Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Terobosan Pendidikan Melalui Pendekatan Improved Inkuiri Apresiatif

Andi Aris Widiyanto • Selasa, 22 Juli 2025 | 17:35 WIB
Rintik Sunariati, M.Pd. Mahasiswa Program Doktor FKIP UMS  dan Kepala SD Muhamamdiyah Rabbani Klaten
Rintik Sunariati, M.Pd. Mahasiswa Program Doktor FKIP UMS dan Kepala SD Muhamamdiyah Rabbani Klaten

Oleh : Rintik Sunariati, M.Pd.

SOLOBALAPAN.COM - Pendidikan yang berkualitas adalah fondasi kemajuan suatu bangsa, dan di garda terdepan, guru memegang peran krusial. Guru Penggerak, sebagai motor penggerak perubahan dalam ekosistem pendidikan, memerlukan kompetensi pedagogik yang tidak hanya mumpuni, tetapi juga dilengkapi dengan keterampilan-keterampilan lunak (soft skill) yang relevan dengan tantangan pendidikan modern.

Sebuah penelitian disertasi yang dilakukan di Universitas Muhammadiyah Surakarta telah membuka jalan baru dalam upaya ini, menunjukkan bagaimana pendekatan inkuiri apresiatif dapat menjadi kunci untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas guru di sekolah dasar.

Penelitian ini dilakukan oleh Rintik Sunariati, M.Pd, Kepala Sekolah SD Muhamamdiyah Rabbani Klaten, peraih Juara 1 Kepala Sekolah Berprestasi tahun 2023, tingkat Kabupaten Klaten.

Alih-alih fokus pada kekurangan, penelitian ini mengadopsi pendekatan inkuiri apresiatif yang berlandaskan pada prinsip menemukan dan mengoptimalkan potensi. Merajut Kekuatan Guru dengan Pendekatan Positif dengan model yang dikembangkan, yang dikenal sebagai Improved Inquiri Apresiatif (IIA).

Melibatkan Guru Penggerak di 25 sekolah dasar di Kabupaten Klaten dilibatkan dalam sebuah proses pengembangan yang sistematis. Proses ini menggunakan metodologi ADDIE (analysis, design, develop, implement, evaluation) untuk memastikan setiap tahapan berjalan efektif.

Hasil penelitian ini sangat signifikan. Guru Penggerak yang menerapkan pendekatan improved inkuiri apresiatif terbukti memiliki peningkatan yang jauh lebih baik dalam kemampuan pedagogik mereka dibandingkan dengan mereka yang berkembang secara mandiri.

Lebih dari itu, model ini secara nyata memperkuat soft skill esensial, seperti kepemimpinan, empati, berpikir kritis, kesabaran, dan kolaborasi. Ini menunjukkan bahwa metode pengembangan yang berfokus pada kekuatan dan kolaborasi jauh lebih efektif daripada pendekatan konvensional.

Komunitas Belajar sebagai Kawah Candradimuka. Penelitian ini juga menyoroti peran vital komunitas belajar (Kombel) sebagai tempat utama implementasi. Pendekatan inkuiri apresiatif yang disederhanakan dalam tiga tahapan—identifikasi, refleksi, dan destiny—menjadikan proses pengembangan lebih praktis dan mudah diterapkan.

Guru Penggerak, dengan panduan dan pendampingan yang memadai, dapat memimpin rekan-rekan sejawat mereka dalam sebuah proses yang transformatif. Komunitas belajar yang dioptimalkan dengan pendekatan ini menjadi ruang aman bagi para guru untuk saling berbagi, belajar, dan tumbuh bersama.

Melalui kegiatan kolaboratif, mereka tidak hanya meningkatkan kompetensi pedagogik, tetapi juga mengasah soft skill yang diperlukan untuk menciptakan lingkungan belajar yang interaktif dan berpusat pada peserta didik.

Guru Penggerak membutuhkan pendampingan dan buku panduan praktis untuk implementasi di komunitas belajar. Dengan demikian, model ini tidak hanya meningkatkan kemampuan pedagogik tetapi juga membekali guru dengan keterampilan yang relevan untuk menghadapi tantangan pendidikan modern.

Penerapan model ini di sekolah-sekolah dasar dapat menjadi strategi penting untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan kepemimpinan guru. Pemerintah dan institusi pendidikan perlu mempertimbangkan untuk mengintegrasikan pendekatan inkuiri apresiatif dalam program pengembangan kompetensi guru.

Hal ini akan membantu guru lebih siap menghadapi dinamika pendidikan yang terus berubah dan meningkatkan kualitas pendidikan secara keseluruhan. Dengan hasil penelitian yang menunjukkan efektivitas pendekatan inkuiri apresiatif dalam meningkatkan kompetensi pedagogik dan soft skill Guru Penggerak, diharapkan adanya adopsi lebih luas dari model ini di lingkungan pendidikan.

Ini akan membawa dampak positif bagi peningkatan kualitas pendidikan di sekolah dasar dan mempersiapkan guru untuk menjadi pemimpin pembelajaran yang lebih efektif.

Temuan dari penelitian ini membawa implikasi penting bagi seluruh ekosistem pendidikan di Indonesia. Model pengembangan kompetensi pedagogik Guru Penggerak berbasis inkuiri apresiatif ini dapat menjadi acuan bagi lembaga pendidikan dan pemerintah dalam merancang program pelatihan guru yang lebih terarah dan efektif.

Adopsi pendekatan ini secara lebih luas dapat memberikan bukti empiris yang kuat untuk mendorong perubahan positif. Selain itu, penelitian ini menekankan pentingnya peran para pengambil kebijakan di tingkat sekolah.

Dengan memfasilitasi kolaborasi dan memberikan dukungan penuh kepada Guru Penggerak, kepala sekolah dapat mempercepat proses transformasi pendidikan di sekolah masing-masing. Peningkatan kualitas pembelajaran di kelas akan menjadi dampak nyata dari penguatan kompetensi dan soft skill para guru.

Pada akhirnya, penelitian ini bukan sekadar studi akademis, melainkan sebuah peta jalan praktis untuk mempersiapkan guru menghadapi dinamika pendidikan yang terus berubah. Dengan mengadopsi pendekatan yang memberdayakan, kita dapat memastikan bahwa guru-guru di Indonesia menjadi pemimpin pembelajaran yang efektif, siap untuk membentuk generasi penerus yang kompeten dan berkarakter. (*)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#pendidikan berkualitas #universitas muhammadiyah surakarta #Guru Penggerak