Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Gunawan Dwi Cahyo dan Ismed Sofyan Kritik Proses Seleksi Pemain Diaspora di Timnas Indonesia U-17

Damianus Bram • Selasa, 22 Juli 2025 | 20:26 WIB
Skuad Timnas Indonesia U-17 disiapkan untuk Piala Dunia U-17 2025, 9 pemain diaspora bergabung.
Skuad Timnas Indonesia U-17 disiapkan untuk Piala Dunia U-17 2025, 9 pemain diaspora bergabung.

SOLOBALAPAN.COM - Pemanggilan sejumlah pemain diaspora untuk mengikuti pemusatan latihan (TC) Timnas Indonesia U-17 mendapat sorotan dan kritik tajam dari mantan pesepak bola dan legenda.

Banyak yang menilai bahwa para pemain diaspora yang dipanggil tidak begitu istimewa dan proses seleksi mereka tidak sesuai prosedur.

Timnas Indonesia U-17 saat ini tengah menjalani pemusatan latihan di Bali sebagai persiapan untuk Piala Dunia U-17 yang akan berlangsung di Qatar pada 3-27 November 2025.

TC tersebut dimulai pada 7 Juli dan akan berakhir pada 10 Agustus mendatang.

Sebanyak 34 pemain dipanggil untuk mengikuti TC ini, termasuk pemain-pemain yang sudah tampil solid di Piala AFF U-16 2024, Kualifikasi Piala Asia U-17 2025, serta Piala Asia U-17 2025.

Namun, ada juga pemain baru, termasuk sembilan pemain diaspora yang bermain di klub luar negeri.

Nama-nama tersebut termasuk Feike Muller (Willem II Tilburg), Lionel De Troy (Palermo), dan Nicholas dari Rosenborg BK.

Namun, pemanggilan sembilan pemain diaspora ini menuai kritik. Beredar kabar bahwa mereka dipanggil tanpa melalui prosedur seleksi yang tepat, yakni tanpa pemantauan oleh pemandu bakat.

Gunawan Dwi Cahyo, mantan pemain Timnas Indonesia, menyatakan bahwa pemanggilan pemain diaspora seharusnya mengikuti prosedur seleksi yang lebih transparan.

"Harusnya PSSI lebih fokus pada kompetisi dan merekrut pemain berkualitas dari kompetisi dalam negeri. Faktanya, pemain muda diaspora ini juga tidak lebih unggul dibandingkan dengan pemain lokal kita," ujar Gunawan dalam keterangannya pada Selasa (22/7/2025).

Gunawan mengaku mendukung pemanggilan pemain diaspora di kelompok umur, namun ia berharap PSSI memperbanyak kompetisi usia muda agar para pemain memiliki jam terbang yang memadai.

“Ke depan, kompetisi usia muda harus lebih banyak agar pemain muda memiliki kualitas yang lebih tinggi. Jangan terus mengandalkan cara instan dalam pengembangan sepak bola usia muda," tambahnya.

Sementara itu, mantan pemain timnas lainnya, Ismed Sofyan, memiliki pandangan berbeda.

Legenda Persija Jakarta ini menilai bahwa Timnas Indonesia U-17 sebenarnya tidak memerlukan pemain naturalisasi karena pemain lokal sudah memiliki kualitas yang cukup baik.

“Level permainan mereka tidak jauh berbeda. Sebenarnya kita memiliki pemain-pemain potensial yang tidak tersentuh oleh para pemandu bakat,” ungkap Ismed.

Ismed juga menilai bahwa Indonesia sudah memiliki kompetisi-kompetisi seperti Elite Pro Academy, Piala Soeratin, dan Diklat Ragunan yang bisa menjadi sumber pencarian pemain muda berbakat.

Menurutnya, dalam Piala Dunia U-17 nanti, peta kekuatan tim U-17 dari berbagai negara tidak akan jauh berbeda.

"Karena ini bukan level senior, kita masih bisa bersaing dengan pemain lain. Ini jika kita berbicara tentang U-17 di Piala Dunia nanti," jelasnya. (dam)

Bhakta Fest 2025 juga dimeriahkan kompetisi K-pop Dance dan Vocal Cover yang diikuti puluhan peserta.
Bhakta Fest 2025 juga dimeriahkan kompetisi K-pop Dance dan Vocal Cover yang diikuti puluhan peserta.
Editor : Damianus Bram
#Timnas Indonesia U-17 #persija #pemain diaspora #gunawan dwi cahyo #ismed sofyan