Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Miris! Rumah Masa Kecil Pahlawan Nasional Slamet Riyadi di Solo Dibiarkan Lapuk, Fraksi PDIP Turun Tangan

Antonius Christian • Minggu, 17 Agustus 2025 | 19:38 WIB
Fraksi PDIP Solo kaget lihat kondisi rumah masa kecil Pahlawan Nasional Slamet Riyadi.
Fraksi PDIP Solo kaget lihat kondisi rumah masa kecil Pahlawan Nasional Slamet Riyadi.

SOLOBALAPAN.COM - Rumah masa kecil Pahlawan Nasional Brigjen Ignatius Slamet Riyadi di Kalurahan Danusuman, Serengan, menyimpan kisah pilu.

Meski menjadi saksi bisu tumbuh kembang salah satu putra terbaik bangsa, rumah tersebut hingga kini belum pernah tersentuh revitalisasi dari pemerintah.

Fraksi PDI Perjuangan (PDIP) DPRD Kota Surakarta menyoroti kondisi ini.

Dalam rangka memperingati HUT ke-80 Kemerdekaan RI, Ketua Fraksi YF Sukasno dan Sekretaris Fraksi Suharsono mengunjungi rumah tersebut.

Mereka didampingi tokoh masyarakat Danusuman, Drs. Paulus Haryoto, dan diterima langsung oleh kerabat keluarga, Gunawan.

“Kami datang membawa salam hormat dari Pak FX Hadi Rudyatmo, Ketua DPC PDIP Solo. Beliau menugaskan kami untuk melihat langsung kondisi rumah dan memperjuangkan anggaran renovasinya,” kata Sukasno.

Suasana rumah tua itu terasa hening. Dari luar, tampak bangunan berarsitektur joglo dengan beberapa bagian bambu yang lapuk.

Di dalam rumah, plafon dari kepang mulai mengelupas, sementara dinding kayu tampak kusam dimakan usia. Jika hujan turun, rembesan air menetes dari atap.

“Ya, kondisinya sangat memprihatinkan. Apalagi kalau kita kaitkan dengan nama besar Brigjen Slamet Riyadi sebagai Pahlawan Nasional. Ternyata bangunan ini terakhir direhab tahun 1937, jadi hampir 90 tahun tidak ada perbaikan berarti,” tutur Sukasno.

Meski begitu, rumah itu tetap terlihat bersih. Gunawan, kerabat Slamet Riyadi yang menempati bagian gandok timur, rajin membersihkan sekaligus menjaga bangunan.

Bahkan warga sekitar masih memanfaatkan rumah tersebut sebagai tempat kegiatan Posyandu.

Sukasno menuturkan, perhatian terhadap rumah ini sejauh ini hanya datang dari pihak-pihak tertentu.

Setiap tahun, personel Grup 2 Kopassus Kandang Menjangan dan civitas Universitas Slamet Riyadi (Unisri) rutin datang untuk kerja bakti.

“Yang rutin itu Kopassus dan Unisri. Tapi sebatas kerja bakti, bukan renovasi. Jadi rumah ini sebenarnya terjaga, tapi tidak pernah ada revitalisasi dari pemerintah,” ujarnya.

Mendengar penuturan itu, rombongan Fraksi PDIP mengaku terkejut.

Menurut Sukasno, rumah ini sangat layak dijadikan museum perjuangan atau rumah juang.

Sebab, sejak kecil hingga sekolah dasar, Slamet Riyadi tumbuh di rumah itu bersama kakak perempuan dan kedua orang tuanya.

Bahkan, foto-foto lama menunjukkan ayah Slamet Riyadi juga seorang prajurit Keraton Surakarta.

“Kalau keluarga berkenan, rumah ini bisa dijadikan museum. Bukan hanya untuk mengenang perjuangan Slamet Riyadi, tapi juga untuk mengedukasi generasi muda soal sejarah lokal,” kata Sukasno.

Sukasno juga menyebutkan kisah menarik yang pernah terjadi di rumah ini. Beberapa tahun lalu, seorang perempuan asal Belanda datang berkunjung dan mengaku cucu dari komandan tentara Belanda yang dahulu menjadi lawan pertempuran Slamet Riyadi.

“Justru dia datang dengan penuh hormat, ingin bertemu keluarga Slamet Riyadi. Itu bukti bahwa nama beliau dihormati, bahkan oleh bekas musuh,” tutur Sukasno.

Fraksi PDIP memastikan akan membawa usulan revitalisasi rumah ke pembahasan APBD Kota Surakarta tahun 2026.

“Kami akan koordinasi dengan keluarga ahli waris, lalu memperjuangkannya di dewan. Kalau bisa tahun depan sudah ada anggaran untuk rehabilitasi,” jelas Sukasno.

Ia menegaskan, rumah masa kecil Slamet Riyadi bukan hanya milik keluarga, tetapi warisan bangsa.

“Sangat ironis kalau nama Slamet Riyadi diabadikan jadi jalan protokol di banyak kota besar, tapi rumah masa kecilnya di Solo dibiarkan lapuk. Ini harus jadi perhatian serius,” tegasnya.

Selain renovasi, Sukasno juga membuka peluang rumah ini dikaji sebagai bangunan cagar budaya. Dengan status tersebut, keberadaannya akan lebih terjamin kelestariannya.

“Kalau melihat penanda di pintu, rumah ini dibangun tahun 1937. Secara usia, sudah masuk kategori tua dan layak dipertimbangkan sebagai cagar budaya. Tapi yang terpenting sekarang, segera direhab dulu agar layak ditempati dan tetap jadi saksi sejarah perjuangan bangsa,” pungkasnya. (dam)

Editor : Damianus Bram
#slamet riyadi #rumah #pdip #pahlawan nasional #revitalisasi #solo