SOLOBALAPAN.COM - Kericuhan yang mewarnai aksi unjuk rasa di Kota Solo beberapa hari lalu menyisakan keprihatinan mendalam, khususnya dari kalangan pelaku pariwisata.
Mereka khawatir, jika aksi anarkis terus berlanjut, citra Solo sebagai kota wisata yang aman dan nyaman akan tercoreng dan berdampak buruk pada perekonomian.
Para pemangku kepentingan di sektor pariwisata dan perhotelan pun angkat suara, menekankan pentingnya menjaga kondusivitas kota.
'Kebebasan Berekspresi Dihindari dari Anarki'
Penggiat Pariwisata Kota Solo, Retno Wulandari, menegaskan bahwa unjuk rasa adalah bagian dari kebebasan berekspresi yang dijamin oleh undang-undang.
Namun, ia mengingatkan bahwa kebebasan tersebut memiliki batas.
"Demo itu ekspresi yang dijamin oleh undang-undang... Namun, juga perlu ditimbang, apa yang harus dihindari adalah anarki. Hal tersebut tentu saja memberikan dampak yang tidak baik," ucapnya kepada Jawa Pos Radar Solo (Jawapos Grup).
Menurutnya, pariwisata adalah wajah kota. Stabilitas dan rasa aman adalah kunci utama untuk menarik wisatawan.
"Masyarakat dan wisatawan pasti menghendaki suasana yang safe, yang aman," lanjutnya.
PHRI Surakarta: 'Jaga Kota Solo Tetap Kondusif'
Seruan senada juga datang dari Badan Pimpinan Cabang (BPC) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Surakarta.
Humas BPC PHRI Surakarta, Wening Damayanti, berharap seluruh elemen masyarakat dapat menjaga harmoni agar roda perekonomian tidak terganggu.
"Demokrasi harus jalan, aspirasi boleh disuarakan. Tapi ingat, kedamaian tetap harus dipertahankan. Jaga Kota Solo tetap kondusif, ramah, dan nyaman," ujarnya. "Harapannya adalah masyarakat Kota Solo tidak mudah terprovokasi."
Risiko Jangka Panjang bagi Citra Kota
Pasca kericuhan yang terjadi, para pelaku industri pariwisata kini mengajak seluruh elemen untuk kembali bersatu dan membangun citra positif Kota Solo.
Insiden anarkis, sekecil apapun, berisiko merusak reputasi yang telah dibangun bertahun-tahun sebagai kota budaya yang ramah.
Jika kepercayaan wisatawan menurun, dampaknya akan dirasakan oleh banyak sektor, mulai dari perhotelan, restoran, pusat perbelanjaan, hingga para pelaku UMKM. (nis/did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo