah dikenal jadi enggak usah ditakut-takuti. -red]

Masjid Laweyan dari Sisi Akademis

Sebagai masjid yang berusia hampir 500 tahun, Masjid Laweyan tak lepas dari kajian sejarah Islam Jawa.

Menurut Nor Huda Ali, Dosen Sejarah Peradaban Islam UIN Raden Mas Said Surakarta, masjid ini merupakan bukti nyata akulturasi budaya antara tradisi Islam, Hindu, dan Jawa.

“Para pendahulu kita itu tidak gegabah dalam mengubah tradisi-tradisi sebelum Islam, itu bentuk-bentuk toleransi, selama tidak mengganggu akidah kan tetap dipertahankan, tidak selamanya harus membongkar yang ada, itu kan saya kira gak mengganggu kalau arsitektural saja, perpaduan warisan-warisan Hindu-Budha itu masih dipertahankan,” ucap Nor Huda saat ditemui di ruangannya, Kamis (2/9/2025).

Hal ini tercermin dalam bentuk arsitektur masjid yang memadukan elemen lokal dengan simbol-simbol Islam, seperti atap tajug.

Sejarah Masjid Laweyan berkaitan erat dengan perjalanan Islam di Mataram, setelah runtuhnya Kesultanan Demak, pusat Islam Jawa berpindah ke Pajang.

Di mana Kyai Ageng Henis memainkan peran penting sebagai perintis, ulama, sekaligus pengusaha batik di Laweyan.

Masjid Laweyan juga menjadi objek cagar budaya, Nor Huda menekankan pentingnya konservasi yang berhati-hati agar bentuk asli bangunan tidak berubah dan memori masyarakat tetap terjaga.

“Tapi kan begini, saya kira untuk melakukan renovasi semacam benda-benda cagar budaya tidak sembarangan, perlu adanya ahli cagar budaya karena jangan sampai mengubah bentuk aslinya,” jelas Nor Huda.

Lebih jauh, Nor Huda juga menyoroti relevansi Masjid Laweyan dalam dunia pendidikan sejarah.

Kajian semacam ini dapat menjadi sarana untuk menelusuri perjalanan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, hubungan spiritual antara ulama dan penguasa, serta legitimasi sejarah yang membentuk identitas Kasunanan Surakarta. 

Ia menekankan bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi juga media untuk menegaskan identitas sebuah bangsa.

“Ya tentu saja saya sangat berharap, karena dengan cara semacam ini bisa mempunyai peran untuk bagaimana bisa menghargai bangsanya sendiri, karena kajian sejarah itu dalam rangka untuk menegaskan identitas, kalau sebuah bangsa tidak punya identitas itu dianggap tidak berada,” pungkasnya.

Merawat Sejarah Masjid Laweyan

Sebagai saksi peradaban Islam Kota Solo yang sudah berusia hampir lima abad lamanya.

Masjid Laweyan bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga menjadi simbol hidup akulturasi budaya, dakwah, dan perdagangan batik.

Dari serambi hingga kompleks pemakaman Kyai Ageng Henis, setiap elemen masjid mengajak pengunjung untuk menyelami jejak peradaban Islam di Jawa, sekaligus menghargai warisan budaya yang tak ternilai. (mg4/mg5/mg6)

Editor : Damianus Bram
#akulturasi #masjid laweyan #kyai ageng henis #solo #masjid tertua