SOLOBALAPAN.COM – Hamparan hijau persawahan di Desa Tegalmade, Kecamatan Mojolaban tak hanya menjadi pemandangan indah bagi warga sekitar.
Beberapa tahun terakhir, jalan setapak yang membelah area persawahan Tegalmade ini berubah menjadi destinasi kuliner yang selalu ramai pengunjung.
Awalnya, tidak ada yang menyangka tempat ini akan berubah menjadi pusat kuliner murah yang ramai.
Edi (48), penjual mie ayam dan kwetiau mengatakan, wisata kuliner ini bermula dari satu pedagang gempol pleret legendaris yang ada di ujung jalan.
“Awalnya dari gempol pleret, itu udah bertahun-tahun, yang pertama viral itu gempol pleret. Terus ini (pedagang lain) ngikut-ngikut semua,” ujar Edi, Kamis (14/08/25).
Edi sendiri mulai berjualan mie ayam dan kwetiau di Tegalmade sejak tahun 2023. Biasanya, pedagang membuka lapak sekitar pukul 08.00-15.00 WIB.
Puncak ramai pembeli biasanya sekitar pukul 10.00 WIB, ketika para orang tua selesai menjemput anak sekolah.
“Mulai ramai jam 10-an habis pulang sekolah, jemput-jemput anak sekolah itu. Kalau Minggu full, ramai sampai nggak bisa di-biak (dibuka), ” jelas Edi.
Selain lokasinya yang berada di pinggir area persawahan, harga jual yang ramah di kantong juga menjadi daya tarik kuliner tengah sawah Tegalmade ini.
Terdapat sekitar 18 pedagang yang menjajakan beragam menu, mulai dari nasi pecel, bubur tumpang, gempol pleret, cilok goreng, hingga aneka minuman segar.
Menariknya, pedagang yang berjualan di sini tidak semuanya berasal dari Tegalmade. Ada yang datang dari Semanggi, Pasar Kliwon, hingga Pulosari. Hanya beberapa pedagang yang merupakan warga asli Tegalmade.
Rangga, penjual cilok sekaligus warga lokal mengatakan bahwa para pedagang di sini tergabung dalam Paguyuban Kuliner Sukses Tegalmade.
Menurut penuturan Rangga, semua pedagang di Tegalmade ini sudah memiliki akta pedagang. Dan untuk bisa berjualan di sini pedagang harus izin dahulu ke pihak kelurahan.
“Iya izin sama kelurahan. Di sini sudah punya akta pedagang semua. Jadi izin dulu, kalau di sini cocok baru nanti izin ke kabupaten cari akta pedagang,” ujarnya.
Tidak hanya masyarakat Sukoharjo, wisata kuliner Tegalmade ini juga menarik perhatian dari berbagai daerah.
Rahma (18), seorang pengunjung asal Karanganyar mengaku sengaja datang ke Tegalmade karena ingin mencari suasana baru.
“Biasanya aku main ke kafe, terus dapat rekomendasi dari temen buat datang cari jajan di sini. Ternyata enak juga, bisa melihat alam sambil menikati makanan,” ucap Rahma.
Selain makanannya murah, menurut Rahma, waktu terbaik untuk berkunjung ke sini adalah pagi hari saat masih segar.
“Sebenarnya kapan pun enak, di sini rindang jadi kalau siang-siang ga panas banyak pepohonan juga. Tapi kalau aku sendiri ke sini lebih enak pagi karena cuaca masih fresh,” imbuhnya.
Bagi warga Sukoharjo dan sekitarnya yang ingin mencari suasana sarapan berbeda, Kuliner Tengah Sawah Tegalmade bisa menjadi pilihan yang tepat.
Selain mencicipi makanan yang murah dan sederhana, pengunjung dapat menikmati panorama sawah yang menyegarkan mata.
Jika beruntung, kalian bisa mendapatkan view kereta api Batara Kresna melintas di tengah sawah. (apw/lz)
Editor : Laila Zakiya