SOLOBALAPAN.COM – Seorang siswi SMP Negeri (SMPN) 2 Klaten berinisial A viral di media sosial setelah gagal masuk tim aubade sekolah karena aturan wajib berhijab.
Siswi kelas IX yang beragama nonmuslim ini disebut mengalami trauma dan menarik diri dari aktivitas sekolah.
Kabar Viral di Media Sosial
Postingan mengenai kejadian ini pertama kali diunggah akun Instagram @boyolalikita pada Senin (25/8/2025) malam.
"Siswi Beragama Hindu Dari SMPN 2 Klaten Gagal Masuk Tim Aubade Sekolahnya Karena Pihak Sekolah Terapkan Aturan Wajib Berhijab. Kini Siswi Tersebut Trauma dan Seminggu Mengurung Diri di Kamar," tulis akun tersebut, dikutip detikJateng, Rabu (27/8/2025).
Postingan tersebut disertai ilustrasi kartun seorang siswi duduk memeluk lututnya dan telah dibagikan di beberapa akun Instagram lainnya.
Hingga kini, unggahan tersebut telah dilihat belasan ribu kali dengan ribuan komentar, termasuk dari akun pejabat publik.
Penjelasan Orang Tua
Baca Juga: Jimin BTS dan Song Da Eun Punya Hubungan Apa? Viral Aktris Korea Ini Berhasil Bikin Marah ARMY!
Vita, orang tua siswi A, menjelaskan kejadian bermula saat putrinya curhat karena kecewa tidak lolos seleksi aubade yang sudah dirindukan sejak kelas VII.
Siswi berinisial A yang beragama Hindu ini hanya diberi dua pilihan, yakni menjadi official atau kembali ke kelas.
"Dikumpulkan di lapangan itu berjumlah 70 orang, kemudian ditanya dan intinya disampaikan tidak ada diskriminasi apa pun tapi demi keseragaman anak saya hanya diberi dua pilihan, menjadi official atau kembali ke kelas. Anak saya bilang pilih ke kelas daripada ketinggalan pelajaran jika official karena dia itu pasukan GS Garda Satya sekolah. Saya tanya lagi alasan, jawabannya ya karena tidak berhijab," jelas Vita.
Lantaran tidak percaya dengan mendengarkan keterangan sepihak, sambung Vita, dirinya memutuskan mengonfirmasi kepada salah satu tim seleksi aubade melalui chat WA.
Tim yang bersangkutan memberikan beberapa penjelasan sebagai jawaban.
"Saya jawab ya bun semoga bisa diterima. Jadi begini bun, untuk aubade ada beberapa kriteria penilaian dr juri beberapa tahun ini. Kekompakan, keseragaman, kerapian, kesamaan gerak, jumlah peserta. Nah mengacu ini kita dari tahun ke tahun menerapkan hal itu bukan karena saya pribadi beragama yg sama dengan anak2 yg berhijab, cuma karena tuntutan keseragaman kami harus mengambil keputusan itu bun untuk 1 seragam ceweknya bun, Karena tahun kemarin juga kebetulan juga ada GS anak nasrani juga pada akhirnya menjadi official di tim aubade, mereka juga sangat semangat untuk aubade tapi saya tidak mungkin memaksa mereka untuk memakai hijab demi ikut hijab maka dr itu kami tawarkan kembali ke anak2 itu menjadi official karena di tim aubade sendiri bukan hanya 45+5 cadangan saja bun, kami juga ada tim official 3 orang dan 5 PMR yg sepaket harus kerja bareng2 demi lancarnya ketika kegiatan berlangsung. Intinya itu," jelas Aji, salah satu anggota tim seleksi aubade tersebut kepada Vita melalui chat WA.
Akibat kejadian ini, siswi A sempat menarik diri dari sekolah selama satu minggu hingga Selasa (26/8/2025).
Respons Pemerintah Kabupaten Klaten
Sementara itu, Bupati Hamenang Wajar Ismoyo dan Wakil Bupati Benny Indra Ardhianto menanggapi cepat polemik ini dengan melakukan komunikasi langsung dengan pihak sekolah dan keluarga siswi pada Selasa (26/8/2025).
"Fokus kami bersama Mas Wakil agar siswi ini kemudian kembali ke sekolah. Karena dia kelas IX, harapannya jangan sampai cita-citanya pupus karena permasalahan aubade," ujar Bupati Hamenang saat menemui keluarga siswi.
Kedua pejabat daerah juga mengajak Ketua Forum Kerukunan Umat Beragam (FKUB) Klaten, Syamsuddin Asyrofi, untuk mendengar langsung versi pihak sekolah dan keluarga, memastikan paradigma keseragaman perlombaan bisa diubah tanpa diskriminasi di masa mendatang.
Penjelasan Pihak Sekolah
Kepala SMPN 2 Klaten, Tonang Juniarta, menegaskan seleksi aubade dilakukan sesuai Prosedur Operasional Standar (POS).
"Seleksi peserta aubade dapat diikuti seluruh siswa yang berminat, bebas dari perundungan dan tidak diskriminatif berdasarkan gender maupun SARA. Kalau siswi A sudah tidak lolos seleksi sejak awal, tidak hanya A, ada siswa lain juga yang tidak lolos," ujar Tonang.
Upaya sekolah agar siswi A kembali bersekolah terus dilakukan, termasuk melalui home visit untuk mendukung pemulihan siswi yang sempat menarik diri akibat peristiwa ini. (dam)
Editor : Damianus Bram