SOLOBALAPAN.COM – Gimana rasanya keliling Indonesia dalam sejam tanpa harus pesan tiket pesawat? Nah, pengalaman itu sukses dihadirkan Sakeca Ansambel lewat konser ketiganya bertajuk “Jalan-Jalan Nusantara”, yang digelar di Auditorium Sarsito Mangoen Kusumo RRI Surakarta.
Konser ini bukan sekadar pertunjukan musik biasa. Dengan harmoni anak-anak dan remaja berbakat Solo, penonton diajak trip musikal dari Sabang sampai Merauke lewat lagu-lagu daerah.
Perjalanan dimulai dari Jawa Tengah, lanjut ke Jawa Barat, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, sampai Nusa Tenggara—sebelum akhirnya balik lagi ke Solo, kota budaya.
Baca Juga: Suasana Panas di DPR! Ahmad Dhani Hampir Diusir Saat Rapat Royalti Musik, Ada Apakah?
“Konser ini bukan cuma musik, tapi identitas bangsa. Kita ingin generasi muda kembali kenal, bangga, dan cinta budaya Indonesia,” kata Ardian Dika Adhyatma, konduktor Sakeca Ansambel.
Kejutan dari Wakil Wali Kota Solo
Momen paling bikin merinding datang dari Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, yang ikut naik panggung dan membawakan lagu “Ibu Pertiwi” sebagai penutup. Suaranya yang lembut jadi simbol cinta tanah air, sekaligus bentuk dukungan nyata pemerintah terhadap anak muda Solo yang berkarya lewat seni.
Kolaborasi Lintas Seni
Baca Juga: Setelah Thom Haye, Persib Bandung Bakal Gaet Eliano Reijnders dari PEC Zwolle
Konser ini makin pecah karena nggak cuma musik. Ada kolaborasi dengan Voca Erudita UNS yang bawain lagu dari Aceh sampai Papua lengkap dengan instrumen dan gerakan khas, ditambah HR Art Project yang tampil dengan tarian tradisional. Jadi, vibes konser ini kayak festival budaya mini yang bikin bangga jadi orang Indonesia. ????????
“Kadang kita sibuk liburan ke luar negeri, padahal Indonesia punya kekayaan budaya luar biasa. Konser ini pengingat kalau kita berbeda-beda tapi tetap satu, Bhineka Tunggal Ika,” tambah Nirbita, concert master Sakeca Ansambel.
Baca Juga: Baru Muncul, DJ Panda Ternyata Akui Punya Anak dari Sintya Cilla? Begini Pengakuan Orang Dekat Kopan
Perjalanan musikal akhirnya ditutup dengan lagu Gethuk—simbol “pulang” ke Solo—dan Aku Cinta Indonesia sebagai penegas semangat persatuan di tengah keberagaman budaya Nusantara. (an)
Editor : Andi Aris Widiyanto