SOLOBALAPAN.COM – Pecinta sejarah pastinya sudah tak asing lagi mendengar nama Museum Sangiran.
Terletak di Manyarejo, Plupuh, Sragen, tempat ini menjadi sejarah yang memproyeksikan kehidupan saat manusia berawal.
Diketahui bahwa Museum Sangiran memiliki 5 klaster dengan fungsinya yang berbeda-beda. Kelimanya tersebar di Krikilan, Dayu, Ngebung, Bukuran dan Manyarejo.
Museum Klaster Manyarejo hadir sebagai pendukung keempat klaster lainnya, sebagai bentuk apresiasi terhadap para peneliti dari berbagai disiplin ilmu dan masyarakat yang telah berjasa dalam menghasilkan penemuan penting untuk Situs Sangiran.
Masyarakat sekitar terbuka menerima para peneliti, bahkan menjadi tumpuan dalam setiap proses ekskavasi [proses penggalian yang dilakukan di tempat yang mengandung benda purbakala] dan survei yang dilakukan peneliti. Hubungan harmonis ini telah berlangsung dari generasi ke generasi.
Namun, penemuan benda-benda dari masa lalu ini tak lepas dari mitos yang menyebar dalam kehidupan masyarakat.
“Tulang-tulang itu ditemukan masyarakat, yang mana dia bekerja sebagai petani, tidak sengaja mencangkul ketemu dengan tulang tersebut. Nah, fosil itu dulu namanya bukan fosil, kita tahunya zaman dulu itu balung buto,” ucap Suranto, satpam museum Manyarejo, ketika menemani SoloBalapan.com berkeliling ruang pamer, Rabu (13/8/25)
Mitos Balung Buto di Sangiran
Tidak bisa dipungkiri, penemuan fosil di Sangiran akan selalu terikat dengan mitos balung buto yang telah berkembang di masyarakat sejak zaman dahulu.
Kisah ini berawal dari sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja bernama Raden Bandung.
Rakyatnya dengan sabar menanam dan berternak, meski tanah mereka tak seberapa subur.
Tetapi suatu waktu, kerajaan mereka diusik oleh kedatangan raksasa yang dipimpin oleh Tegopati.
“Ana buto, ana buto!” warga berseru ketakutan.
Para raksasa itu hendak merebut tanah mereka, Raden Bandung mencoba melawan, tetapi terkalahkan.
Dengan tubuh yang luka-luka, Raden Bandung menyingkir ke dalam hutan dan bertapa.
Kelak, tempat yang digunakan untuk bertapa ini dikenal sebagai Dusun Tapan, Cangkol, Kecamatan Plupuh.
Genap sewindu bertapa, ia mendapatkan bisikan atau wangsit. Slulup-lah [menyelam] ke dalam telaga yang dikelilingi beringin.
Raden Bandung menurutinya, ia masuk ke dalam telaga yang konon berada di Dusun Kedung Wringin, Bukuran, Kecamatan Kalijambe (ada juga yang mengatakan bahwa telaga ini berada di Sendang Busik).
Di kedalaman telaga, Raden Bandung bertemu dengan Dewa Ruci yang membekalinya dengan nasihat panjang,
“Sangir-lah [asah] kukumu yang panjang di batu itu,” wejang sang penguasa air, “sebagai senjata yang akan mengalahkan para raksasa.”
Dari nasihat terakhir Dewa Ruci, bumi Sangiran mendapatkan namanya.
Singkat cerita, dengan kekuatan baru, Raden Bandung kembali ke bekas kerajaannya (kini bernama Dusun Krajan).
Raden Bandung mengamuk, Tegopati yang telah mendirikan istana di Glagahombo dengan pintu masuk dan tempat penjagaan di daerah Jagan, beserta para raksasa pengikutnya kocar-kacir.
Kuku Raden Bandung mengoyak tubuh mereka, hingga darah menggenang di satu tempat yang sekarang disebut dengan Desa Saren.
Tegopati menemui ajalnya dengan perut terbuka, mayatnya dibuang hingga terjengkang jauh ke (kini) Dusun Bapang, Krikilan, Kecamatan Kalijambe.
Mayat para raksasa pun terkubur di bumi Sangiran, menjelma menjadi tulang belulang yang kelak ditemukan warga.
Balung buto, seperti itulah warga menyebut temuan-temuan itu. (AG/lz)
Editor : Laila Zakiya