Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Terungkap! Ini Hubungan Sumardiyono dan Devita Mahasiswi UNS yang Lompat dari Jembatan Jurug, Pantas Saja Disebut di Surat Wasiat

Laila Zakiya • Rabu, 2 Juli 2025 | 18:23 WIB

 

Mahasiswi UNS yang diduga akhiri hidup dengan nekat meloncat dari Jembatan Jurug. (foto kanan) Surat wasiat tinggalan sang mahasiswi.
Mahasiswi UNS yang diduga akhiri hidup dengan nekat meloncat dari Jembatan Jurug. (foto kanan) Surat wasiat tinggalan sang mahasiswi.

SOLOBALAPAN.COM – Nama Dr. Sumardiyono, S.K.M., M.Kes. mendadak menjadi sorotan publik setelah disebut secara langsung dalam surat wasiat yang diduga ditulis oleh Devita SA, mahasiswi Universitas Sebelas Maret (UNS) yang hilang usai melompat dari Jembatan Jurug, Senin siang (1/7/2025).

Devita, yang tercatat sebagai mahasiswa semester akhir Program Studi D4 Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), Sekolah Vokasi UNS, hingga kini masih belum ditemukan.

Proses pencarian intensif masih terus dilakukan oleh tim SAR gabungan dari Basarnas, BPBD, dan relawan di sepanjang aliran Bengawan Solo.

Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 12.00 WIB dan sempat disaksikan langsung oleh pengemudi ojek online bernama Hariadi.

Ia menyebut Devita sempat berdiri di atas besi pembatas jembatan sebelum akhirnya melompat ke sungai.

“Saya sempat berhenti, saya teriak, ‘Mbak, sudah, enggak usah, turun saja!’ Tapi belum sempat saya dekati, dia sudah terjun ke bawah,” tutur Hariadi seperti dikutip dari Radar Solo.

Di lokasi kejadian ditemukan sepeda motor Honda Beat merah putih berpelat AA 3747 CY, tas hitam berisi ponsel, dan sebuah buku catatan kecil. Di dalamnya, terdapat tulisan tangan yang diyakini sebagai surat terakhir Devita.

Isi pesan tersebut menggambarkan kondisi mentalnya yang rapuh, termasuk permohonan maaf kepada Dr. Sumardiyono:

“Aku pergi ya, jangan salahkan keluarga atau tempat instansi aku kuliah. Aku hanya bermasalah dengan diriku sendiri… Maaf untuk Bapak Dr. Sumardiyono, S.Km karena telah menghianati dan berjanji untuk bertahan… Aku capek, Bu. Maaf aku tak sekuat ibu.”

Siapa Dr. Sumardiyono?

Banyak publik bertanya-tanya, siapakah sosok Dr. Sumardiyono yang namanya muncul dalam surat tersebut?

Dari informasi resmi Universitas Sebelas Maret, Dr. Sumardiyono, S.K.M., M.Kes. adalah dosen bidang Public Health di Fakultas Kedokteran UNS, yang juga merupakan pembimbing pertama skripsi Devita.

Ia juga menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan di Sekolah Vokasi UNS.

Dalam siaran pers resmi yang ditandatangani oleh Prof. Dr. Agus Riwanto, S.H., M.H. selaku juru bicara universitas, dijelaskan bahwa Devita adalah mahasiswa aktif penerima beasiswa KIP-K dengan IPK 3,8 dan telah menyelesaikan skripsi.

Bahkan, ia hanya tinggal mengurus administrasi wisuda.

Dr. Sumardiyono mengaku telah mengetahui kondisi mental Devita sejak awal.

Mahasiswi tersebut disebut pernah menyampaikan secara langsung keinginannya untuk mengakhiri hidup pasca sidang skripsi.

Namun, saat itu, sang dosen membesarkan hatinya agar terus berjuang:

“Bapak Dr. Sumardiyono menguatkan mahasiswi bahwa apa yang sudah dicapai hingga saat ini adalah sebuah prestasi yang membanggakan… dengan janji untuk melanjutkan hidup dan menghindari keinginan bunuh diri,” tulis pernyataan resmi kampus.

Menurut keterangan tertulis, Devita telah menjadi klien Subdirektorat Layanan Konseling UNS sejak Januari 2025 dan mendapatkan pendampingan psikologis.

Ia juga diketahui memiliki riwayat percobaan bunuh diri sejak 2023 hingga 2025, termasuk tindakan overdosis dan penggunaan benda tajam.

“Mahasiswi tersebut pernah menjadi pasien Rumah Sakit Jiwa,” demikian isi rilis yang diterbitkan oleh UNS.

Dalam pernyataan itu, pihak kampus menegaskan bahwa peristiwa tragis ini tidak berkaitan dengan tekanan akademik, melainkan gangguan kejiwaan yang telah diketahui sejak lama dan terus didampingi secara profesional.

Pernyataan pihak UNS soal mahasiswi DSA yang lompat di jembatan jurug.
Pernyataan pihak UNS soal mahasiswi DSA yang lompat di jembatan jurug.

Meski namanya muncul dalam surat wasiat, posisi Dr. Sumardiyono bukan sebagai sosok yang disalahkan, melainkan sebagai dosen pembimbing yang sempat menjadi tumpuan semangat terakhir Devita.

Hingga saat ini, proses pencarian masih terus berlangsung dan dukungan moral mengalir dari berbagai pihak.

Jika Anda atau orang terdekat sedang mengalami tekanan psikologis, jangan ragu untuk mencari bantuan dari tenaga profesional, layanan konseling kampus, atau menghubungi layanan kesehatan jiwa yang tersedia. (lz)

Editor : Laila Zakiya
#viral #akhiri hidup #jembatan jurug #mahasiswi uns