SOLOBALAPAN.COM – Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta menggandeng SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta untuk melakukan penelitian pengembangan literasi antikorupsi menggunakan pendekatan deep learning pada tahun 2025.
Penelitian ini bertujuan untuk membentuk profil lulusan yang berintegritas dan mampu memerangi praktik korupsi sejak usia dini.
Pengenalan Literasi Antikorupsi di SD Muhammadiyah 1 Ketelan
Dalam kesempatan ini, hadir Ketua Peneliti Suyitno, Dosen PGSD UAD, dan Penyuluh Antikorupsi tersertifikasi ACLC KPK RI, serta anggota Prof. Suyadi, Dosen MPAI UAD, dan Penyuluh Antikorupsi tersertifikasi ACLC KPK RI.
Mereka mengunjungi beberapa kelas di SD Muhammadiyah 1 Ketelan untuk memantau penerapan literasi antikorupsi yang diajarkan di sana.
Suyitno menjelaskan, pemilihan SD Muhammadiyah 1 Ketelan sebagai tempat penelitian ini dilakukan karena sekolah tersebut telah berhasil menjadi contoh dalam pelaksanaan pendidikan antikorupsi yang diakui oleh KPK RI.
Salah satu program literasi yang diperkenalkan di sekolah ini adalah kartu integritas, yang menjelaskan tentang tokoh-tokoh integritas dan tokoh-tokoh koruptor.
Salah satu tokoh yang diangkat adalah KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, yang rela melelang perabotan rumahnya senilai 4.000 gulden (sekitar Rp28 juta pada nilai tukar tahun 2002) demi menggaji guru-gurunya dan mempertahankan operasional sekolah yang ia dirikan.
Integritas Melalui Pengorbanan Pribadi
Pengorbanan KH Ahmad Dahlan menjadi contoh nyata bahwa integritas tidak hanya dibentuk melalui jabatan formal, melainkan tumbuh dari keikhlasan pribadi dan semangat memberi untuk kepentingan umat.
Program literasi ini mengajarkan nilai-nilai antikorupsi, kejujuran, tanggung jawab sosial, dan karakter sejak dini, sebagaimana dicontohkan oleh perjuangan KH Ahmad Dahlan.
Inovasi M1Smart Card dan Penerapan Pendidikan Karakter
Selain pengenalan literasi, SD Muhammadiyah 1 Ketelan juga mengimplementasikan inovasi berupa kartu pintar M1Smart Card.
Kartu ini tidak hanya berfungsi sebagai identitas siswa, tetapi juga sebagai alat pembayaran elektronik dengan saldo maksimal Rp15.000 dan sebagai alat presensi digital yang terhubung langsung dengan smartphone orang tua.
Sri Sayekti, salah satu pengelola sekolah, menjelaskan bahwa kartu pintar ini bertujuan untuk membangun budaya antikorupsi dan transparansi di kalangan siswa sejak usia dini. Dengan kartu ini, orang tua dapat memantau aktivitas anak-anak mereka setiap hari.
"Jika dikembangkan dengan teknologi deep learning, ini akan semakin memperkuat integritas siswa di era digital," imbuhnya.
Program Literasi dan Numerasi Setiap Pagi
Setiap pagi, siswa di SD Muhammadiyah 1 Ketelan juga mengikuti program literasi dan numerasi.
Imam Priyanto, Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum, menjelaskan bahwa buku-buku hibah dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) digunakan dalam kegiatan perpustakaan dan literasi tematik.
"Setiap pagi, siswa membaca buku antikorupsi. Petugas perpustakaan menyusun jadwal kunjungan dan peminjaman. Ini penting agar anak-anak terbiasa dengan nilai kejujuran dan tanggung jawab," ujarnya.
Integrasi Nilai Antikorupsi dalam Pembelajaran
Guru PPKn/Pancasila, Tri Yuniarti, juga menambahkan bahwa mereka mengintegrasikan nilai-nilai antikorupsi dalam pembelajaran kelas melalui praktik langsung dan diskusi yang relevan.
"Ini akan semakin efektif bila pendekatannya berbasis deep learning dan refleksi nilai Pancasila," jelasnya.
Pendidikan Karakter untuk Generasi Penerus Bangsa
Dengan menggabungkan teknologi, literasi, dan pendidikan karakter, SD Muhammadiyah 1 Ketelan, yang telah berdiri sejak 1935, menjadi pelopor sekolah dasar yang tidak hanya unggul akademik, tetapi juga berdaya saing dalam membangun integritas anak bangsa. (dam)
Editor : Damianus Bram