Oleh : Idawati M.P.d
KEMAJUAN teknologi dan derasnya arus globalisasi membutuhkan penguatan pendidikan karakter. Salah satunya aspek karakter yang kini mulai memudar di kalangan remaja adalah kesantunan positif. Sering dijumpai fenomena peserta didik berkata kasar, kurang hormat kepada guru maupun teman sebaya, serta cenderung bersikap individualistis.
Kesantunan positif merupakan satu di antara fondasi dimensi beriman, bertaqwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia. Di lingkungan SMP, kesantunan bukan sekadar berbicara dengan sopan, tetapi juga sikap hormat, empati, dan perilaku yang mendukung terciptanya suasana belajar harmonis.
Namun, di era digital saat ini, pengaruh media sosial, budaya instan, serta menurunnya keteladanan sering membuat pesera didik kehilangan kepekaan akan pentingnya kesantunan positif.
Solusinya, Profil Pelajar Pancasila menjadi rujukan utama dalam pembentukan karakter peserta didik Indonesia. Profil Pelajar Pancasila memiliki enam dimensi. Pertama, dimensi beriman, bertaqwa kepada tuhan YME, dan berakhlak mulia.
Kedua, dimensi berkebinekaan global. Ketiga, dimensi gotong royong. Keempat, dimensi mandiri. Kelima, dimensi bernalar kritis. Keenam, dimensi kreatif.
Dimensi beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, serta dimensi mandiri dapat diinternalisasikan melalui pendekatan lebih kontekstual. Salah satunya melalui media audio visual.
Media ini menghadirkan contoh nyata perilaku santun yang dapat ditiru peserta didik. Sekaligus menarik minat mereka untuk belajar nilai-nilai luhur bangsa.
Pemanfaatan media yang dekat dengan dunia anak generasi Alpha, menjadikan media audio visual sebagai solusi untuk menanamkan dimensi Profil Pelajar Pancasila di era digital. Tayangan visual yang dirancang secara edukatif mampu memikat perhatian peserta didik, membangkitkan rasa ingin tahu, sekaligus menanamkan nilai kesantunan secara kontekstual.
Seperti pernyataan Ki Hajar Dewantara: “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat menuntun tumbuhnya kodrat itu.” Dalam konteks ini, guru perlu menuntun peserta didik dengan media yang relevan dengan zaman mereka.
Berangkat dari kebutuhan ini, penelitian dilakukan. Berupa pengembangan model media audio visual berorientasi Profil Pelajar Pancasila, melalui pendekatan research and development.
Prosesnya meliputi analisis kebutuhan, desain media, validasi ahli, uji coba terbatas, revisi, hingga uji lapangan. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, kuesioner, dan dokumentasi, lalu dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif.
Media yang dikembangkan tidak sekedar video pembelajaran biasa. Namun, isinya memadukan cerita, contoh nyata, dan refleksi yang mengajak peserta didik memahami makna kesantunan positif dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya tayangan yang menunjukkan bagaimana menghargai guru, berbicara sopan kepada teman, dan berempati kepada orang lain. Peserta didik tidak hanya diminta menonton, tetapi juga berdiskusi dan mempraktikkan nilai-nilai yang terdapat pada media audio visual dalam aktivitas nyata.
Berikut hasil penelitiannya. Pertama, media audio visual mampu meningkatkan pemahaman peserta didik tentang pentingnya kesantunan positif dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, membentuk sikap hormat dan empati terhadap guru, teman sebaya, dan lingkungan sekolah.
Ketiga, memotivasi peserta didik untuk meneladani perilaku santun melalui tayangan yang menarik dan mudah dipahami. Keempat, mendorong terciptanya lingkungan belajar lebih kondusif, penuh rasa hormat, dan berbudaya positif. Kelima, guru terbantu karena media ini memudahkan dalam menyampaikan dimensi Profil Pelajar Pancasila, tanpa metode konvensional.
Pengembangan model media audio visual ini memberikan kontribusi teoritis dan praktis. Secara teoritis memperkaya kajian tentang media pembelajaran berbasis karakter, yang relevan dengan Profil Pelajar Pancasila. Secara praktis, menjadi alternatif atau solusi bagi guru untuk menanamkan nilai kesantunan positif secara kreatif dan menyenangkan.
Ke depan, sekolah perlu mengintegrasikan media audio visual berbasis Profil Pelajar Pancasila ke dalam pembelajaran lintas mata pelajaran. Guru sebagai fasilitator dapat menghadirkan tayangan edukatif yang relevan dengan kehidupan peserta didik. Sehingga nilai-nilai kesantunan tidak hanya diajarkan, tetapi juga dihayati dan diamalkan.
Dengan demikian, akan lahir generasi muda beriman, bertaqwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia, mandiri, serta santun sesuai nilai-nilai luhur Pancasila. (*)
Editor : Andi Aris Widiyanto