Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Berawal dari Hobi Hingga Hasilkan Cuan, Cerita Galang Pemilik Kopi Tanggul yang Viral di Media Sosial

Laila Zakiya • Sabtu, 30 Agustus 2025 | 22:59 WIB
Suasana warung Kopi Tanggul di Waduk Cengklik, Senting, Sambi, Boyolali.
Suasana warung Kopi Tanggul di Waduk Cengklik, Senting, Sambi, Boyolali.

SOLOBALAPAN.COM – Bagi sebagian orang, nongkrong di pinggir waduk mungkin hanya sekadar cara sederhana untuk melepas penat atau berkumpul bersama teman.

Namun bagi Galang Ilham Ramadhan (23), momen tersebut justru menjadi awal lahirnya sebuah usaha.

Dari kebiasaan duduk santai di sekitar tanggul barat Waduk Cengklik, ia terinspirasi untuk membuka warung kopi kecil-kecilan yang kini dikenal dengan nama Kopi Tanggul.

“Awalnya itu saya nongkrong di sini, mbak. Kayaknya dibuat tempat nongkrong sambil ngopi asyik gitu. Terus iseng-iseng jualan, kok ternyata rame,” cerita Galang kepada Solobalapan.com, Selasa (26/08/25).

Dengan modal sederhana, Galang membuka Kopi Tanggul sekitar dua bulan lalu bersama rekannya.

Sejalan dengan hobinya sebagai anak motor, ia menyulap vespa biru miliknya menjadi gerobak jualan.

Sementara meja, kursi, dan karpet kecil digelar di atas tanggul untuk tempat pengunjung menikmati view waduk di sore hari.

“Karena ngopinya bener-bener di atas tanggul, jadi kita ngambil namanya dari situ,” kata Galang,

“Untuk tempat saya izin sama bapak yang jaga rumah itu buat jualan di sini. Kebetulan bapaknya juga dukung. Yang penting kalau sampah itu dibersihin,” lanjutnya.

Konsep unik ini ternyata berhasil mencuri perhatian banyak orang. Ditambah lagi, Galang rajin membagikan aktivitas jualannya di media sosial.

Tak disangka, beberapa akun wisata lokal turut meliput warung kopinya. Membuat Kopi Tanggul semakin viral.

Meski baru seumur jagung, omzet yang didapat dari warung kopi ini cukup menjanjikan.

Di hari biasa, Galang bisa mengantongi sekitar Rp400 ribu, sedangkan di akhir pekan penghasilannya bisa mencapai Rp700 ribu.

“Kalalu hari biasa itu sekitar Rp400 ribu/hari. Dari jam tiga sampai tujuh malam. Kalau Jumat sampai Minggu kurang lebih Rp600 ribu sampai Rp700 ribu, itu masih kotor,” ucap Galang.

Di balik kesibukannya berjualan, Galang masih menempuh pendidikan jurusan Otomotif di salah satu Politeknik di Kota Surakarta.

Di sela jadwal kuliah, ia juga mengelola bengkel motor di rumahnya. Jika sedang libur kuliah, pagi hingga sore dihabiskan untuk melayani servis motor. Menjelang sore, baru ia bersiap berjualan di Kopi Tanggul.

Untuk saat ini, menu yang dihadirkan masih sederhana, yaitu cilok, berbagai minuman kopi instan, dan teh tarik yang jadi best seller.

Tak sedikit pengunjung yang meminta untuk menambahkan menu baru dan menyarankan untuk buka sejak pagi.

“Kemarin ada yang suruh nambahi bakaran, tapi kalau mau nambah belum bisa. Soalnya baru dua orang aja udah repot dan kewalahan,” kata Galang.

“Ciri khas di sini kan menikmati spot waduk. Banyak yang bilang suruh buka pagi, karena mau liat sunrise gitu. Cuman kalau pagi itu di atas jam 9 udah panas banget mbak. Di sini belum ada penutup,” jelasnya.

Ke depannya, Galang berharap Kopi Tanggul semakin ramai dan bisa menambah menu-menu baru yang beragam seperti nasi telur Pontianak dan mie yamin.

Meski berawal dari hobi nongkrong, Galang kini berhasil menjadikan Kopi Tanggul sebagai ruang bertemu yang hangat bagi siapa saja.

Ia berhasil menyulap ide sederhana menjadi ladang rezeki. Hal ini menjadi pengingat bahwa terkadang peluang besar justru datang dari hal-hal kecil yang sering kita anggap sepele. (Mg6).

Editor : Laila Zakiya
#boyolali #kuliner