SOLOBALAPAN.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang semula digadang-gadang sebagai misi sosial kini diduga menjadi modus penipuan.
Sembilan warga Solo akhirnya melayangkan laporan resmi ke Polresta Surakarta karena janji-janji manis tak kunjung terealisasi.
Aduan tersebut tercatat dalam Surat Tanda Bukti Penerimaan Pengaduan (STBP) Nomor 636/IX/2025/Reskrim.
Para korban menuding dua pengurus Yayasan Barisan Nasional (Barnas) sebagai dalang, yakni EPK (44), Ketua Yayasan, dan PD, yang disebut sebagai asisten pribadi EPK.
Total Kerugian Capai Rp107 Juta
Berdasarkan laporan, sembilan pelapor mengalami kerugian total Rp107.950.000.
Uang tersebut berasal dari setoran pendaftaran yang dikumpulkan secara bertahap sejak Maret hingga Juni 2025.
Jumlah korban diprediksi lebih banyak, sebab di luar sembilan pelapor masih ada warga lain yang mengaku tertipu.
“Benar, aduan sudah masuk ke Polresta Solo. Saat ini masih kita dalami dan akan memanggil semua pihak untuk klarifikasi,” ujar Wakasatreskrim Polresta Surakarta AKP Sudarmiyanto.
Kesaksian Korban: Ditagih, Dikejar, dan Dicap Penipu
Salah satu korban, NAD (44), warga Nusukan, Kecamatan Banjarsari, mengaku menanggung beban mental akibat kasus ini. Ia bahkan sampai mendapat tekanan sosial dari lingkungannya.
“Kalau saya sendiri sanksi sosial yang saya dapat itu berat. Saya dituduh ikut menipu. Padahal saya hanya perantara. Karena uang mereka dititipkan ke saya, saya yang ditagih dan dikejar-kejar. Itu bikin saya stres,” ungkap NAD lewat sambungan telepon.
Awalnya, NAD tertarik dengan tawaran EPK untuk bergabung sebagai mitra MBG.
Namun cerita itu melebar setelah ia membagikan informasi kepada tetangga, keluarga, hingga rekan kerja.
“Awalnya saya ditawari, lalu saya cerita ke tetangga. Tetangga ikut. Saya cerita ke mertua, ikut juga. Lalu teman kerja ikut, mereka ngajak temannya lagi. Jadi melebar,” ujarnya.
Dalam empat bulan, sekitar 50 orang mendaftar lewat NAD dengan setoran rata-rata Rp150 ribu per orang. Sebagian uang memang sudah dikembalikan, tapi banyak yang belum.
“Tanggung jawabnya tetap ke saya,” imbuhnya.
Kenal Dekat dengan Terlapor
NAD mengaku mengenal EPK cukup lama karena berasal dari lingkungan pergaulan yang sama. Kedekatan makin terjalin saat EPK berhubungan dengan kerabat PD.
“Dari situ kami sering ketemu. Lalu ditawari program MBG ini, katanya bagus. Akhirnya saya ikut,” tutur NAD.
Namun, seiring waktu ia mulai curiga. Setiap kali menagih kejelasan, jawaban yang diberikan selalu mengambang.
“Kalau ditagih mesti ada alasan. Entah ditunda, entah ada kendala. Pokoknya tidak ada kepastian,” keluhnya.
Kekecewaan NAD memuncak saat dirinya ikut dicap sebagai orang yang menjerumuskan warga lain.
“Saya sempat tidak enak keluar rumah karena merasa bersalah, padahal saya juga korban,” lanjutnya.
Korban Diprediksi Lebih Banyak
Menurut NAD, jumlah korban bukan hanya mereka yang sudah melapor.
“Saya yakin korban lebih banyak dari yang sekarang lapor. Banyak yang cerita ke saya, mereka juga merasa ditipu,” katanya.
Para korban kini berharap kepolisian segera mengusut tuntas kasus ini. Mereka khawatir modus serupa kembali terjadi dengan mengatasnamakan program sosial.
“Kami hanya ingin kejelasan. Kalau memang ada program, jalankan. Kalau tidak ada, jangan seenaknya bawa nama yayasan untuk tipu-tipu orang,” pungkas NAD. (atn/dam)
Editor : Damianus Bram