SOLOBALAPAN.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Solo segera menerbitkan larangan operasional bagi becak motor (bentor) di wilayah Kota Solo.
Langkah ini diambil untuk memperkuat keberadaan becak tradisional sebagai transportasi khas kota budaya yang kini mulai dikembangkan untuk layanan digital dan transportasi wisata.
Wali Kota Solo Respati Ardi, membenarkan adanya rencana pelarangan tersebut.
Ia menegaskan bahwa becak tradisional akan difokuskan sebagai transportasi ramah lingkungan dan ikon kota Solo, terutama di kawasan-kawasan wisata.
“Nanti akan segera kita umumkan larangan bentor,” ujar Respati Ardi, Rabu (16/7/2025).
Berlaku Bertahap dan Humanis
Pemkot Solo menegaskan bahwa pelarangan bentor tidak akan dilakukan secara kaku atau mendadak. Langkah ini akan ditempuh dengan pendekatan humanis dan bertahap. Salah satunya melalui program hibah becak kayuh bagi pengemudi bentor.
“Penyewa bentor akan kita berikan armada becak gratis dari CSR. Alon-alon (pelan-pelan), kalau langsung dihilangkan ngko nesu-nesu (marah-marah, Red). Pemkot Solo itu kan humanis kalau menerbitkan peraturan. Jadi nanti kita ijoli (tukar) becak,” terang Respati.
Keluhan Pengemudi Becak Tradisional
Koordinator Forum Komunikasi Keluarga Becak, Sari Ahmad, menyambut baik wacana ini.
Menurutnya, keberadaan bentor selama ini menurunkan kenyamanan dan pendapatan pengemudi becak tradisional karena adanya persaingan tarif yang tidak seimbang.
“Kalau bersaing dari harga tentu tidak bisa, kan becak konvensional itu masih pakai tenaga manusia, sementara bentor pakai mesin. Tentu tidak bisa dihitung dengan cara yang sama. Semoga ini jadi perhatian pemerintah,” ujar Sari Ahmad.
Transportasi Wisata Bernuansa Nostalgia
Selain alasan persaingan dan keselamatan, becak tradisional juga dinilai lebih nyaman dan memiliki nilai nostalgia.
Meskipun waktu tempuh lebih lama dibanding bentor, namun wisatawan bisa menikmati suasana kota dengan cara yang lebih santai dan berkesan.
Kebijakan ini diharapkan mampu mengangkat citra Solo sebagai kota budaya yang peduli terhadap warisan transportasi tradisional, sekaligus memberi ruang usaha yang lebih sehat bagi para pengayuh becak. (ves/dam)
Editor : Damianus Bram