Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Mahasiswi UNS yang Terjun dari Jembatan Jurug Ternyata Pernah Jadi Pasien Rumah Sakit Jiwa

Damianus Bram • Rabu, 2 Juli 2025 | 19:01 WIB
Surat wasiat mahasiswi UNS yang lompat di jembatan Jurug.
Surat wasiat mahasiswi UNS yang lompat di jembatan Jurug.

SOLOBALAPAN.COM – Kasus tragis yang menimpa Devita Sari Anugraheni, mahasiswi Universitas Sebelas Maret (UNS) yang diduga nekat mengakhiri hidup dengan melompat dari Jembatan Jurug, Kota Solo, terus menyita perhatian publik.

Hingga hari ini, Rabu (2/7/2025) korban belum juga ditemukan.

Pihak kampus akhirnya buka suara mengenai kondisi kejiwaan Devita sebelum insiden terjadi.

Dalam rilis resmi tertanggal 1 Juli 2025, UNS menyatakan bahwa Devita merupakan klien Subdirektorat Layanan Konseling Mahasiswa UNS sejak Januari 2025.

“Peristiwa ini tidak berkaitan dengan proses pembelajaran di kampus, melainkan murni akibat kondisi gangguan kejiwaan yang dialami,” ujar Agus Riwanto, Sekretaris UNS.

Pernah Coba Bunuh Diri Sejak 2023 dan Jalani Perawatan di RSJ

Devita, yang tercatat sebagai mahasiswi semester 8 Prodi D4 Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), Sekolah Vokasi UNS, disebut telah menyampaikan secara terbuka kepada kampus bahwa ia memiliki riwayat gangguan kejiwaan dan beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri sejak tahun 2023.

Dalam catatan layanan konseling, Devita sempat melakukan percobaan bunuh diri dengan overdosis obat, melukai diri sendiri, dan pernah menjadi pasien rumah sakit jiwa.

Ia juga telah direkomendasikan menjalani perawatan psikiater secara berkelanjutan hingga sebelum peristiwa nahas ini terjadi.

Surat Wasiat dan Permintaan Maaf yang Menyentuh

Surat wasiat yang ditemukan di lokasi kejadian turut memperkuat dugaan bahwa Devita tengah berada dalam kondisi mental yang sangat rapuh.

Dalam tulisan tangan tersebut, Devita meminta maaf dan menyebut nama pembimbing akademiknya:

Aku pergi ya, jangan salahkan keluarga atau tempat instansi aku kuliah. Aku hanya bermasalah dengan diriku sendiri... Maaf untuk Bapak Dr. Sumardiyono, S.K.M. karena telah menghianati dan berjanji untuk bertahan... Aku capek, Bu. Maaf aku tak sekuat ibu.”

Dosen Pembimbing: Devita Sempat Berjanji untuk Bertahan

Dosen pembimbing akademik sekaligus Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Sekolah Vokasi, Dr. Sumardiyono, S.K.M., M.Kes., mengaku telah mengetahui kondisi mental Devita dan sempat memberikan motivasi serta dukungan.

“Bapak Dr. Sumardiyono menguatkan mahasiswi bahwa apa yang sudah dicapai hingga saat ini adalah sebuah prestasi yang membanggakan... Mahasiswi yang bersangkutan berjanji untuk melanjutkan hidup dan menghindari keinginan bunuh diri,” demikian isi rilis resmi dari UNS.

Mahasiswi Berprestasi, Sudah Siap Wisuda

Meski tengah berjuang dengan kondisi mentalnya, Devita dikenal sebagai mahasiswa berprestasi.

Ia memiliki IPK 3.8, merupakan penerima beasiswa KIP-K, dan telah menyelesaikan skripsi serta proses revisi. Devita tinggal menunggu proses administrasi wisuda.

Pihak kampus juga mengimbau agar masyarakat tidak berspekulasi atau menyebarkan informasi yang belum terbukti dan turut menghormati privasi keluarga. (dam)

Catatan: Jika Anda atau orang terdekat mengalami gangguan psikologis, segera hubungi layanan kesehatan mental, konseling kampus, atau lembaga profesional untuk mendapatkan pertolongan. Anda tidak sendiri, dan bantuan selalu tersedia.

Editor : Damianus Bram
#gangguan kejiwaan #bunuh diri #akhiri hidup #rumah sakit jiwa #jembatan jurug #mahasiswi uns #rsj #bengawan solo